Benarkan Ramadhan 30 Hari Hanya Sekali di Zaman Rasulullah?
Sabtu, 09 Mei 2020 - 16:56 WIB
loading...
A
A
A
Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS At-Taubah 37)
Menurut Djamaluddin, pada ayat ini mengecam praktik Annasiy, yaitu mengulur atau menambah bulan yang hanya akan menambah kekafiran, pengingkaran kepada Allah. Bulan suci yang telah disepakati bersama (Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Muharam) bisa tergeser karenanya. Sesudah Dzulhijjah ada bulan ketiga belas sehingga menggeser bulan Muharram. (Baca juga: Wabah Covis-19 di Saat Bulan Haram, Siklus Semesta Alam? )
Penambahan bulan itu untuk menyesuaikan dengan musim, tetapi dilakukan sepihak sehingga bisa mengacaukan kesepakatan yang telah ada. Dalam praktiknya, annasiy bisa dilakukan dengan menambah satu bulan tambahan setiap tiga tahun untuk menggenapkan selisih tahunan yang 11 hari itu. (Baca juga: Pelajaran di Balik Terjadinya Wabah Virus Corona )
Ramadan Zaman Rasul
Menurut Sayyid Sabiq, ayat tentang shaum Ramadhan turun pada hari Kamis tanggal 28 Sya’ban tahun ke-2 H. (Lihat, Fiqh Sunah, I : 366).
Menurut Adel A Al-Rumaih, bertepatan dengan tanggal 23 Pebruari 624 M, sedangkan 1 Ramadhan tahun itu jatuh pada hari Ahad, 26 Februari 624. Sedangkan 1 Syawwal tahun itu jatuh pada hari Senin, 26 Maret 624. (Lihat, Hijri-Gregorian Converter).
Itu bermakna bahwa Rasulullah SAW sempat melaksanakannya sebanyak 9 kali puasa dan Idul Fitri sebelum beliau wafat pada 12 Rabiul awal 11 H.
Menurut atsar Ibnu Mas'ud dan Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah SAW semasa hidupnya lebih banyak berpuasa Ramadan 29 hari daripada 30 hari.
Lalu muncullah pendapat bahwa Rasulullah SAW berpuasa selama sembilan kali Ramadhan. Perinciannya, delapan kali puasa selama 29 hari dan satu kali berpuasa selama 30 hari. Dalam sistem kalender qomariyah, penentuan jumlah hari dalam setiap bulannya dapat berkisar 29 atau genap 30 hari.
Puasa Ramadan pada zaman Rasulullah SAW ini menarik untuk dibuktikan dengan hisab astronomi. "Saya telah menghisab posisi hilal awal Ramadhan dan Syawal semasa Rasulullah SAW hidup dari 2 H - 10 H. Analisis astronomi tersebut memang menunjukkan selama sembilan tahun itu enam kali Ramadan panjangnya 29 hari, hanya tiga kali yang 30 hari," tutur Djamaluddin. Hasil hisab Djamaluddin ini berbeda dengan yang dipahami banyak orang selama ini.
Dari analisisi itu, menurutnya, juga diketahui bahwa pada zaman Nabi puasa dilakukan pada musim semi dan musim dingin dengan waktu puasa mulai sekitar pukul 4 sampai sekitar 17:30 pada musim semi dan mulai sekitar pukul 4:30 sampai sekitar 16:40 pada musim dingin.
Puasa pertama berawal pada Ahad 26 Februari 624 dan idul Fitri jatuh pada Senin 26 Maret 624. Berarti lama puasa 29 hari. Perang Badar yang terjadi saat itu pada 17 Ramadan 2 H (13 Maret 624) jatuhnya pada hari Selasa. "Perhitungan ini berbeda dengan riwayat yang menyatakan bahwa perang Badar terjadi malam Jum'at," jelasnya.
Salah satu Idul Fitri pada zaman Nabi terjadi pada hari Jumat, yaitu 1 Syawal 3 H yang bertepatan dengan 15 Maret 625. Inilah satu-satunya Idul Fitri yang jatuh pada hari Jum'at semasa Rasulullah SAW hidup. "Mungkin inilah kejadian yang berkaitan dengan hadis yang membolehkan meninggalkan salat Jum'at bila pagi harinya telah mengikuti salat hari raya," tuturnya.
Menurut Djamaluddin, pada ayat ini mengecam praktik Annasiy, yaitu mengulur atau menambah bulan yang hanya akan menambah kekafiran, pengingkaran kepada Allah. Bulan suci yang telah disepakati bersama (Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Muharam) bisa tergeser karenanya. Sesudah Dzulhijjah ada bulan ketiga belas sehingga menggeser bulan Muharram. (Baca juga: Wabah Covis-19 di Saat Bulan Haram, Siklus Semesta Alam? )
Penambahan bulan itu untuk menyesuaikan dengan musim, tetapi dilakukan sepihak sehingga bisa mengacaukan kesepakatan yang telah ada. Dalam praktiknya, annasiy bisa dilakukan dengan menambah satu bulan tambahan setiap tiga tahun untuk menggenapkan selisih tahunan yang 11 hari itu. (Baca juga: Pelajaran di Balik Terjadinya Wabah Virus Corona )
Ramadan Zaman Rasul
Menurut Sayyid Sabiq, ayat tentang shaum Ramadhan turun pada hari Kamis tanggal 28 Sya’ban tahun ke-2 H. (Lihat, Fiqh Sunah, I : 366).
Menurut Adel A Al-Rumaih, bertepatan dengan tanggal 23 Pebruari 624 M, sedangkan 1 Ramadhan tahun itu jatuh pada hari Ahad, 26 Februari 624. Sedangkan 1 Syawwal tahun itu jatuh pada hari Senin, 26 Maret 624. (Lihat, Hijri-Gregorian Converter).
Itu bermakna bahwa Rasulullah SAW sempat melaksanakannya sebanyak 9 kali puasa dan Idul Fitri sebelum beliau wafat pada 12 Rabiul awal 11 H.
Menurut atsar Ibnu Mas'ud dan Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah SAW semasa hidupnya lebih banyak berpuasa Ramadan 29 hari daripada 30 hari.
Lalu muncullah pendapat bahwa Rasulullah SAW berpuasa selama sembilan kali Ramadhan. Perinciannya, delapan kali puasa selama 29 hari dan satu kali berpuasa selama 30 hari. Dalam sistem kalender qomariyah, penentuan jumlah hari dalam setiap bulannya dapat berkisar 29 atau genap 30 hari.
Puasa Ramadan pada zaman Rasulullah SAW ini menarik untuk dibuktikan dengan hisab astronomi. "Saya telah menghisab posisi hilal awal Ramadhan dan Syawal semasa Rasulullah SAW hidup dari 2 H - 10 H. Analisis astronomi tersebut memang menunjukkan selama sembilan tahun itu enam kali Ramadan panjangnya 29 hari, hanya tiga kali yang 30 hari," tutur Djamaluddin. Hasil hisab Djamaluddin ini berbeda dengan yang dipahami banyak orang selama ini.
Dari analisisi itu, menurutnya, juga diketahui bahwa pada zaman Nabi puasa dilakukan pada musim semi dan musim dingin dengan waktu puasa mulai sekitar pukul 4 sampai sekitar 17:30 pada musim semi dan mulai sekitar pukul 4:30 sampai sekitar 16:40 pada musim dingin.
Puasa pertama berawal pada Ahad 26 Februari 624 dan idul Fitri jatuh pada Senin 26 Maret 624. Berarti lama puasa 29 hari. Perang Badar yang terjadi saat itu pada 17 Ramadan 2 H (13 Maret 624) jatuhnya pada hari Selasa. "Perhitungan ini berbeda dengan riwayat yang menyatakan bahwa perang Badar terjadi malam Jum'at," jelasnya.
Salah satu Idul Fitri pada zaman Nabi terjadi pada hari Jumat, yaitu 1 Syawal 3 H yang bertepatan dengan 15 Maret 625. Inilah satu-satunya Idul Fitri yang jatuh pada hari Jum'at semasa Rasulullah SAW hidup. "Mungkin inilah kejadian yang berkaitan dengan hadis yang membolehkan meninggalkan salat Jum'at bila pagi harinya telah mengikuti salat hari raya," tuturnya.
Lihat Juga :