Penaklukan Persia (4)

Perang Irak: Kabilah Nasrani Perkuat Pasukan Muslimin

loading...
Perang Irak: Kabilah Nasrani Perkuat Pasukan Muslimin
Ilustrasi/Ist
MUSANNA bin Harisah menjadi tokoh penting penyelamat pasukan muslimin pada Perang Jembatan. Tentang tokoh ini, Qais bin Asim al-Minqari mengatakan, "Dia bukan orang yang tidak dikenal, asal usulnya diketahui, juga bukan orang yang hina. Dia Musanna bin Harisah asy-Syaibani."

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Umar bin Khattab" menjelaskan pada masa Khalifah Abu Bakar, ia pernah memegang peranan besar di Irak. Kala itu kondisi Irak tidak kurang rumit dan gawatnya dari peranannya pascaperang Jembatan yang tragis itu. (Baca juga: Tragedi Perang Jembatan dan Sikap Umar bin Khattab yang Lembut)

Ketika pertama kali ia datang dari Bahrain ke Delta Mesopotamia keadaan memang sudah seperti itu, yaitu sebelum Abu Bakar mengirimkan bala bantuan dengan Khalid bin Walid. Posisinya itu makin genting tatkala Khalid harus meninggalkan Irak pergi ke Syam untuk memberi pelajaran kepada Romawi agar melupakan bisikan setan. (Baca juga: Tragedi Perang Jembatan: Langgar Pesan Umar Bin Khattab, Pasukan Muslim Berguguran)

Itulah wataknya. Laki-laki yang tidak mudah menyerah. Dia laki-laki yang kuat yang mau menghadapi masa depan untuk membimbing jaiannya sejarah. Akan diatasinya bencana itu sesuai dengan apa yang diketahuinya sebagai seorang jenderal yang teliti, tekun dan berpengalaman.

Begitulah Musanna, ia berdiri tegak, kukuh dan tabah. Dia menghadapi masa-masa hitam akibat Perang Jembatan yang hampir mengikis habis kekuasaan Muslimin di Irak. (Baca juga: Perang Irak di Era Khalifah Umar bin Khattab, Jalankan Wasiat Abu Bakar)



Tidak cukup hanya dengan mengutus orang meminta bala bantuan kepada Khalifah Umar bin Khattab, karena kedatangan pasukan dari Madinah akan memakan waktu lama.

Kaum Nasrani
Ia juga meminta bantuan kabilah-kabilah Arab di Irak sehingga jumlahnya menjadi besar. Di antara kabilah-kabilah itu terdapat di antaranya kaum Nasrani Banu Namr, yang pernah berkata: "Kami akan bertempur bersama golongan kami." (Baca juga: Ini Alasan Mengapa Umar bin Khattab Tak Biarkan Agama Lain Tumbuh di Jazirah Arab)

Markas pasukan muslim lalu dipindah dari Ullais ke Marj as-Sibakh — yang terletak di antara Kadisiah dengan Khaffan. Pemindahan ini dilakukan supaya berdekatan dengan perbatasan orang-orang Arab.

Di situ mereka bisa berlindung kepada warga Arab jika dikalahkan oleh Persia, dan akan memberi bala bantuan baru jika Persia yang dikalahkan.



Perlu sekali mendapat bala bantuan untuk melanjutkan keberhasilannya. Di markasnya di Marj Sibakh sudah berkumpul sejumlah besar tentara. Musanna sudah merasa tenang. la tinggal di tengah-tengah mereka sambil menantikan keputusan Allah, apa yang akan terjadi terhadap Persia dan terhadap dirinya. (Baca juga: Spekulasi Mengapa Umar bin Khattab Habisi Karir Militer Khalid bin Walid)

Banu Bajilah
Sesudah Perang Jembatan itu Umar bin Khattab tak kurang gelisahnya dari Musanna memikirkan keadaan Muslimin di Irak. Khalifah tidak lupa bahwa Musanna memang sangat memerlukan bala bantuan secepatnya untuk menghadapi situasi yang sungguh genting itu. Dalam pada itu orang-orang Arab sudah berdatangan ke Madinah dari segenap penjuru Semenanjung Arab, memenuhi seruan Khalifah sejak dicabutnya ancaman bagi kaum murtad yang telah memperlihatkan tobatnya. (Baca juga: Tak Mudah bagi Umar bin Khattab untuk Jalankan Wasiat Khalifah Abu Bakar)

Oleh Khalifah Umar, mereka akan dimobilisasi ke Irak. Hanya saja mereka masih mau saling menghindar dan agak segan-segan. Mereka lebih memperlihatkan keinginan tampil ke Syam dan ikut berperang di sana. Tetapi di Syam, Khalid bin Walid sudah mendapat kemenangan menghadapi pihak Romawi yang dipergokinya di Yarmuk. la tidak memerlukan bala bantuan. Oleh karena itu Umar tidak ingin mengirimkan mereka ke Syam, dan tak ada pula orang yang berminat tampil ke Irak. (Baca juga: Sulit Menyakinkan Umat Islam, Begini Pengakuan Umar bin Khattab)

Haekal menyebutkan, tatkala masa Khalifah Abu Bakar, Jarir bin Abdullah al-Bajili datang menemui khalifah. Disebutnya perjanjian yang diadakannya dengan Rasulullah untuk mengumpulkan kabilah Bajilah yang terpencar-pencar di beberapa kalilah.
halaman ke-1 dari 3
cover top ayah
وَقُلْ لِّـلۡمُؤۡمِنٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ اَبۡصَارِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوۡجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَا‌ وَلۡيَـضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوۡبِهِنَّ‌ۖ وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اٰبَآٮِٕهِنَّ اَوۡ اٰبَآءِ بُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اَبۡنَآٮِٕهِنَّ اَوۡ اَبۡنَآءِ بُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اِخۡوَانِهِنَّ اَوۡ بَنِىۡۤ اِخۡوَانِهِنَّ اَوۡ بَنِىۡۤ اَخَوٰتِهِنَّ اَوۡ نِسَآٮِٕهِنَّ اَوۡ مَا مَلَـكَتۡ اَيۡمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيۡنَ غَيۡرِ اُولِى الۡاِرۡبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفۡلِ الَّذِيۡنَ لَمۡ يَظۡهَرُوۡا عَلٰى عَوۡرٰتِ النِّسَآءِ‌ۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِاَرۡجُلِهِنَّ لِيُـعۡلَمَ مَا يُخۡفِيۡنَ مِنۡ زِيۡنَتِهِنَّ‌ ؕ وَتُوۡبُوۡۤا اِلَى اللّٰهِ جَمِيۡعًا اَيُّهَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ
Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.

(QS. An-Nur:31)
cover bottom ayah
preload video