Cerita Ajaran Pengetahuan tentang Sufisme: Orang Dermawan
Senin, 07 Desember 2020 - 07:12 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
CERITA yang mengandung ajaran ini dikenal dalam masyarakat dan dalam bentuk bagian dari kegiatan luar (fisik) para darwis. Dimaksudkan untuk meletakkan dasar dari pengetahuan tentang Sufisme dan metode-metode penalaran (berpikir) yang khas tersebut. Jarang sekali digunakan untuk tujuan-tujuan didaktis. (Baca juga: Kisah Sufi: Tanggung Jawab Guru dan Permata Dzun-Nun )
Idries Shah dalam The Way of the Sufi dan telah diterjemahkan Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha dengan judul Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat menjelaskan 'dimensi batiniah' dari cerita-cerita ajaran, bagaimanapun, dipertahankan untuk membuat mereka mampu membuka pikiran, sesuai dengan tahap perkembangan murid, ke tahap-tahap perkembangan yang makin signifikan.
"Teori ini adalah bahwa 'orang mungkin bekerja atas dasar yang berbeda terhadap materi yang sama', yang tidak lazim bagi orang banyak, yang cenderung lebih suka mengatakan bahwa cerita mempunyai satu pesan, satu manfaat," tuturnya. (Baca juga: Kisah Sufi: Ats-Tsauri dalam Perenungan dan Doa untuk Orang Mati )
Berikut salah satu cerita ajaran tersebut:
ORANG DERMAWAN
Alkisah ada seorang yang sangat kaya dan murah hati (dermawan) di Bukhara. Karena memiliki tingkatan yang tinggi dalam hirarki yang tak tampak, dia dikenal sebagai Pemimpin Dunia. Dia telah membuat suatu persyaratan mengenai pemberian dermanya. Setiap hari ia memberi emas kepada satu kategori orang-orang dalam masyarakat --seperti orang sakit, janda, dan sebagainya. Tetapi tidak satu pun diberikan kepada orang yang menuntut ('membuka mulutnya').
Tidak semua orang dapat bertahan untuk 'menutup mulut'.
Suatu hari, giliran para pengacara yang mendapatkan bagian mereka untuk menerima hadiah. Salah seorang di antara mereka tidak dapat mengendalikan diri dan meminta lebih banyak.
Baca juga: Kisah Sufi: Hilali, Kutukan Badui, dan Mengapa Darwis di Istana
Tidak satu pun yang diberikan kepadanya.
Bagaimanapun, ini bukan akhir dari usahanya. Hari berikutnya, saat orang-orang cacat dibantu oleh sang Dermawan, maka ia (si Pengacara) berpura-pura bahwa lengannya patah.
Idries Shah dalam The Way of the Sufi dan telah diterjemahkan Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha dengan judul Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat menjelaskan 'dimensi batiniah' dari cerita-cerita ajaran, bagaimanapun, dipertahankan untuk membuat mereka mampu membuka pikiran, sesuai dengan tahap perkembangan murid, ke tahap-tahap perkembangan yang makin signifikan.
"Teori ini adalah bahwa 'orang mungkin bekerja atas dasar yang berbeda terhadap materi yang sama', yang tidak lazim bagi orang banyak, yang cenderung lebih suka mengatakan bahwa cerita mempunyai satu pesan, satu manfaat," tuturnya. (Baca juga: Kisah Sufi: Ats-Tsauri dalam Perenungan dan Doa untuk Orang Mati )
Berikut salah satu cerita ajaran tersebut:
ORANG DERMAWAN
Alkisah ada seorang yang sangat kaya dan murah hati (dermawan) di Bukhara. Karena memiliki tingkatan yang tinggi dalam hirarki yang tak tampak, dia dikenal sebagai Pemimpin Dunia. Dia telah membuat suatu persyaratan mengenai pemberian dermanya. Setiap hari ia memberi emas kepada satu kategori orang-orang dalam masyarakat --seperti orang sakit, janda, dan sebagainya. Tetapi tidak satu pun diberikan kepada orang yang menuntut ('membuka mulutnya').
Tidak semua orang dapat bertahan untuk 'menutup mulut'.
Suatu hari, giliran para pengacara yang mendapatkan bagian mereka untuk menerima hadiah. Salah seorang di antara mereka tidak dapat mengendalikan diri dan meminta lebih banyak.
Baca juga: Kisah Sufi: Hilali, Kutukan Badui, dan Mengapa Darwis di Istana
Tidak satu pun yang diberikan kepadanya.
Bagaimanapun, ini bukan akhir dari usahanya. Hari berikutnya, saat orang-orang cacat dibantu oleh sang Dermawan, maka ia (si Pengacara) berpura-pura bahwa lengannya patah.
Lihat Juga :