Saudah binti Zam'ah : Memiliki Kekuatan Jiwa yang Luar Biasa
Kamis, 29 Oktober 2020 - 13:00 WIB
loading...
A
A
A
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam (diam sesaat) : “Jika dengan seorang janda?”
Khaulah : “Ia adalah Saudah binti Zam’ah, seorang perempuan yang telah beriman kepada Anda dan mengikuti yang anda bawa.”
(Baca juga : Satu-satunya Perempuan yang Pernah Memarahi Baginda Rasulullah )
Beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menginginkan Aisyah (namun saat itu usia Aisyah belum cukup umur), maka terlebih dahulu menikahi Saudah binti Zam’ah yang menjadi satu-satunya isteri beliau (setelah wafatnya Khadijah) selama tiga tahun atau lebih. Setelah itu masuklah Aisyah dalam rumah tangga yang penuh berkah tersebut.
Orang-orang di Makkah merasa heran terhadap pernikahan Nabi dengan Saudah binti Zam’ah. Mereka bertanya-tanya seolah-olah tidak percaya dengan kejadian tersebut, seorang janda yang telah lanjut usia dan tidak begitu cantik menggantikan posisi Sayyidah perempuan Quraisy dan hal itu menarik perhatian bagi para pembesar-pembesar di antara mereka.
Kenyataan membuktikan bahwa sesungguhnya baik Saudah ataupun istri-istri yang lain tidak dapat menggantikan posisi Khadijah, melainkan kasih sayang dan penghibur hati adalah rahmat bagi beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang penuh kasih. Adapun Saudah radhiyallaahu ‘anha mampu menunaikan kewajiban dalam rumah tangga Nubuwwah dan mendatangkan kebahagiaan dan kegembiraan di hati Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
(Baca juga : Abdul Mu’ti: Muslim Indonesia Tidak Ragukan Pancasila )
la merawikan 5 hadis dari Nabi SAW. Di antaranya, ia berkata, “Ada seorang laki-laki yang datang menemui Nabi sembari berkata, “Ayahku telah lanjut usia dan ia sudah tidak mampu menunaikan haji.” Nabi bersabda, “Bukankah seandainya ayahmu punya utang, lalu kamu melunasinya, dan itu akan diterima? ” “Ya”, jawab laki-laki itu. “Allah Maha Pengasih, maka tunaikanlah haji atas nama ayahmu!” kata Nabi.
Pada suatu ketika terjadi peristiwa yang mengguncangkan jiwanya. Yaitu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, suami yang dihormatinya, ingin menceraikan beliau dengan cara yang baik untuk memberikan kebebasan. Nabi merasa bahwa hal itu akan menyakiti hatinya. Maka, tatkala hal tersebut benar-benar diutarakan, seolah-olah itu adalah mimpi buruk yang begitu menyesakkan dadanya, maka Saudah dengan merendahkan diri berkata: “Pertahankanlah aku ya Rasulullah! Demi Allah tiadalah keinginanku diperistri itu karena ketamakan, tetapi hanya berharap agar Allah membangkitkan aku pada hari kiamat dalam keadaan menjadi Istrimu.”
(Baca juga : Sejarah Jakarta, Disebut di Batu Tulis Purnawarman yang Berkembang Menjadi Bandar Besar )
Begitulah Saudah radhiyallaahu ‘anha lebih mendahulukan keridhaan suaminya yang mulia, maka ia berikan giliran kepada Aisyah untuk menjaga hati Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan ia sudah tidak memiliki keinginan sebagaimana layaknya wanita lain.
Maka Rasulullah menerima usulan istrinya yang memiliki perasaan yang halus tersebut, maka turunlah ayat Allah:
“Maka tidak mengapa bagi keduannya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).”(QS An-Nisa’:128).
Khaulah : “Ia adalah Saudah binti Zam’ah, seorang perempuan yang telah beriman kepada Anda dan mengikuti yang anda bawa.”
(Baca juga : Satu-satunya Perempuan yang Pernah Memarahi Baginda Rasulullah )
Beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menginginkan Aisyah (namun saat itu usia Aisyah belum cukup umur), maka terlebih dahulu menikahi Saudah binti Zam’ah yang menjadi satu-satunya isteri beliau (setelah wafatnya Khadijah) selama tiga tahun atau lebih. Setelah itu masuklah Aisyah dalam rumah tangga yang penuh berkah tersebut.
Orang-orang di Makkah merasa heran terhadap pernikahan Nabi dengan Saudah binti Zam’ah. Mereka bertanya-tanya seolah-olah tidak percaya dengan kejadian tersebut, seorang janda yang telah lanjut usia dan tidak begitu cantik menggantikan posisi Sayyidah perempuan Quraisy dan hal itu menarik perhatian bagi para pembesar-pembesar di antara mereka.
Kenyataan membuktikan bahwa sesungguhnya baik Saudah ataupun istri-istri yang lain tidak dapat menggantikan posisi Khadijah, melainkan kasih sayang dan penghibur hati adalah rahmat bagi beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang penuh kasih. Adapun Saudah radhiyallaahu ‘anha mampu menunaikan kewajiban dalam rumah tangga Nubuwwah dan mendatangkan kebahagiaan dan kegembiraan di hati Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
(Baca juga : Abdul Mu’ti: Muslim Indonesia Tidak Ragukan Pancasila )
la merawikan 5 hadis dari Nabi SAW. Di antaranya, ia berkata, “Ada seorang laki-laki yang datang menemui Nabi sembari berkata, “Ayahku telah lanjut usia dan ia sudah tidak mampu menunaikan haji.” Nabi bersabda, “Bukankah seandainya ayahmu punya utang, lalu kamu melunasinya, dan itu akan diterima? ” “Ya”, jawab laki-laki itu. “Allah Maha Pengasih, maka tunaikanlah haji atas nama ayahmu!” kata Nabi.
Pada suatu ketika terjadi peristiwa yang mengguncangkan jiwanya. Yaitu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, suami yang dihormatinya, ingin menceraikan beliau dengan cara yang baik untuk memberikan kebebasan. Nabi merasa bahwa hal itu akan menyakiti hatinya. Maka, tatkala hal tersebut benar-benar diutarakan, seolah-olah itu adalah mimpi buruk yang begitu menyesakkan dadanya, maka Saudah dengan merendahkan diri berkata: “Pertahankanlah aku ya Rasulullah! Demi Allah tiadalah keinginanku diperistri itu karena ketamakan, tetapi hanya berharap agar Allah membangkitkan aku pada hari kiamat dalam keadaan menjadi Istrimu.”
(Baca juga : Sejarah Jakarta, Disebut di Batu Tulis Purnawarman yang Berkembang Menjadi Bandar Besar )
Begitulah Saudah radhiyallaahu ‘anha lebih mendahulukan keridhaan suaminya yang mulia, maka ia berikan giliran kepada Aisyah untuk menjaga hati Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan ia sudah tidak memiliki keinginan sebagaimana layaknya wanita lain.
Maka Rasulullah menerima usulan istrinya yang memiliki perasaan yang halus tersebut, maka turunlah ayat Allah:
“Maka tidak mengapa bagi keduannya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).”(QS An-Nisa’:128).
Lihat Juga :