Mengatasi Problem Rumah Tangga dengan Tuntunan Rasulullah
Kamis, 10 Desember 2020 - 09:22 WIB
loading...
A
A
A
Kemudian perhatikan juga bagaimana seorang istri ketika terjadi permasalahan rumah tangga. Fatimah radhiyallahu ‘anha berkata, ‘Terjadi sesuatu antara diriku dengannya. Kemudian dia marah padaku’. Ia tidak melaporkan detil kejadian dan konfliknya dengan suaminya kepada sang ayah. Bukan aji mumpung karena ayah datang, dijadikan kesempatan untuk laporan bahwa sang suami tidak seperti ayah yang selalu menyayangi. Tidak. Fatimah tidak melakukan itu. Ia tidak membiarkan permasalahan rumah tangganya diketahui oleh orang ketiga. Walaupun itu ayah sendiri. Dia pendam saja permasalahnnya. Karena banyak hal yang kecil, kalau sudah tersebar menjadi besar. Terus membesar. Dan jadi keributan. Fungsi suami-istri adalah sebagaimana fungsi pakaian yang menutupi aurat.
(Baca juga : Tembak Mati 6 Anggota FPI, Komnas HAM Periksa Polisi Pekan Depan )
Allah Ta’ala berfirman :
هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ
“Mereka para istri adalah pakaian bagi kalian para suami. Demikian juga kalian pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 187).
Hendaknya para istri meneladani Fatimah. Jangan sampai permasalahan rumah tangganya keluar. Apalagi sampai diceritakan di sosial media. Menjadi perhatian banyak orang. Hendaknya para wanita bersabar. Dan berdoa kepada Allah agar memberinya jalan keluar. Inilah sifat wanita yang bertakwa. Dan menjaga kehormatan suaminya.
(Baca juga : Ngebor di Darat dan Laut, PT Timah Habiskan Dana Rp16,82 Miliar )
Kemudian lihatlah sikap Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu. Ali tidak memaksakan diri berdebat. Menunjukkan bahwa dia yang benar dan istri yang salah. Tidak. Dia lebih baik mengalah. Dan keluar dari rumah.
Dari sini kita bisa mengetahui bahwa permasalahan rumah tangga juga menimpa orang-orang saleh. Ali adalah seorang ahli surga. Demikian juga dengan Fatimah, perempuan ahli surga. Artinya, kalau suami kita marah. Atau istri kita marah. Bukan berarti mereka bukan orang yang shaleh atau shalehah. Hal itu wajar dan biasa. Yang dituntut adalah bagaimana cara kita menyikapi konflik tersebut.
Dari kisah tersebut, kita menjadi lebih jelas bahwa Islam adalah agama kita adalah agama yang istimewa. Setiap permasalahan yang kita hadapi, kemudian kita lihat pada agama kita, kita akan jumpai solusi. Misalnya, ketika marah dengan pasangan, yakinlah dan hadirkan perasaan bahwa pasangan kita juga punya jasa pada kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
(Baca juga : Tembak Mati 6 Anggota FPI, Komnas HAM Periksa Polisi Pekan Depan )
Allah Ta’ala berfirman :
هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ
“Mereka para istri adalah pakaian bagi kalian para suami. Demikian juga kalian pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 187).
Hendaknya para istri meneladani Fatimah. Jangan sampai permasalahan rumah tangganya keluar. Apalagi sampai diceritakan di sosial media. Menjadi perhatian banyak orang. Hendaknya para wanita bersabar. Dan berdoa kepada Allah agar memberinya jalan keluar. Inilah sifat wanita yang bertakwa. Dan menjaga kehormatan suaminya.
(Baca juga : Ngebor di Darat dan Laut, PT Timah Habiskan Dana Rp16,82 Miliar )
Kemudian lihatlah sikap Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu. Ali tidak memaksakan diri berdebat. Menunjukkan bahwa dia yang benar dan istri yang salah. Tidak. Dia lebih baik mengalah. Dan keluar dari rumah.
Dari sini kita bisa mengetahui bahwa permasalahan rumah tangga juga menimpa orang-orang saleh. Ali adalah seorang ahli surga. Demikian juga dengan Fatimah, perempuan ahli surga. Artinya, kalau suami kita marah. Atau istri kita marah. Bukan berarti mereka bukan orang yang shaleh atau shalehah. Hal itu wajar dan biasa. Yang dituntut adalah bagaimana cara kita menyikapi konflik tersebut.
Dari kisah tersebut, kita menjadi lebih jelas bahwa Islam adalah agama kita adalah agama yang istimewa. Setiap permasalahan yang kita hadapi, kemudian kita lihat pada agama kita, kita akan jumpai solusi. Misalnya, ketika marah dengan pasangan, yakinlah dan hadirkan perasaan bahwa pasangan kita juga punya jasa pada kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
Lihat Juga :