Ketika Musibah Datang sebagai Peringatan
Senin, 14 Desember 2020 - 06:35 WIB
loading...
A
A
A
Karena Allah berfirman,
وَمَاۤ اَصَابَكُمۡ مِّنۡ مُّصِيۡبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِيۡكُمۡ وَيَعۡفُوۡا عَنۡ كَثِيۡرٍؕ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syuraa [42]: 30).
Sesungguhnya Allah SWT sangat ingin kita, hamba-hamba-Nya, hidup selamat dan bahagia di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, Allah turunkan al-Quran secara sempurna, dan Allah utus pula para nabi dan rasul untuk secara langsung membimbing kita ke jalan yang Ia ridai. Allah jelaskan mana yang halal dan haram. Allah terangkan pula mana amal-amal yang mengantarkan kepada kebahagiaan, dan mana amal-amal yang mengundang datangnya kesengsaraan.
(Baca juga : Ramai di Medsos Pre Order Vaksinasi, Bio Farma Sebut Faskes Baru Proses Pendaftaran )
Allah memerintahkan kita untuk tidak berbuat zalim, untuk membantu sesama dan menjauhkan diri dari perbuatan aniaya, baik itu terhadap manusia, binatang maupun alam. Semua itu adalah untuk kebaikan dan keselamatan kita sendiri, karena kebaikan akan kembali kepada pelakunya. Namun, demikian juga sebaliknya, keburukan pun kembali kepada pelakunya.
Maka, ketika ada musibah, kepahitan menimpa kita, hal terpenting yang harus dilakukan adalah memeriksa ke dalam diri dan bertanya, dosa apa yang sudah kita lakukan dan belum ditobati. Demikian juga ketika ada bencana yang terjadi di sekitar kita atau bahkan menimpa kita, periksalah barangkali selama ini kita sudah zalim namun terlanjur dianggap biasa.
(Baca juga : Pemerintah Dorong Serat Alam Lokal Jadi Bahan Baku Industri )
Karena musibah adalah sarana pengingat bagi kita atas dosa-dosa apa saja yang telah kita lakukan. Kelalaian seperti apa yang sudah kita perbuat dan belum kita tobati. Penting bagi kita untuk selalu peka membaca tanda-tanda ketika musibah terjadi. Betul bahwa banyak sekali sebab-sebab yang memicul suatu musibah terjadi, namun yang seringkali kita baca hanyalah sebab-sebab di permukaan saja. Padahal hakikatnya tiada yang bisa mengizinkan sesuatu terjadi di alam semesta ini kecuali Allah SWT.
Oleh sebab itu, orang yang lemah imannya tidak jarang lebih sibuk mempelajari sebab-sebab musibah di luar dirinya. Lebih sibuk mengikuti logika akal pikirannya, mengandalkan ilmunya yang tidak seberapa banyak. Padahal ada yang lebih utama dan lebih prioritas untuk dipelajari terlebih dahulu, yaitu kesalahan dirinya sendiri. Inilah hal pertama yang penting untuk diperhatikan dan diperbaiki.
وَمَاۤ اَصَابَكُمۡ مِّنۡ مُّصِيۡبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِيۡكُمۡ وَيَعۡفُوۡا عَنۡ كَثِيۡرٍؕ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syuraa [42]: 30).
Sesungguhnya Allah SWT sangat ingin kita, hamba-hamba-Nya, hidup selamat dan bahagia di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, Allah turunkan al-Quran secara sempurna, dan Allah utus pula para nabi dan rasul untuk secara langsung membimbing kita ke jalan yang Ia ridai. Allah jelaskan mana yang halal dan haram. Allah terangkan pula mana amal-amal yang mengantarkan kepada kebahagiaan, dan mana amal-amal yang mengundang datangnya kesengsaraan.
(Baca juga : Ramai di Medsos Pre Order Vaksinasi, Bio Farma Sebut Faskes Baru Proses Pendaftaran )
Allah memerintahkan kita untuk tidak berbuat zalim, untuk membantu sesama dan menjauhkan diri dari perbuatan aniaya, baik itu terhadap manusia, binatang maupun alam. Semua itu adalah untuk kebaikan dan keselamatan kita sendiri, karena kebaikan akan kembali kepada pelakunya. Namun, demikian juga sebaliknya, keburukan pun kembali kepada pelakunya.
Maka, ketika ada musibah, kepahitan menimpa kita, hal terpenting yang harus dilakukan adalah memeriksa ke dalam diri dan bertanya, dosa apa yang sudah kita lakukan dan belum ditobati. Demikian juga ketika ada bencana yang terjadi di sekitar kita atau bahkan menimpa kita, periksalah barangkali selama ini kita sudah zalim namun terlanjur dianggap biasa.
(Baca juga : Pemerintah Dorong Serat Alam Lokal Jadi Bahan Baku Industri )
Karena musibah adalah sarana pengingat bagi kita atas dosa-dosa apa saja yang telah kita lakukan. Kelalaian seperti apa yang sudah kita perbuat dan belum kita tobati. Penting bagi kita untuk selalu peka membaca tanda-tanda ketika musibah terjadi. Betul bahwa banyak sekali sebab-sebab yang memicul suatu musibah terjadi, namun yang seringkali kita baca hanyalah sebab-sebab di permukaan saja. Padahal hakikatnya tiada yang bisa mengizinkan sesuatu terjadi di alam semesta ini kecuali Allah SWT.
Oleh sebab itu, orang yang lemah imannya tidak jarang lebih sibuk mempelajari sebab-sebab musibah di luar dirinya. Lebih sibuk mengikuti logika akal pikirannya, mengandalkan ilmunya yang tidak seberapa banyak. Padahal ada yang lebih utama dan lebih prioritas untuk dipelajari terlebih dahulu, yaitu kesalahan dirinya sendiri. Inilah hal pertama yang penting untuk diperhatikan dan diperbaiki.
Lihat Juga :