Bercermin, Berdialog dengan Diri Sendiri

loading...
Bercermin, Berdialog dengan Diri Sendiri
Saat becermin adalah saat yang tepat agar kita dapat mengenal dan menghitung diri. Foto ilustrasi/ist
Bercermin . Setiap orang pasti senang melakukannya , apalagi kaum perempuan. Saat bercermin, kita merasakan nikmat dan tidak pernah bosan. Sekali pun wajah yang kita lihat di cermin, tetap itu-itu juga. Memang aneh, bahkan hampir pada setiap kesempatan , kita selalu menyempatkan diri untuk becermin. Mengapa demikian?

Kita ingin selalu berpenampilan baik dan sempurna . Sangat tidak ingin terlihat mengecewakan, apalagi kusut masai dan berantakan tidak karuan. Ini semua tidak dapat dimungkiri. Penampilan adalah cermin pribadi kita.

(Baca juga : Memberi Nama Anak yang Disukai Allah Ta'ala )

Orang beriman yang rapi tertib dan bersih, pribadinya juga akan cenderung rapi, tertib dan bersih . Sebaliknya orang yang penampilannya kucel dan berantakan, karakter pribadinya biasanya tidak jauh berbeda. KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym menyebut dalam tausiyahnya di MQ TV, penampilan rapi, tertib, dan bersih itu akan menjadi kebaikan selama niat dan caranya benar. Apa saja niat yang benar itu? Niat agar orang lain tidak terganggu dan terkecewakan. Niat agar orang lain tidak berprasangka buruk , atau juga niat agar orang lain senang dan nyaman dengan penampilan kita.



(Baca juga : Bersikap Jujur dalam Amalan-amalan Hati )

Selain itu yang paling penting ialah karena Allah Ta’ala menyukai penampilan yang indah dan rapi. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan seberat biji debu. Ada seorang yang bertanya, ‘Sesungguhnya setiap orang suka (memakai) baju yang indah, dan alas kaki yang bagus, apakah ini termasuk sombong?’ Rasulullah bersabda: ‘Sesungguhnya Allah Mahaindah dan mencintai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.’” (HR. Muslim).

(Baca juga : Pernikahan Fitnah )

Menurut pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhid ini, sebagai seorang muslim kita harus hindari niat untuk menjerumuskan orang lain. Mungkin awalnya mereka akan terpesona pada penampilan kita. Akan tetapi ujung-ujungnya hati mereka menjadi tergelincir dan menimbulkan penyakit. Tentu saja dalam hal ini kita telah menanam saham karena menimbulkan dosa pada orang tersebut.

Hal lain yang sering membuat kita terlena adalah jarang berpikir. Bahwa selama ini kita baru sibuk bercermin topeng belaka. Topeng make up berupa seragam, sorban, atau aksesoris lainnya. Tanpa disadari kita sudah ditipu dan diperbudak topeng buatan kita sendiri.
halaman ke-1
cover top ayah
وَاٰتٰٮكُمۡ مِّنۡ كُلِّ مَا سَاَلۡـتُمُوۡهُ‌ ؕ وَاِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَتَ اللّٰهِ لَا تُحۡصُوۡهَا ؕ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَـظَلُوۡمٌ كَفَّارٌ
Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).

(QS. Ibrahim:34)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video