Resep Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani untuk Capai Tingkatan Wali
Sabtu, 07 November 2020 - 05:00 WIB
loading...
Hadrat Syaikh Abdul Qadir/Foto/Ilustrasi/Ist
A
A
A
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani memberi resep bagaimana mencapai tingkatan laiknya wali. Beliau juga mengungkap mengapa seseorang bisa menjadi wali . Soal ini, pada risalah keenam dalam kitabnya yang berjudul Futuh Al-Ghaib beliau bertutur: "Lenyaplah dari (pandangan) manusia, dengan perintah Allah, dan dari kedirian, dengan perintah-Nya, hingga kau menjadi bahtera ilmu-Nya". (Baca juga: Mengalami Kesulitan Hidup? Begini Nasehat Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani )
Menurutnya, lenyapnya diri dari manusia, ditandai oleh pemutusan diri sepenuhnya dari mereka, dan pembebasan jiwa dari segala harapan mereka.
Tanda lenyapnya diri dari segala nafsu ialah, membuang segala upaya memperoleh sarana-sarana duniawi dan berhubungan dengan mereka demi sesuatu manfaat, menghindarkan kemudharatan; dan tak bergerak demi kepentingan pribadi, dan tak bergantung pada diri sendiri dalam hal-hal yang berkenaan dengan dirimu, tak melindungi atau membantu diri, tetapi memasrahkan semuanya hanya kepada Allah, karena Ia pemilik segalanya sejak awal hingga akhirnya; sebagaimana kuasaNya, ketika kau masih disusui. (Baca juga: Kisah Terompah Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani yang Bikin Perampok Mati Ketakutan )
Hilangnya kemauanmu dengan kehendakNya, ujar Syaikh Abdul Qadir, ditandai dengan ketak-pernahan menentukan diri, ketakbertujuan, ketakbutuhan, karena tak satu tujuan pun termiliki, kecuali satu, yaitu Allah.
"Maka, kehendak Allah mewujud dalam dirimu, sehingga kala kehendakNya beraksi, maka pasiflah organ-organ tubuh, hati pun tenang, pikiran pun cerah, berserilah wajah dan rohanimu, dan kau atasi kebutuhan-kebutuhan bendawi berkat berhubungan dengan Pencipta segalanya," tuturnya..
"Tangan Kekuasaan senantiasa menggerakkanmu. Lidah Keabadian selalu menyeru namamu. Tuhan Semesta alam mengajarmu, dan membusanaimu dengan nurNya dan busana rohani, dan mendapatkanmu sejajar dengan para ahli hikmah yang telah mendahuluimu," lanjutnya. (Baca juga: Selain Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, Imam Al-Ghazali Juga Kena Rampok )
Sesudah ini, katanya lagi, kau selalu berhasil menaklukkan diri, hingga tiada lagi pada dirimu kedirian. Bagai sebuah bejana yang hancur lebur, yang bersih dari air, atau larutan. Dan kau terjauhkan dari segala gerak manusiawi, hingga rohanimu menolak segala sesuatu, kecuali kehendak Allah.
Pada maqam ini, keajaiban dan adialami akan ternisbahkan kepadamu. Hal-hal ini tampak seolah-olah darimu, padahal sebenarnya dari Allah.
Maka kau diakui sebagai orang yang hatinya telah tertundukkan, dan kediriannya telah musnah, maka kau diilhami oleh kehendak Ilahi dan dambaan-dambaan baru dalam kemaujudan sehari-hari.
Mengenai maqam ini, Nabi Suci SAW , telah bersabda: “Tiga hal yang kusenangi dari dunia – wewangian, wanita dan salat – yang pada mereka tersejukkan mataku.”
Sungguh, hal-hal dinisbahkan kepadanya, setelah hal-hal itu sirna darinya, sebagaimana telah kami isyaratkan. Allah berfirman: “Aku bersama orang-orang yang patah hati demi Aku.”
Menurutnya, lenyapnya diri dari manusia, ditandai oleh pemutusan diri sepenuhnya dari mereka, dan pembebasan jiwa dari segala harapan mereka.
Tanda lenyapnya diri dari segala nafsu ialah, membuang segala upaya memperoleh sarana-sarana duniawi dan berhubungan dengan mereka demi sesuatu manfaat, menghindarkan kemudharatan; dan tak bergerak demi kepentingan pribadi, dan tak bergantung pada diri sendiri dalam hal-hal yang berkenaan dengan dirimu, tak melindungi atau membantu diri, tetapi memasrahkan semuanya hanya kepada Allah, karena Ia pemilik segalanya sejak awal hingga akhirnya; sebagaimana kuasaNya, ketika kau masih disusui. (Baca juga: Kisah Terompah Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani yang Bikin Perampok Mati Ketakutan )
Hilangnya kemauanmu dengan kehendakNya, ujar Syaikh Abdul Qadir, ditandai dengan ketak-pernahan menentukan diri, ketakbertujuan, ketakbutuhan, karena tak satu tujuan pun termiliki, kecuali satu, yaitu Allah.
"Maka, kehendak Allah mewujud dalam dirimu, sehingga kala kehendakNya beraksi, maka pasiflah organ-organ tubuh, hati pun tenang, pikiran pun cerah, berserilah wajah dan rohanimu, dan kau atasi kebutuhan-kebutuhan bendawi berkat berhubungan dengan Pencipta segalanya," tuturnya..
"Tangan Kekuasaan senantiasa menggerakkanmu. Lidah Keabadian selalu menyeru namamu. Tuhan Semesta alam mengajarmu, dan membusanaimu dengan nurNya dan busana rohani, dan mendapatkanmu sejajar dengan para ahli hikmah yang telah mendahuluimu," lanjutnya. (Baca juga: Selain Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, Imam Al-Ghazali Juga Kena Rampok )
Sesudah ini, katanya lagi, kau selalu berhasil menaklukkan diri, hingga tiada lagi pada dirimu kedirian. Bagai sebuah bejana yang hancur lebur, yang bersih dari air, atau larutan. Dan kau terjauhkan dari segala gerak manusiawi, hingga rohanimu menolak segala sesuatu, kecuali kehendak Allah.
Pada maqam ini, keajaiban dan adialami akan ternisbahkan kepadamu. Hal-hal ini tampak seolah-olah darimu, padahal sebenarnya dari Allah.
Maka kau diakui sebagai orang yang hatinya telah tertundukkan, dan kediriannya telah musnah, maka kau diilhami oleh kehendak Ilahi dan dambaan-dambaan baru dalam kemaujudan sehari-hari.
Mengenai maqam ini, Nabi Suci SAW , telah bersabda: “Tiga hal yang kusenangi dari dunia – wewangian, wanita dan salat – yang pada mereka tersejukkan mataku.”
Sungguh, hal-hal dinisbahkan kepadanya, setelah hal-hal itu sirna darinya, sebagaimana telah kami isyaratkan. Allah berfirman: “Aku bersama orang-orang yang patah hati demi Aku.”
Lihat Juga :