Sejarah Perjalanan Ilmu Hadis (Bagian 1)

loading...
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadis (Bagian 1)
Ulama besar Imam Syafii (kanan) berdialog dengan Imam Ahmad Bin Hanbali ketika bertemu di majelis ilmu di masanya. Foto ilustrasi/Tangkapan Layar Film Ahmad bin Hanbal
Dalam sejarah perjalanan ilmu Hadis ada hal yang harus diketahui terutama makna Muhaddits dan Faqih. Meskipun sebenarnya hal itu bukanlah hal baru, namun dari namanya sudah beda.

Menurut Ustaz Hanif Luthfi Lc MA (pengajar di Rumah Fiqih Indonesia) yang dilansir dari rumahfiqih menjelaskan bahwa muhaddits adalah ulama yang intens dalam membahas hadits. Sedangkan faqih adalah ulama yang intens membahas fiqih. [Baca Juga: Biografi Imam Syafi'i, Imam Mazhab yang Nasabnya Tersambung dengan Rasulullah (1)]

Perbedaan itu akan menjadi harmoni jika keduanya bekerja sama dengan apik, dan itulah yang terjadi pada ulama-ulama Islam terdahulu. Sebut saja Imam Abu Hanifah (wafat 150 H), seorang faqih dan Al-A'masy (wafat 148 H), seorang ahli hadits.

Hal itu sebagaimana diceritakan oleh al-Khatib al-Baghdadi (wafat 463 H) dalam Kitabnya Nashihatu Ahli al-Hadits. Suatu ketika Al-A'masy duduk bersama Imam Abu Hanifah (wafat 150 H) datanglah seorang laki-laki bertanya sesuatu hukum kepada al-A'masy.



Al-'Amasy berkata: "Wahai Nu'man (Imam Abu Hanifah), jawablah pertanyaan itu! Akhirnya Imam Abu Hanifah menjawab pertanyaan itu dengan baik. Al-A'masy kaget dan bertanya, dari mana kamu dapat jawaban itu wahai Abu Hanifah?

Imam Abu Hanifah menjawab: "Dari hadits yang engkau bacakan kepada kami."

Kemudian Al-A'masy menimpali:



نعم نحن صيادلة وأنتم أطباء
halaman ke-1 dari 3
cover top ayah
وَاسۡتَعِيۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَالصَّلٰوةِ ‌ؕ وَاِنَّهَا لَكَبِيۡرَةٌ اِلَّا عَلَى الۡخٰشِعِيۡنَۙ
Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,

(QS. Al-Baqarah:45)
cover bottom ayah
preload video