Ini Redaksional Istighfar Rasulullah yang Tak Pernah Digunakan Rasul Sebelum Beliau
Senin, 21 Desember 2020 - 07:33 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
Rasulullah SAW adalah manusia yang paling banyak beristighfar kepada Rabbnya. Sahabat beliau pernah menghitung, dalam satu majlis, Rasulullah SAW lebih dari tujuh puluh kali mengucapkan: "Wahai Rabb-ku ampunilah daku dan berilah aku tobat". (Baca juga: Begini Doa dan Cara Tobat Para Rasul Menurut Al-Qur'an )
An-Nasaai meriwayatkan dari Ibnnu Umar bahwa ia mendengar Rasulullah SAW mengucapkan: "Aku memohon ampunan kepada Allah Yang tidak ada tuhan selain Dia Yang Hidup kekal dan terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Aku memohon tobat kepadaNya" dalam satu majlis ,sebelum bangkit darinya, sebanyak seratus kali.
Dalam satu riwayat: "kami menghitung Rasulullah SAW dalam satu majlis mengucapkan: 'Wahai Rabb-ku ampunilah daku dan berilah daku tobat, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi tobat dan Maha Pengampun' sebanyak seratus kali." [Fathul Bari: 11/101, 102].
Baca juga: Al-Qur'an Mengingatkan Maghfirah Allah Ta'ala adalah Kebutuhan Pokok
Dalam sahih Muslim dari hadis al Aghar al Muzni diriwayatkan:
"Pernah ada kelalaian untuk berzikir dalam hatiku, dan aku beristigfar kepada Allah SWT setiap hari sebanyak seratus kali untuk kelalaian itu ".
Dalam sahih Bukhari dari hadis Abi Hurairah r.a. :
"Demi Allah, aku beristighfar dan meminta tobat kepada Allah SWT dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali".
Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya berjudul at Taubat Ila Allah menjelaskan ulama menafsirkan "al ghain" yang berada dalam hati Rasulullah SAW itu adalah: suatu masa Rasulullah SAW tidak melakukan zikir yang terus dilakukan beliau. Dan jika Rasulullah SAW melupakannya karena suatu hal, maka beliau menganggap itu sebagai dosa, dan beliau beristighfar kepada Allah SWT dari kelalaian itu.
"Ada yang berpendapat: itu adalah sesuatu yang terjadi dalam hati, seperti keinginan hati yang biasa terjadi dalam diri manusia," tuturnya.
Baca juga: Rasul-Rasul Diutus Allah Ta'ala Agar Bangsa-Bangsa Beristighfar
Ada yang berpendapat: para nabi adalah orang yang amat berusaha keras untuk melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Karena mereka mengetahui hak-Nya atas mereka sehingga mereka terus bersyukur kepada Allah SWT, dan mengakui bahwa mereka selalu kurang sempurna dalam menjalankan apa yang diperintahkan Allah SWT kepada mereka.
Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin berkata: adalah Rasulullah SAW selalu meningkat derajat beliau. Dan setiap kali beliau menaiki suatu derajat maka beliau akan melihat derajat yang sebelumnya, dan beliau akan beristighfar atas derajat yang lebih rendah itu. [Fathul Bari: 11/ 102, 102].
Al Muhasiby berkata: malaikat dan para nabi adalah orang yang lebih takut kepada Allah SWT dibandingkan orang yang lebih rendah derajatnya dari mereka. Dan takut mereka adalah sebuah takut penghormatan dan pemuliaan. Mereka beristighfar dari kekurang sempurnaan dalam menjalankan apa yang seharusnya, bukan karena dosa yang dilakukan.
An-Nasaai meriwayatkan dari Ibnnu Umar bahwa ia mendengar Rasulullah SAW mengucapkan: "Aku memohon ampunan kepada Allah Yang tidak ada tuhan selain Dia Yang Hidup kekal dan terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Aku memohon tobat kepadaNya" dalam satu majlis ,sebelum bangkit darinya, sebanyak seratus kali.
Dalam satu riwayat: "kami menghitung Rasulullah SAW dalam satu majlis mengucapkan: 'Wahai Rabb-ku ampunilah daku dan berilah daku tobat, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi tobat dan Maha Pengampun' sebanyak seratus kali." [Fathul Bari: 11/101, 102].
Baca juga: Al-Qur'an Mengingatkan Maghfirah Allah Ta'ala adalah Kebutuhan Pokok
Dalam sahih Muslim dari hadis al Aghar al Muzni diriwayatkan:
"Pernah ada kelalaian untuk berzikir dalam hatiku, dan aku beristigfar kepada Allah SWT setiap hari sebanyak seratus kali untuk kelalaian itu ".
Dalam sahih Bukhari dari hadis Abi Hurairah r.a. :
"Demi Allah, aku beristighfar dan meminta tobat kepada Allah SWT dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali".
Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya berjudul at Taubat Ila Allah menjelaskan ulama menafsirkan "al ghain" yang berada dalam hati Rasulullah SAW itu adalah: suatu masa Rasulullah SAW tidak melakukan zikir yang terus dilakukan beliau. Dan jika Rasulullah SAW melupakannya karena suatu hal, maka beliau menganggap itu sebagai dosa, dan beliau beristighfar kepada Allah SWT dari kelalaian itu.
"Ada yang berpendapat: itu adalah sesuatu yang terjadi dalam hati, seperti keinginan hati yang biasa terjadi dalam diri manusia," tuturnya.
Baca juga: Rasul-Rasul Diutus Allah Ta'ala Agar Bangsa-Bangsa Beristighfar
Ada yang berpendapat: para nabi adalah orang yang amat berusaha keras untuk melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Karena mereka mengetahui hak-Nya atas mereka sehingga mereka terus bersyukur kepada Allah SWT, dan mengakui bahwa mereka selalu kurang sempurna dalam menjalankan apa yang diperintahkan Allah SWT kepada mereka.
Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin berkata: adalah Rasulullah SAW selalu meningkat derajat beliau. Dan setiap kali beliau menaiki suatu derajat maka beliau akan melihat derajat yang sebelumnya, dan beliau akan beristighfar atas derajat yang lebih rendah itu. [Fathul Bari: 11/ 102, 102].
Al Muhasiby berkata: malaikat dan para nabi adalah orang yang lebih takut kepada Allah SWT dibandingkan orang yang lebih rendah derajatnya dari mereka. Dan takut mereka adalah sebuah takut penghormatan dan pemuliaan. Mereka beristighfar dari kekurang sempurnaan dalam menjalankan apa yang seharusnya, bukan karena dosa yang dilakukan.
Lihat Juga :