Kisah Imam Syaqiq dan Seorang Sufi Muda
Selasa, 08 Desember 2020 - 21:22 WIB
loading...
A
A
A
"Dan sungguh Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih , kemudian tetap di jalan yang benar". (QS Thaha Ayat 82)
Lalu ia beranjak meninggalkanku lagi. Saya merenung bahwa pemuda itu termasuk dari wali 'abdal karena ia telah berbicara atas apa yang kusembunyikan dalam hatiku sebanyak dua kali.
Ketika kami berada di Rammala, saya melihatnya lagi. Kali ini ia menuju ke sebuah sumur. Di tangannya ada sebuah teko untuk mengambil air. Karena air dalam sumur agak jauh untuk dijamah, tak disangka teko itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke dalam sumur.
Lalu saya melihatnya menengadah ke arah langit seraya berkata:
أنت ربي إذا ظمئت من الماء
وقوتي إذا أردت الطعاما
"Engkau Tuhanku yang ku berharap bila kehausan. Engkau kekuatanku berharap bila kelaparan".
Setelah ia berdoa, demi Allah, saya melihat air sumur itu berangsur naik. Pemuda itu lalu mengambil teko yang tadi terlepas dari tangannya. Lalu berwudhu dan melaksanakan shalat empat rakaat. Setelah shalat , Ia mengambil segenggam pasir dan dibubuhnya ke dalam teko itu serta diaduk dengan air, kemudian ia meminumnya.
Saya menghampirinya dan mengucapkan salam. Ia pun menjawab salamku. Lalu aku berkata kepadanya, "Berikanlah kepadaku sebagian dari nikmat Allah ta'ala yang diberikan kepadamu."
(Baca Juga: Kisah Para Wali: Awal Mula Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani Belajar Tasawuf)
Pemuda itu menjawab:
يا شقيق تزل نعمة الله علينا ظاهرة وباطنة فأحسن ظنك برك
Lalu ia beranjak meninggalkanku lagi. Saya merenung bahwa pemuda itu termasuk dari wali 'abdal karena ia telah berbicara atas apa yang kusembunyikan dalam hatiku sebanyak dua kali.
Ketika kami berada di Rammala, saya melihatnya lagi. Kali ini ia menuju ke sebuah sumur. Di tangannya ada sebuah teko untuk mengambil air. Karena air dalam sumur agak jauh untuk dijamah, tak disangka teko itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke dalam sumur.
Lalu saya melihatnya menengadah ke arah langit seraya berkata:
أنت ربي إذا ظمئت من الماء
وقوتي إذا أردت الطعاما
"Engkau Tuhanku yang ku berharap bila kehausan. Engkau kekuatanku berharap bila kelaparan".
Setelah ia berdoa, demi Allah, saya melihat air sumur itu berangsur naik. Pemuda itu lalu mengambil teko yang tadi terlepas dari tangannya. Lalu berwudhu dan melaksanakan shalat empat rakaat. Setelah shalat , Ia mengambil segenggam pasir dan dibubuhnya ke dalam teko itu serta diaduk dengan air, kemudian ia meminumnya.
Saya menghampirinya dan mengucapkan salam. Ia pun menjawab salamku. Lalu aku berkata kepadanya, "Berikanlah kepadaku sebagian dari nikmat Allah ta'ala yang diberikan kepadamu."
(Baca Juga: Kisah Para Wali: Awal Mula Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani Belajar Tasawuf)
Pemuda itu menjawab:
يا شقيق تزل نعمة الله علينا ظاهرة وباطنة فأحسن ظنك برك
Lihat Juga :