Kisah Sunan Gresik: Syahbandar itu Pionir Pendidikan Pesantren

loading...
Kisah Sunan Gresik: Syahbandar itu Pionir Pendidikan Pesantren
Ilustrasi Sunan Gresik/Ist
SYAIKH Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik menyiarkan Agama Islam sambil berdagang. Di sekitar wilayah Gresik, beliau mulai menyiarkan Agama Islam dengan mendirikan masjid pertama di Desa Pasucinan, Leran, Manyar.

Sunyoto dalam "Atlas Wali Songo (Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo sebagai Fakta Sejarah)" menulis aktivitas yang mula-mula dilakukan Syaikh Maulana Malik Ibrahim ialah berdagang di tempat terbuka dekat pelabuhan yang disebut Desa Rumo-saat ini disebut dengan Desa Roomo, yang menurut cerita setempat berkaitan dengan kata Rum ( Persia ), yaitu tempat kediaman orang Rum di sekitar pesisir Gresik.

Kedatangan Syaikh Maulana Malik Ibrahim untuk berdagang dan mendakwahkan agama Islam juga disampaikan dalam Babad Gresik I karya Soekarman (1990). “Syaikh Maulana Malik Ibrahim menyebarkan Agama Islam sambil berdagang agar tidak terlalu menyolok dan agar orang Jawa tidak kaget, kemudian rombongan ini menghadap Raja Majapahit Prabu Brawijaya tetapi beliau belum berkenan masuk Agama Islam.” (Baca juga: Kisah Sunan Gresik: Ketika Raja Gedah Membujuk Raja Brawijaya Memeluk Islam )

Ya, awal dakwah Syaikh Maulana Malik Ibrahim dimulai dengan cara berdagang. Hal tersebut menandakan kearifan yang dimiliki oleh beliau, agar masyarakat setempat tidak kaget dengan ajaran yang baru. Mengingat sebelumnya masyarakat Gresik masih memeluk agama Hindu dan Buddha di bawah Kerajaan Majapahit pada kepemimpinan Raja Brawijaya terakhir.

Dukut, dkk. dalam bukunya berjudul "Grissee Tempo Doeloe" menulis ketika berdagang tersebut, Syaikh Maulana Malik Ibrahim justru menunjukkan kemahiran dan kebijaksanaan beliau dalam dunia perdagangan. Hal tersebut pada akhirnya mengundang simpati dari masyarakat sekitar. (Baca juga: Islam Masuk ke Jawa: Kisah Sultan Al-Ghabbah Sampai Ruqyah Syaikh Subakir )



Sikap arif, bijaksana, cakap, bersih dan wibawa yang dimiliki oleh Syaikh Maulana Malik Ibrahim tersebut pada akhirnya turut menarik simpati Raja Majapahit hingga beliau diangkat menjadi kepala pelabuhan yang dikenal dengan sebutan Syahbandar.

Dukut dkk. bercerita, melalui kekuasaan yang diberikan oleh Raja Majapahit tersebut, maka Syaikh Maulana Malik Ibrahim diizinkan menyebarkan agama Islam.

Syaikh Maulana Malik Ibrahim juga dikenal memiliki jiwa sosial tinggi dalam berdakwah. Sehingga Agama Islam bisa dengan mudah diterima oleh masyarakat setempat dan bisa terus menyebar secara damai.



Beliau memiliki kemampuan memberikan petunjuk dan nasihat tentang tata cara berdagang di daerah setempat. Beliau juga mampu menaksir harga barang dagangan yang yang dibawa para pedagang serta mampu menentukan besarnya bea cukai yang harus dibayar.

Melalui kemampuan tersebut, maka Syaikh Maulana Malik Ibrahim mampu memikat masyarakat setempat terutama masyarakat kalangan kasta sudra untuk masuk Islam. (Baca juga: Sunan Kalijaga (5): Mubaligh yang Seniman dan Budayawan )

Pendidikan Pesantren
Syaikh Maulana Malik Ibrahim merupakan ulama pertama yang membangun pesantren sebagai model pendidikan Islam, dengan mengadaptasi bentuk pendidikan biara dan asrama yang dipakai oleh pendeta dan biksu terkait proses belajar mengajar dalam agama Buddha.

Oleh karena itu, Dukut dkk. menulis, Syaikh Maulana Malik Ibrahim dijuluki sebagai ulama pionir yang menyebarkan Islam di tanah Jawa dengan menggunakan metode pendidikan pesantren.

Setelah selesai berdakwah di Desa Roomo beliau berdakwah di Desa Sembalo. Setelah dakwah di Desa Sembalo dirasa telah membuahkan hasil, maka selanjutnya Syaikh Maulana Malik Ibrahim pindah ke kota Gresik dan menetap di Desa Sawo.

Saat tinggal di Desa Sawo tersebut, Syaikh Maulana Malik Ibrahim membangun langgar (surau) yang hingga kini dikenal dengan Langgar Sawo. Langgar itu tidak hanya berfungsi sebagai tempat shalat. Tetapi lebih menyerupai sebuah pesantren sederhana untuk mendidik warga sekitar terutama generasi mudanya dengan ilmu-ilmu agama.(Baca juga: Sunan Kalijaga (4): Dari Pakaian Takwa Sampai Suluk Linglung )

Selanjutnya Raja Majapahit juga memberikan sebidang tanah di pinggiran kota Gresik, yang di kenal dengan nama Desa Gapura.

Sunyoto menyebut di Desa Gapura inilah Syaikh Maulana Malik Ibrahim membuka pesantren untuk mendidik kader-kader pemimpin Islam yang diharapkan dapat melanjutkan misinya, menyampaikan kebenaran Islam kepada masyarakat di wilayah Majapahit yang sedang mengalami kemerosotan akibat perang saudara. (Baca juga: Raden Said, Mengguncang Istana dengan Bacaan Al-Qur'an )
(mhy)
cover top ayah
اِنَّا خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ نُّطۡفَةٍ اَمۡشَاجٍۖ نَّبۡتَلِيۡهِ فَجَعَلۡنٰهُ سَمِيۡعًۢا بَصِيۡرًا
Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.

(QS. Al-Insan:2)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video