Kisah Para Wali: Awal Mula Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani Belajar Tasawuf
Minggu, 20 September 2020 - 05:05 WIB
loading...
Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani (471-561 H) ulama besar yang populer dengan karomah dan kemuliaannya. Foto/dok islam.nu.or.id
A
A
A
Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani (471-561 H), ulama besar yang dijuluki pemimpin para wali (Sulthanul Auliya) kelahiran Persia (Iran). Beliau dikaruniai kedalaman ilmu tauhid, fiqih, sunnah Nabi dan ilmu makrifat. Sehingga banyak para wali , syeikh, ulama, dan ahli zuhud menaruh hormat pada beliau.
Dalam Manaqib (biografi) yang dipublikasikan oleh Pustaka Pejaten beliau bernama lengkap adalah Abu Shalih Sayyidi Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abi Shalih Musa bin Abu Abdullah Al-Jily bin Yahya az-Zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa al-Jun bin Abdullah al-Mahdhi bin al-Hasan al-Mutsanna bin al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Syeikh Abu Muhammad Abdul Qadir Al-Jilani adalah keturunan Sayyidina Hasan, cucu Rasulullah صلى الله عليه وسلم . [Baca Juga: Abul Hasan Asy-Syadzili, Sang Sufi Dunia Timur dan Barat (1) ]
Adapun ibunda beliau adalah seorang ibu yang istimewa, yaitu Fatimah binti Abi Abdillah Al-Shuma'i, keturunan Sayyidina Husein. Syeikh Abdul Qadir A-Jilani cukup populer dengan karomah dan kemuliaannya.
Sebelum Syeikh Abdul Qadir lahir, ayahandanya pernah bermimpi bertemu Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersama sejumlah sahabat, para Mujahidin, dan para wali . Dalam mimpi itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkata:
"Wahai Abu Shalih, Allah akan memberi amanah seorang anak laki-laki, yang kelak akan mendapat pangkat tinggi dalam kewalian. Sebagaimana aku mendapat pangkat tertinggi dalam kenabian dan kerasulan."
Abu Shalih wafat ketika putranya masih teramat muda, sehingga Syeikh Abdul Qadir diasuh dan dibesarkan oleh kakeknya. Syeikh Abdul Qadir lahir tahun 471 Hijriyah di daerah Aal-Jil (disebut juga Jilan dan Kilan), kini termasuk wilayah Iran (Persia). Ada yang menyebut tahun 470 Hijriyah (1077 Masehi). Tahun kelahirannya ini didasarkan atas ucapannya kepada putranya, bertepatan dengan wafatnya seorang ulama terkenal Imam at-Tamimi.
Tahun itu juga bertepatan dengan keputusan Imam Abu Hamid al-Ghazali untuk meninggalkan tugasnya mengajar di Nidzamiah, Baghdad. Sang Imam Al-Ghazali ternyata lebih memilih uzlah (mengasingkan diri) dan lebih mendekatkan dirinya kepada Allah Ta'ala. (Baca Juga: Kisah Karomah Syeikh Sya'rawy dan Peristiwa Unik Jelang Wafatnya )
Di daerah itu beliau melewati masa kecilnya sampai usia 18 tahun. Kemudian hijrah ke Baghdad pada tahun 488 H sampai masa akhir hayatnya. Syeikh Abdul Qadir berperawakan kurus, tingginya sedang, berdada bidang dengan janggut lebat dan panjang.
Warna kulitnya sawo matang, kedua alisnya bersambung, suaranya keras dan lantang, mudah bergaul, punya derajat mulia dan ilmu pengetahuan luas. Binar mata Syeikh Abdul Qadir terpancar dalam lingkungan yang terkenal dengan kedalaman ilmu pengetahuan. Ayahandanya adalah salah seorang tokoh ulama Jilan, sedangkan ibundanya yang juga dikenal dengan karomahnya adalah putri dari Abdullah Al-Suma'i, seorang ahli Makrifat, ahli ibadah dan zuhud. Maka bersemilah nuansa keilmuan, fiqih, hakikat dan makrifat di dalam dirinya.
(Baca Juga: Bertambah 2.997, Suspek Covid-19 di Indonesia Menjadi 107.863 Orang )
Awal Mula Belajar Tasawuf
Dalam Manaqib itu, Syeikh Abdul Qadir Jilani menceritakan kisah pengembaraannya ke pinggiran Kota Baghdad. Beliau bercerita, di sekitar Mudzafariyah, seorang lelaki yang tak pernah kukenal sebelumnya, membuka pintu rumahnya dan memanggilku: "Hai Abdul Qadir."
Ketika berada tepat di depan pintu rumahnya, ia berkata: "Katakan padaku apa yang kau minta kepada Allah. Apa yang kau doakan kemarin?"Aku diam terpaku, tak dapat kutemukan jawabannya. Orang itu menatapku, lalu tiba-tiba membanting pintu dengan sangat keras sehingga debu-debu berterbangan dan mengotori nyaris seluruh tubuhku.
Aku pergi, sambil bertanya-tanya apa yang kupinta kepada Allah sehari sebelumnya. Aku berhasil mengingatnya, lalu kembali ke rumah itu untuk memberikan jawaban. Namun, rumah tadi tak dapat kutemukan, begitu pun orang itu. Rasa takut menyelubungiku. Pikirku, ia tentu orang yang dekat dengan Allah. Kelak, aku mengetahui bahwa orang itu adalah Syeikh Hammad ad-Dabbas, yang kemudian menjadi guruku.
Dalam Manaqib (biografi) yang dipublikasikan oleh Pustaka Pejaten beliau bernama lengkap adalah Abu Shalih Sayyidi Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abi Shalih Musa bin Abu Abdullah Al-Jily bin Yahya az-Zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa al-Jun bin Abdullah al-Mahdhi bin al-Hasan al-Mutsanna bin al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Syeikh Abu Muhammad Abdul Qadir Al-Jilani adalah keturunan Sayyidina Hasan, cucu Rasulullah صلى الله عليه وسلم . [Baca Juga: Abul Hasan Asy-Syadzili, Sang Sufi Dunia Timur dan Barat (1) ]
Adapun ibunda beliau adalah seorang ibu yang istimewa, yaitu Fatimah binti Abi Abdillah Al-Shuma'i, keturunan Sayyidina Husein. Syeikh Abdul Qadir A-Jilani cukup populer dengan karomah dan kemuliaannya.
Sebelum Syeikh Abdul Qadir lahir, ayahandanya pernah bermimpi bertemu Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersama sejumlah sahabat, para Mujahidin, dan para wali . Dalam mimpi itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkata:
"Wahai Abu Shalih, Allah akan memberi amanah seorang anak laki-laki, yang kelak akan mendapat pangkat tinggi dalam kewalian. Sebagaimana aku mendapat pangkat tertinggi dalam kenabian dan kerasulan."
Abu Shalih wafat ketika putranya masih teramat muda, sehingga Syeikh Abdul Qadir diasuh dan dibesarkan oleh kakeknya. Syeikh Abdul Qadir lahir tahun 471 Hijriyah di daerah Aal-Jil (disebut juga Jilan dan Kilan), kini termasuk wilayah Iran (Persia). Ada yang menyebut tahun 470 Hijriyah (1077 Masehi). Tahun kelahirannya ini didasarkan atas ucapannya kepada putranya, bertepatan dengan wafatnya seorang ulama terkenal Imam at-Tamimi.
Tahun itu juga bertepatan dengan keputusan Imam Abu Hamid al-Ghazali untuk meninggalkan tugasnya mengajar di Nidzamiah, Baghdad. Sang Imam Al-Ghazali ternyata lebih memilih uzlah (mengasingkan diri) dan lebih mendekatkan dirinya kepada Allah Ta'ala. (Baca Juga: Kisah Karomah Syeikh Sya'rawy dan Peristiwa Unik Jelang Wafatnya )
Di daerah itu beliau melewati masa kecilnya sampai usia 18 tahun. Kemudian hijrah ke Baghdad pada tahun 488 H sampai masa akhir hayatnya. Syeikh Abdul Qadir berperawakan kurus, tingginya sedang, berdada bidang dengan janggut lebat dan panjang.
Warna kulitnya sawo matang, kedua alisnya bersambung, suaranya keras dan lantang, mudah bergaul, punya derajat mulia dan ilmu pengetahuan luas. Binar mata Syeikh Abdul Qadir terpancar dalam lingkungan yang terkenal dengan kedalaman ilmu pengetahuan. Ayahandanya adalah salah seorang tokoh ulama Jilan, sedangkan ibundanya yang juga dikenal dengan karomahnya adalah putri dari Abdullah Al-Suma'i, seorang ahli Makrifat, ahli ibadah dan zuhud. Maka bersemilah nuansa keilmuan, fiqih, hakikat dan makrifat di dalam dirinya.
(Baca Juga: Bertambah 2.997, Suspek Covid-19 di Indonesia Menjadi 107.863 Orang )
Awal Mula Belajar Tasawuf
Dalam Manaqib itu, Syeikh Abdul Qadir Jilani menceritakan kisah pengembaraannya ke pinggiran Kota Baghdad. Beliau bercerita, di sekitar Mudzafariyah, seorang lelaki yang tak pernah kukenal sebelumnya, membuka pintu rumahnya dan memanggilku: "Hai Abdul Qadir."
Ketika berada tepat di depan pintu rumahnya, ia berkata: "Katakan padaku apa yang kau minta kepada Allah. Apa yang kau doakan kemarin?"Aku diam terpaku, tak dapat kutemukan jawabannya. Orang itu menatapku, lalu tiba-tiba membanting pintu dengan sangat keras sehingga debu-debu berterbangan dan mengotori nyaris seluruh tubuhku.
Aku pergi, sambil bertanya-tanya apa yang kupinta kepada Allah sehari sebelumnya. Aku berhasil mengingatnya, lalu kembali ke rumah itu untuk memberikan jawaban. Namun, rumah tadi tak dapat kutemukan, begitu pun orang itu. Rasa takut menyelubungiku. Pikirku, ia tentu orang yang dekat dengan Allah. Kelak, aku mengetahui bahwa orang itu adalah Syeikh Hammad ad-Dabbas, yang kemudian menjadi guruku.
Lihat Juga :