Nasehat Menghadapi Ujian dan Fitnah Akhir Zaman
Rabu, 02 Desember 2020 - 06:13 WIB
loading...
A
A
A
أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَـٰهَكَ وَإِلَـٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَـٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ ﴿١٣٣﴾
“Tidaklah kalian memperhatikan tentang Nabi Ya’qub ‘Alaihis Salam ketika datang sakaratul maut menjemputnya? Maka beliau berkata: ‘Wahai anak-anakku, apa yang kalian akan sembah setelah aku meninggal dunia?’ Maka serempak anaknya mengatakan: ‘Kami akan menyembah Ilahmu dan Ilah nenek moyangmu (yaitu Allah, Ilah yang satu), dan kami tunduk kepadaNya.’” (QS. Al-Baqarah[2]: 133)
(Baca juga : Arab Saudi Bantah Terlibat dalam Pembunuhan Ilmuwan Nuklir Iran )
Jadi ketika kita berbicara tentang masa depan, maka ingatkanlah masa depan itu adalah masa depan setelah kematian. Maka oleh sebab itu -sebagai catatan tinta emas bagi kita- semua apa yang kita cari dalam interaksi dunia, maka jadikanlah semuanya adalah jembatan dan jadikanlah kendaraan untuk kita ke surga. Jadikanlah semua nikmat yang Allah berikan kepada kita sebagai kendaraan yang menghantarkan kita ke surga, sebagai masa depan kita. Jangan Anda berpikir masa depan adalah masa depan karir kita di dunia ini.
3. Menjaga amal
Ketika kita bertanya tentang amal dan ketika kita meminta ditunjukkan kepada seorang alim tentang amal dimasa hari ini, maka ada jawaban yang sederhana dari sekian penjelasan. Lakukanlah amal yang mampu kita mendawamkannya setelah kita menunaikan perkara-perkara yang fardhu (wajib). Menjaga shalat lima waktu, menjaga puasa dan menjaga setiap perkara yang Allah Ta’ala fardhu-kan.
Oleh sebab itu Baginda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah ditanya oleh istrinya sendiri, ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha: “Ya Rasulullah, amal yang mana yang paling dicintai Allah? Yang paling mulia di sisi Allah?” Maka Baginda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang mampu kita mendawamkannya walaupun amalan itu sederhana.” (HR. Muslim)
(Baca juga : Kurva Corona Terus Naik, Anggota DPR: Pemerintah Sepatutnya Evaluasi )
Sering kita bertanya tentang mungkin yang sulit bagi kita untuk melakukan hari ini. Beramal tapi banyak yang kita lalaikan. Contohnya adalah sudahkah Anda meng-kontinu-kan untuk diam ketika mendengar suara adzan kemudian menjawabnya kemudian kita membaca shalawat setelahnya?
Maka jangan kita lewatkan amalan yang sederhana untuk mendapatkan pahala besar. Terutama diwaktu yang sangat sulit bagi kita untuk melakukan kebaikan. Dan ini adalah solusinya.
4.Kewajiban mukmin adalah benar dalam berkata, benar dalam bercakap, benar dalam berucap dan benar dalam beramal
Fitnah terbesar pada hari ini adalah melihat berbagai kedzaliman. Mungkin di berbagai negara rakyat mencium bau kedzaliman dari para pemimpinnya. Di sisi lain, kita pun melihat begitu dahsyatnya rekayasa musuh kepada kaum muslimin dan rekayasa musuh terhadap Islam. Dan kita seorang muslim yang punya ghiroh iman pasti ingin melakukan sesuatu, melawan terhadap semua kedzaliman ini, melawan setiap keburukan ini. Dan tentunya itu adalah alamat dalam diri kita ada iman
Karena ghirah itu sebagaimana dinyatakan di dalam hadis, ghirah itu berupa energi yang ada dalam diri seorang mukmin yang disebutkan di dalam hadis:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَان
“Apabila kamu melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu (kekuasaanmu), kalau tidak mampu maka dengan lisanmu, kalau tidak mampu maka dengan cara engkau tidak menyetujuinya (benci dalam hatimu), dan itu adalah bagian yang lemah dari iman kita.” (HR. Muslim)
Ustadz Abu Qatadah memberikan dua poin tentang nasihat yang harus kita lakukan, yakni:
Poin pertama, masalah bagi kita adalah bukan semata-mata kita mengatakan “Menolong agama Allah”, bukan semata-mata kita mengatakan bahwa kita akan menjaga agama Allah. Kenapa? Karena sesungguhnya Allah benar-benar akan menjaga agamaNya dan benar-benar Allah akan memenangkan agamaNya. Seandainya kita tidak menjadi penolongNya, maka Allah akan mencari dan memunculkan generasi lainnya yang akan menjaga agama ini. Jadi Allah telah memberikan jaminan agama ini akan dijaga.
Poin kedua, bahwa kewajiban bagi seorang mukmin adalah dituntut untuk benar dalam berkata, benar dalam berucap, benar dalam beramal. Yaitu seorang muslim diperintahkan untuk sejalan dengan perintah Allah dan RasulNya dalam setiap perkara. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengatakan tentang apa yang harus kita lakukan hari ini.
Apa yang didapatkan oleh para sahabat dan para tabi’in di masa Hajjaj bin Yusuf, itu melebihi kedzaliman yang kita lihat hari ini, artinya keburukan individunya, bukan keburukan keadaannya. Karena kalau keadaan tetap dimasa Hajjaj lebih baik dari masa ‘Umar bin Abdul ‘Aziz. Walaupun tidak diragukan bahwa pada masa ‘Umar bin Abdul ‘Aziz itu lebih mulia daripada Hajjaj. Tapi massanya, tetap. Hal ini karena dimasa Hajjaj itu ada Anas bin Malik dan para sahabat yang lainnya.
(Baca juga : Pengamat: Pariwisata Pulih pada Kuartal IV Tahun Depan )
“Tidaklah kalian memperhatikan tentang Nabi Ya’qub ‘Alaihis Salam ketika datang sakaratul maut menjemputnya? Maka beliau berkata: ‘Wahai anak-anakku, apa yang kalian akan sembah setelah aku meninggal dunia?’ Maka serempak anaknya mengatakan: ‘Kami akan menyembah Ilahmu dan Ilah nenek moyangmu (yaitu Allah, Ilah yang satu), dan kami tunduk kepadaNya.’” (QS. Al-Baqarah[2]: 133)
(Baca juga : Arab Saudi Bantah Terlibat dalam Pembunuhan Ilmuwan Nuklir Iran )
Jadi ketika kita berbicara tentang masa depan, maka ingatkanlah masa depan itu adalah masa depan setelah kematian. Maka oleh sebab itu -sebagai catatan tinta emas bagi kita- semua apa yang kita cari dalam interaksi dunia, maka jadikanlah semuanya adalah jembatan dan jadikanlah kendaraan untuk kita ke surga. Jadikanlah semua nikmat yang Allah berikan kepada kita sebagai kendaraan yang menghantarkan kita ke surga, sebagai masa depan kita. Jangan Anda berpikir masa depan adalah masa depan karir kita di dunia ini.
3. Menjaga amal
Ketika kita bertanya tentang amal dan ketika kita meminta ditunjukkan kepada seorang alim tentang amal dimasa hari ini, maka ada jawaban yang sederhana dari sekian penjelasan. Lakukanlah amal yang mampu kita mendawamkannya setelah kita menunaikan perkara-perkara yang fardhu (wajib). Menjaga shalat lima waktu, menjaga puasa dan menjaga setiap perkara yang Allah Ta’ala fardhu-kan.
Oleh sebab itu Baginda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah ditanya oleh istrinya sendiri, ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha: “Ya Rasulullah, amal yang mana yang paling dicintai Allah? Yang paling mulia di sisi Allah?” Maka Baginda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang mampu kita mendawamkannya walaupun amalan itu sederhana.” (HR. Muslim)
(Baca juga : Kurva Corona Terus Naik, Anggota DPR: Pemerintah Sepatutnya Evaluasi )
Sering kita bertanya tentang mungkin yang sulit bagi kita untuk melakukan hari ini. Beramal tapi banyak yang kita lalaikan. Contohnya adalah sudahkah Anda meng-kontinu-kan untuk diam ketika mendengar suara adzan kemudian menjawabnya kemudian kita membaca shalawat setelahnya?
Maka jangan kita lewatkan amalan yang sederhana untuk mendapatkan pahala besar. Terutama diwaktu yang sangat sulit bagi kita untuk melakukan kebaikan. Dan ini adalah solusinya.
4.Kewajiban mukmin adalah benar dalam berkata, benar dalam bercakap, benar dalam berucap dan benar dalam beramal
Fitnah terbesar pada hari ini adalah melihat berbagai kedzaliman. Mungkin di berbagai negara rakyat mencium bau kedzaliman dari para pemimpinnya. Di sisi lain, kita pun melihat begitu dahsyatnya rekayasa musuh kepada kaum muslimin dan rekayasa musuh terhadap Islam. Dan kita seorang muslim yang punya ghiroh iman pasti ingin melakukan sesuatu, melawan terhadap semua kedzaliman ini, melawan setiap keburukan ini. Dan tentunya itu adalah alamat dalam diri kita ada iman
Karena ghirah itu sebagaimana dinyatakan di dalam hadis, ghirah itu berupa energi yang ada dalam diri seorang mukmin yang disebutkan di dalam hadis:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَان
“Apabila kamu melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu (kekuasaanmu), kalau tidak mampu maka dengan lisanmu, kalau tidak mampu maka dengan cara engkau tidak menyetujuinya (benci dalam hatimu), dan itu adalah bagian yang lemah dari iman kita.” (HR. Muslim)
Ustadz Abu Qatadah memberikan dua poin tentang nasihat yang harus kita lakukan, yakni:
Poin pertama, masalah bagi kita adalah bukan semata-mata kita mengatakan “Menolong agama Allah”, bukan semata-mata kita mengatakan bahwa kita akan menjaga agama Allah. Kenapa? Karena sesungguhnya Allah benar-benar akan menjaga agamaNya dan benar-benar Allah akan memenangkan agamaNya. Seandainya kita tidak menjadi penolongNya, maka Allah akan mencari dan memunculkan generasi lainnya yang akan menjaga agama ini. Jadi Allah telah memberikan jaminan agama ini akan dijaga.
Poin kedua, bahwa kewajiban bagi seorang mukmin adalah dituntut untuk benar dalam berkata, benar dalam berucap, benar dalam beramal. Yaitu seorang muslim diperintahkan untuk sejalan dengan perintah Allah dan RasulNya dalam setiap perkara. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengatakan tentang apa yang harus kita lakukan hari ini.
Apa yang didapatkan oleh para sahabat dan para tabi’in di masa Hajjaj bin Yusuf, itu melebihi kedzaliman yang kita lihat hari ini, artinya keburukan individunya, bukan keburukan keadaannya. Karena kalau keadaan tetap dimasa Hajjaj lebih baik dari masa ‘Umar bin Abdul ‘Aziz. Walaupun tidak diragukan bahwa pada masa ‘Umar bin Abdul ‘Aziz itu lebih mulia daripada Hajjaj. Tapi massanya, tetap. Hal ini karena dimasa Hajjaj itu ada Anas bin Malik dan para sahabat yang lainnya.
(Baca juga : Pengamat: Pariwisata Pulih pada Kuartal IV Tahun Depan )
Lihat Juga :