Benda Mati Punya Perasaan, Mereka pun Ikut Bertasbih dan Beribadah
Sabtu, 24 Oktober 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Prostitusi di Masa Nabi Muhammad dan Asbabun Nuzul Surat An-Nur Ayat 33
Kemudian diberikan kembali kepada Rasulullah SAW dan bertasbih lagi di telapak tangannya. Kemudian diberikan kepada Umar Radhiyallahu anhu, lalu bertasbih di telapak tangannya, semua yang berada di halaqah mendengar tasbihnya.
Kemudian diberikan kepada Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu, lalu bertasbih di tangannya. Kemudian diberikan kepada kami, tetapi batu tersebut tidak bertasbih ketika berada di tangan salah seorang dari kami. [HR Thabrâni dalam al-Ausâth No: 1244, al-Bazzar no: 4040, al-Haitsami berkata: “Hadits ini sanadnya shahîh” . Majma’ul Zawâid 5/328, dan dishahîhkan oleh al-Albâni dalam takhrij kitab “As-Sunnah” nomor: 1146].
Ibnu Katsîr rahimahullah membandingkan antara mukjizat ini dengan mukjizat Nabi Dawud Alaihissallam, dia berkata: ”Tidak diragukan lagi bahwa kejadian bertasbihnya batu kerikil yang keras yang tidak mempunyai rongga di dalamnya lebih mengherankan dari pada gunung-gunung; karena di dalamnya (gunung-gunung) terdapat rongga dan gua-gua, maka gunung-gunung yang seperti itu bentuknya, biasanya akan menggemakan suara yang tinggi, akan tetapi bukan bertasbih.
Baca juga: Tak Sedikit Umat Islam yang Mengingkari Mukjizat Rasulullah (1)
Maka sesungguhnya hal tersebut (tasbih yang berulang-ulang) merupakan mukjizat Nabi Dawud Alaihissallam. Namun bertasbihnya batu kerikil di telapak tangan Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, dan Utsman g itu lebih menakjubkan lagi. [Al-Bidâyah Wa Nihâyah: 6/286])
Sesungguhnya di antara mukjizat yang agung, adalah berbicaranya benda-benda mati di kedua telapak tangan Nabi SAW, padahal benda-benda mati tersebut tidaklah berakal dan bisa berbicara; maka berbicaranya itu merupakan perintah Allah Taala untuk membenarkan kenabiannya, dan sebuah bukti keridhaan-Nya kepada Nabi-Nya.
Baca juga: Tak Sedikit Umat Islam yang Mengingkari Mukjizat Rasulullah (2)
Punya Perasaan
Benda mati (jamaadaat) itu memiliki idrok (perasaan) dan yang mengetahuinya adalah Allah. Inilah seperti yang disebutkan dalam ayat,
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 74)
Juga dalam ayat disebutkan,
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
Kemudian diberikan kembali kepada Rasulullah SAW dan bertasbih lagi di telapak tangannya. Kemudian diberikan kepada Umar Radhiyallahu anhu, lalu bertasbih di telapak tangannya, semua yang berada di halaqah mendengar tasbihnya.
Kemudian diberikan kepada Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu, lalu bertasbih di tangannya. Kemudian diberikan kepada kami, tetapi batu tersebut tidak bertasbih ketika berada di tangan salah seorang dari kami. [HR Thabrâni dalam al-Ausâth No: 1244, al-Bazzar no: 4040, al-Haitsami berkata: “Hadits ini sanadnya shahîh” . Majma’ul Zawâid 5/328, dan dishahîhkan oleh al-Albâni dalam takhrij kitab “As-Sunnah” nomor: 1146].
Ibnu Katsîr rahimahullah membandingkan antara mukjizat ini dengan mukjizat Nabi Dawud Alaihissallam, dia berkata: ”Tidak diragukan lagi bahwa kejadian bertasbihnya batu kerikil yang keras yang tidak mempunyai rongga di dalamnya lebih mengherankan dari pada gunung-gunung; karena di dalamnya (gunung-gunung) terdapat rongga dan gua-gua, maka gunung-gunung yang seperti itu bentuknya, biasanya akan menggemakan suara yang tinggi, akan tetapi bukan bertasbih.
Baca juga: Tak Sedikit Umat Islam yang Mengingkari Mukjizat Rasulullah (1)
Maka sesungguhnya hal tersebut (tasbih yang berulang-ulang) merupakan mukjizat Nabi Dawud Alaihissallam. Namun bertasbihnya batu kerikil di telapak tangan Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, dan Utsman g itu lebih menakjubkan lagi. [Al-Bidâyah Wa Nihâyah: 6/286])
Sesungguhnya di antara mukjizat yang agung, adalah berbicaranya benda-benda mati di kedua telapak tangan Nabi SAW, padahal benda-benda mati tersebut tidaklah berakal dan bisa berbicara; maka berbicaranya itu merupakan perintah Allah Taala untuk membenarkan kenabiannya, dan sebuah bukti keridhaan-Nya kepada Nabi-Nya.
Baca juga: Tak Sedikit Umat Islam yang Mengingkari Mukjizat Rasulullah (2)
Punya Perasaan
Benda mati (jamaadaat) itu memiliki idrok (perasaan) dan yang mengetahuinya adalah Allah. Inilah seperti yang disebutkan dalam ayat,
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 74)
Juga dalam ayat disebutkan,
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
Lihat Juga :