Tak Sedikit Umat Islam yang Mengingkari Mukjizat Rasulullah (1)

loading...
Tak Sedikit Umat Islam yang Mengingkari Mukjizat Rasulullah (1)
Ilustrasi/Ist
NABI Muhammad SAW dan mukjizat-mukjizatnya banyak diceritakan dalam kitab-kitab cerita Maulid. Hanya saja, tak sedikit umat Islam yang mengingkari terjadinya peristiwa-peristiwa luar biasa tersebut dan mengingkari pula mukjizat-mukjizat nyata dari Rasulullah SAW. Peristiwa yang diingkari itu misalnya "telur merpati di mulut gua ketika berlangsung hijrah," "pembuatan sarang laba-laba," "kijang yang berbicara kepada beliau," "rintihan batang kurma kepada Nabi" dan lain-lainnya.

Mereka yang mengingkari mukjizat Nabi SAW ini berpendapat bahwa Rasulullah SAW hanya memiliki satu mukjizat yang nyata yaitu Al-Qur'anul Karim, dan beliau adalah mukjizat akliah yang teristimewa dibandingkan dengan mukjizat-mukjizat para Rasul terdahulu. (Baca juga: Imajinasi atau Nyata: Al-Khidir dan Nabi Ilyas AS Masih Hidup?)

Tidak Semua Benar
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dalam Fatawa Qardhawi membenarkan bahwa tidaklah semua mukjizat Rasulullah SAW yang nyata dan tersiar di antara orang-orang merupakan riwayat yang sahih dan benar, dan tidak juga semuanya salah.Kesahihan dan kesalahan dalam masalah-masalah ini ditentukan oleh sanad-sanad.

Syaikh Yusuf Al-Qardhawi mengelompokkan sikap orang dalam masalah mukjizat Nabi Muhammad SAW yang bersifat material, ada tiga macam:



Pertama, orang yang berlebihan dalam membenarkan dan menjadikan sanad dan dalil adalah sesuatu yang tercantum dalam kitab-kitab, apakah itu merupakan kitab ulama periode terdahulu maupun belakangan, yang menyaring riwayat-riwayat atau tidak, yang bersesuaian dengan pokok-pokoknya atau bahkan menyalahinya, dan apakah kitab-kitab itu diterima oleh para ulama peneliti atau tidak. (Baca juga: Kisah Rasulullah SAW Menegur Orang yang Tertawa Terbahak-bahak)

Yang penting hal itu diriwayatkan dalam sebuah kitab, meskipun tidak diketahui pengarangnya, atau disebutkan dalam sebuah kasidah yang berisi pujian terhadap Nabi SAW, atau dalam kisah Maulid yang sebagiannya dibaca di bulan Rabiul Awxval setiap tahun dan sebagainya.

"Ini pemikiran awam yang tidak perlu dibicarakan. Kitab-kitab itu berisi riwayat yang baik dan buruk, benar dan salah, sahih? dan palsu (dibuat-buat)," katanya.

Menurut Syaikh Yusuf Al-Qardhawi, peradaban agama kita telah tercemar oleh para pengarang semacam ini, yang menerima "kisah-kisah khayalan" dan mengisi lembaran kitab-kitab mereka, meskipun menyalahi riwayat yang sahih dan akal sehat. (Baca juga: Baca Shalawat Ini Rezeki Mengucur Deras dan Dicintai Rasulullah SAW)

Sebagian pengarang tidak memperhatikan kebenaran riwayat dari kisah-kisah ini dengan alasan tidak ada hubungannya dengan penetapan hukum syariat, baik mengenai halal atau haram dan sebagainya. Oleh karena itu, apabila meriwayatkan mengenai halal dan haram, mereka bersikap keras dalam menyelidiki sanad-sanad, mengkritik para rawi dan menyaring riwayat-riwayatnya.



Namun, apabila meriwayatkan tentang amalan-amalan utama, At-Targhib wat-Tarhib, misalnya mukjizat dan sebagainya, mereka pun menyepelekan dan bersikap toleran. (Baca juga: UAS Ceritakan Sejarah Kalender Hijriyah dan Kisah Hijrah Nabi yang Menakjubkan)

Menurut Syaikh Yusuf Al-Qardhawi, ada pula pengarang yang menyebut riwayat-riwayat dengan sanad-sanadnya - Fulan dari Fulan dari Fulan - tetapi mereka tidak memperhatikan nilai sanad-sanad ini. Apakah sahih atau tidak? Nilai para rawinya, apakah mereka tsiqat (dapat dipercaya), dapat diterima, lemah tercela, atau pendusta tertolak? Mereka beralasan bahwa apabila mereka menyebut sanadnya, maka mereka telah bebas dari tanggung jawab dan terlepas dari ikatan. (Baca juga: Kisah Persembunyian di Gua Tsur dan Bukti Cinta Abu Bakar)
halaman ke-1 dari 5
cover top ayah
قُلۡ اِنۡ كَانَ لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدٌ ۖ فَاَنَا اَوَّلُ الۡعٰبِدِيۡنَ
Katakanlah (Muhammad), “Jika benar Tuhan Yang Maha Pengasih mempunyai anak, maka akulah orang yang mula-mula memuliakan (anak itu).

(QS. Az-Zukhruf:81)
cover bottom ayah
preload video