Kesalahan Fatal Kaisar Persia Memberi Hadiah Tanah Kepada Delegasi Muslim
Kamis, 15 Oktober 2020 - 06:22 WIB
loading...
A
A
A
Rustum sudah sampai di Hirah, yang ketika itu sudah mengadakan perjanjian damai dengan pasukan Muslimin. la memanggil pemuka-pemuka kota itu dan menyalahkan perbuatan mereka. Mereka diancam dan hampir saja menjadi sasaran pembalasan dendamnya. Salah seorang pemuka mereka yang lebih bijak berkata kepadanya: Kalian jangan mengambil keputusan untuk tidak membantu kami, dan menyalahkan kami karena kami tidak membela diri. (Baca juga: Umar bin Khattab: "Akan Kuhantam Raja-Raja Persia itu dengan Raja-Raja Arab" )
Rustum sudah melewati Hirah menuju Najaf, dan Jalinus ke Sailahin. Ketika di Najaf itulah ia mengetahui bahwa pasukan berkuda Muslimin menyerang kawasan Furat dan Tigris. Maka ia pun mengirimkan angkatan bersenjatanya untuk memerangi mereka. Pihak penyerang pun sudah pula mengetahui berita tentang angkatan bersenjata ini.
Amr bin Ma'di Karib menarik mundur pasukannya, kecuali Tulaihah bin Khuwailid al-Asadi, ia tidak mau kembali bersama mereka. Ketika melihat penolakan itu salah seorang anggota pasukannya berkata: "Dalam dirimu sendiri sudah ada pengkhianatan. Sesudah Ukkasyah bin Mihsan terbunuh Anda tak akan berhasil."
la mengacu pada anak buah Tulaihah ketika orang ini dulu mendakwakan dirinya nabi dan memerangi Khalid bin Walid dalam Perang Buzakhah. (Baca juga: Ini Dia, Nabi Palsu yang Ditinggalkan Pengikutnya Saat Perang Berkecamuk )
Sungguhpun begitu Tulaihah tetap bersikeras menolak mundur. la meneruskan perjuangannya sampai masuk ke dalam markas Rustum dengan sembunyi-sembunyi dan membunuh dua orang anggota pasukan berkudanya dan membawa kedua kuda orang-orang itu. Sesudah itu ia pergi memacu kudanya. Sekelompok perwira anak buah Rustum mengejarnya. Ketika sudah mendekati markasnya ia dapat membunuh dua orang di antara mereka dan yang seorang lagi ditawan.
Sampai di situ mereka yang mengejarnya kembali. Dengan membawa tawanannya itu ia masuk menemui Sa’ad. Ketika oleh Sa’ad ditanya mengenai perbuatan
Tulaihah berkata: "Saya sudah terjun ke dalam peperangan sejak saya masih anak-anak. Saya sudah mendengar cerita tentang para pahlawan, tetapi saya belum mendengar yang seperti ini: orang ini menempuh perjalanan sejauh dua farsakh ke sebuah markas yang dihuni oleh 70.000 anggota pasukan. Dia tidak mau keluar sebelum merampas beberapa kuda tentara dan memorakporandakan tenda-tenda besar. Setelah kami berhasil menyusulnya, orang pertama yang sama dengan seribu kesatria, dibunuhnya; kemudian orang yang kedua, sama dengan yang pertama. Setelah itu saya menyusulnya dan saya menunjuk pengganti saya untuk mengimbangi saya. Saya yang akan menuntut balas atas kematian dua orang itu. Saya sudah melihat maut tetapi sekarang saya menjadi tawanan." (Baca juga: Sang Pembebas Irak Itu Bernama Musanna Bin Harisah )
Ramalan Rustum
Rustum meneruskan perjalanannya hingga sampai ke Kadisiah sesudah menghabiskan waktu empat bulan sejak ia meninggalkan Mada'in untuk berperang menghadapi musuh. Tetapi dengan perlahan-lahan dan berlambat-lambat demikian, menurut perkiraannya, pihak Arab akan menjadi lemah kalau mereka tidak mendapat bahan makanan yang cukup, atau mereka akan menjadi bosan sendiri tinggal
terlalu lama, dan akan kembali pulang. Juga berlambat-lambat begitu untuk menghindari pertemuannya dengan Sa’ad, mengingat ramalan buruk yang sudah diisyaratkan oleh pernujuman mengenai nasib Persia. (Baca juga: Kisah Budak Taglabi yang Berhasil Membunuh Panglima Perang Persia )
Seperti yang sudah kita lihat, dia lebih suka tinggal di Mada'in dan akan mengadakan mobilisasi untuk memerangi pihak Arab, pasukan demi pasukan, sampai barisan mereka berantakan dan semangat mereka menjadi surut. Tetapi Yazdigird menolak pendapatnya itu dan memerintahkannya ia sendiri yang harus berangkat. Itulah sebabnya ia berlambat-lambat sampai memakan waktu empat bulan dalam perjalanan yang sebenarnya dapat ditempuh dalam beberapa hari saja. (Bersambung)
Rustum sudah melewati Hirah menuju Najaf, dan Jalinus ke Sailahin. Ketika di Najaf itulah ia mengetahui bahwa pasukan berkuda Muslimin menyerang kawasan Furat dan Tigris. Maka ia pun mengirimkan angkatan bersenjatanya untuk memerangi mereka. Pihak penyerang pun sudah pula mengetahui berita tentang angkatan bersenjata ini.
Amr bin Ma'di Karib menarik mundur pasukannya, kecuali Tulaihah bin Khuwailid al-Asadi, ia tidak mau kembali bersama mereka. Ketika melihat penolakan itu salah seorang anggota pasukannya berkata: "Dalam dirimu sendiri sudah ada pengkhianatan. Sesudah Ukkasyah bin Mihsan terbunuh Anda tak akan berhasil."
la mengacu pada anak buah Tulaihah ketika orang ini dulu mendakwakan dirinya nabi dan memerangi Khalid bin Walid dalam Perang Buzakhah. (Baca juga: Ini Dia, Nabi Palsu yang Ditinggalkan Pengikutnya Saat Perang Berkecamuk )
Sungguhpun begitu Tulaihah tetap bersikeras menolak mundur. la meneruskan perjuangannya sampai masuk ke dalam markas Rustum dengan sembunyi-sembunyi dan membunuh dua orang anggota pasukan berkudanya dan membawa kedua kuda orang-orang itu. Sesudah itu ia pergi memacu kudanya. Sekelompok perwira anak buah Rustum mengejarnya. Ketika sudah mendekati markasnya ia dapat membunuh dua orang di antara mereka dan yang seorang lagi ditawan.
Sampai di situ mereka yang mengejarnya kembali. Dengan membawa tawanannya itu ia masuk menemui Sa’ad. Ketika oleh Sa’ad ditanya mengenai perbuatan
Tulaihah berkata: "Saya sudah terjun ke dalam peperangan sejak saya masih anak-anak. Saya sudah mendengar cerita tentang para pahlawan, tetapi saya belum mendengar yang seperti ini: orang ini menempuh perjalanan sejauh dua farsakh ke sebuah markas yang dihuni oleh 70.000 anggota pasukan. Dia tidak mau keluar sebelum merampas beberapa kuda tentara dan memorakporandakan tenda-tenda besar. Setelah kami berhasil menyusulnya, orang pertama yang sama dengan seribu kesatria, dibunuhnya; kemudian orang yang kedua, sama dengan yang pertama. Setelah itu saya menyusulnya dan saya menunjuk pengganti saya untuk mengimbangi saya. Saya yang akan menuntut balas atas kematian dua orang itu. Saya sudah melihat maut tetapi sekarang saya menjadi tawanan." (Baca juga: Sang Pembebas Irak Itu Bernama Musanna Bin Harisah )
Ramalan Rustum
Rustum meneruskan perjalanannya hingga sampai ke Kadisiah sesudah menghabiskan waktu empat bulan sejak ia meninggalkan Mada'in untuk berperang menghadapi musuh. Tetapi dengan perlahan-lahan dan berlambat-lambat demikian, menurut perkiraannya, pihak Arab akan menjadi lemah kalau mereka tidak mendapat bahan makanan yang cukup, atau mereka akan menjadi bosan sendiri tinggal
terlalu lama, dan akan kembali pulang. Juga berlambat-lambat begitu untuk menghindari pertemuannya dengan Sa’ad, mengingat ramalan buruk yang sudah diisyaratkan oleh pernujuman mengenai nasib Persia. (Baca juga: Kisah Budak Taglabi yang Berhasil Membunuh Panglima Perang Persia )
Seperti yang sudah kita lihat, dia lebih suka tinggal di Mada'in dan akan mengadakan mobilisasi untuk memerangi pihak Arab, pasukan demi pasukan, sampai barisan mereka berantakan dan semangat mereka menjadi surut. Tetapi Yazdigird menolak pendapatnya itu dan memerintahkannya ia sendiri yang harus berangkat. Itulah sebabnya ia berlambat-lambat sampai memakan waktu empat bulan dalam perjalanan yang sebenarnya dapat ditempuh dalam beberapa hari saja. (Bersambung)
(mhy)
Lihat Juga :