Pasukan Muslim Kepung Kota Bahrasir, Ajakan Damai Raja Persia Ditolak
Minggu, 25 Oktober 2020 - 09:30 WIB
loading...
A
A
A
Dalam hal ini para sejarawan berbeda pendapat, antara sembilan atau delapan belas bulan. Selama pengepungan itu berlangsung angkatan bersenjata mereka adakalanya sampai keluar dari batas tembok, menyerang pasukan Muslimin dengan harapan kalau-kalau mereka mengalami kekalahan dan dapat dipukul mundur. Tetapi yang terjadi kebalikannya, dalam menghadapi angkatan bersenjata itu pasukan Muslimin di pihak yang menang dan mereka dapat dipukul mundur kembali ke kota dan berlindung lagi di balik tembok-tembok, dengan membawa malu yang sudah tercoreng di dahi.
Sesudah pengepungan berlangsung cukup lama dan segala yang menimpa pihak pasukan mereka terasa makin berat, satu pasukan dari angkatan bersenjatanya yang paling dapat dipercaya dikirim ke luar. Tetapi pasukan ini pun dipukul mundur dan kembali ke kota. (Baca juga: Detik-Detik Jelang Pecah Perang, Penyakit Sa'ad bin Abi Waqqash Kambuh )
Kekalahan ini mematahkan semangat pasukan Persia dan timbul rasa takut dalam hati mereka bahwa pasukan Muslimin memang tak dapat dikalahkan.
Berita-berita pengepungan dan pertempuran itu setiap hari — bahkan setiap saat — sampai juga kepada Kaisar Persia, Yazdigird. la diliputi rasa kesal, bahkan hampir putus asa. Di samping pengepungan yang sudah terlalu lama, mereka juga melihat pihak Muslimin selama berbulan-bulan bukan makin lemah, malah yang terlihat kekayaan Irak berupa timbunan makanan yang setinggi gunung sudah ada di belakang mereka. Kemudian di pihak pasukan Persia sendiri sudah tampak makin rapuh dan semangat mereka makin menurun.
Diyakininya bahwa tak mustahil Bahrasir akan jatuh ke tangan musuh. Ketika itulah ia mengutus orang kepada Sa’ad menawarkan langkah perdamaian bahwa Tigris akan dijadikan batas pemisah dengan pihak pasukan Muslimin, "Dari batas Tigris ke arah kami milik kami dan dari batas Tigris ke arah kalian milik kalian." (Baca juga: Hadapi Muslim, Persia Kerahkan 120.000 Pasukan dan 33.000 Gajah )
Tetapi Sa’ad menolak ajakan perdamaian Yazdigird itu dan utusannya disuruh kembali pulang. Bagaimana akan mengadakan perdamaian sedang perintah Khalifah Umar sudah jelas sekali untuk membebaskan Mada'in. Bagaimana akan mengajaknya damai sesudah pasukannya dapat mengalahkan Bahrasir dan menawan sebagian pasukannya, dan sekarang mereka sudah siap menyerbu tembok-tembok itu!
Belum lagi utusan itu tiba untuk melapor kepada Yazdigird tentang penolakan itu, Sa’ad bin Abi Waqqas sudah memerintahkan pasukannya mengadakan pengepungan yang lebih ketat dan pelemparan dengan manjanik dilipatgandakan. (Baca juga: Kesalahan Fatal Kaisar Persia Memberi Hadiah Tanah Kepada Delegasi Muslim )
Semua lemparan itu tidak mendapat perlawanan dari pihak Bahrasir. Sa’ad yakin bahwa gamisun sudah dikosongkan. Sa’ad memanggil dan memerintahkan pasukannya menyerbu. Anak buahnya segera memanjati tembok-tembok dan membukai pintu-pintu gerbang, tetapi tak ada perlawanan, juga tak ada orang yang tampak keluar kecuali seorang laki-laki menyerukan keamanan dan dari orang ini kemudian diketahui bahwa garnisun Bahrasir memang sudah dipindahkan ke Mada'in atas perintah Yazdigird, dan bahwa jembatannya sudah dibakar dan mengumpulkan semua kapal yang berlayar di Sungai Tigris, dengan tujuan agar arus sungai yang bergolak itu tetap menjadi garis pertahanan untuk mengusir para penyerang dari ibu kota yang makmur itu. (Bersambung)
Sesudah pengepungan berlangsung cukup lama dan segala yang menimpa pihak pasukan mereka terasa makin berat, satu pasukan dari angkatan bersenjatanya yang paling dapat dipercaya dikirim ke luar. Tetapi pasukan ini pun dipukul mundur dan kembali ke kota. (Baca juga: Detik-Detik Jelang Pecah Perang, Penyakit Sa'ad bin Abi Waqqash Kambuh )
Kekalahan ini mematahkan semangat pasukan Persia dan timbul rasa takut dalam hati mereka bahwa pasukan Muslimin memang tak dapat dikalahkan.
Berita-berita pengepungan dan pertempuran itu setiap hari — bahkan setiap saat — sampai juga kepada Kaisar Persia, Yazdigird. la diliputi rasa kesal, bahkan hampir putus asa. Di samping pengepungan yang sudah terlalu lama, mereka juga melihat pihak Muslimin selama berbulan-bulan bukan makin lemah, malah yang terlihat kekayaan Irak berupa timbunan makanan yang setinggi gunung sudah ada di belakang mereka. Kemudian di pihak pasukan Persia sendiri sudah tampak makin rapuh dan semangat mereka makin menurun.
Diyakininya bahwa tak mustahil Bahrasir akan jatuh ke tangan musuh. Ketika itulah ia mengutus orang kepada Sa’ad menawarkan langkah perdamaian bahwa Tigris akan dijadikan batas pemisah dengan pihak pasukan Muslimin, "Dari batas Tigris ke arah kami milik kami dan dari batas Tigris ke arah kalian milik kalian." (Baca juga: Hadapi Muslim, Persia Kerahkan 120.000 Pasukan dan 33.000 Gajah )
Tetapi Sa’ad menolak ajakan perdamaian Yazdigird itu dan utusannya disuruh kembali pulang. Bagaimana akan mengadakan perdamaian sedang perintah Khalifah Umar sudah jelas sekali untuk membebaskan Mada'in. Bagaimana akan mengajaknya damai sesudah pasukannya dapat mengalahkan Bahrasir dan menawan sebagian pasukannya, dan sekarang mereka sudah siap menyerbu tembok-tembok itu!
Belum lagi utusan itu tiba untuk melapor kepada Yazdigird tentang penolakan itu, Sa’ad bin Abi Waqqas sudah memerintahkan pasukannya mengadakan pengepungan yang lebih ketat dan pelemparan dengan manjanik dilipatgandakan. (Baca juga: Kesalahan Fatal Kaisar Persia Memberi Hadiah Tanah Kepada Delegasi Muslim )
Semua lemparan itu tidak mendapat perlawanan dari pihak Bahrasir. Sa’ad yakin bahwa gamisun sudah dikosongkan. Sa’ad memanggil dan memerintahkan pasukannya menyerbu. Anak buahnya segera memanjati tembok-tembok dan membukai pintu-pintu gerbang, tetapi tak ada perlawanan, juga tak ada orang yang tampak keluar kecuali seorang laki-laki menyerukan keamanan dan dari orang ini kemudian diketahui bahwa garnisun Bahrasir memang sudah dipindahkan ke Mada'in atas perintah Yazdigird, dan bahwa jembatannya sudah dibakar dan mengumpulkan semua kapal yang berlayar di Sungai Tigris, dengan tujuan agar arus sungai yang bergolak itu tetap menjadi garis pertahanan untuk mengusir para penyerang dari ibu kota yang makmur itu. (Bersambung)
(mhy)
Lihat Juga :