Sunan Kalijaga (4): Dari Pakaian Takwa Sampai Suluk Linglung
Rabu, 16 Desember 2020 - 13:30 WIB
loading...
Poster Sunan Kalijaga/Foto/Ilustrasi/Shopee
A
A
A
SUNAN Kalijaga dikenal sangat mengakomodir kearifan Jawa dan berakulturasi budaya Jawa. Beliau mengakulturasikan antara budaya Jawa dengan agama Islam. Berbagai upacara yang dilakukan masyarakat Jawa tetap dipertahankan. Masyarakat Jawa yang sangat kental dengan budayanya tidak merasakan hal yang begitu jauh dengan apa yang telah diajarkan oleh Sunan Kalijaga. (Baca juga: Raden Said, Mengguncang Istana dengan Bacaan Al-Qur'an )
Ahmad Chodjim, dalam bukunya berjudul "Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat" menyebut Sunan dikenal dengan orang yang menciptakan pakaian takwa, tembang-tembang Jawa, seni Maulud Nabi yang lebih dikenal dengan sebutan “Grebeg Maulud”, upacara sekaten (syahadātain, pengucapan dua kalimat syahadat) yang dilakukan setiap tahun untuk mengajak orang-orang Jawa masuk Islam.
Sunan Kalijaga juga menyusun beberapa doa dalam bahasa Jawa. Doa-doa yang telah dibuat oleh Sunan Kalijaga berupa “kidung atau mantra” dan yang paling terkenal adalah “kidung rumeksa wengi”.
Menurut Ahmad Chodjim, kidung Sunan Kalijaga dikenal sebagai “Mantra Wedha”, doa penyembuhan. Berguna untuk penyembuhan dan perlindungan diri. Kidung di sini diucapkan dengan keyakinan yang tinggi dan nantinya akan memiliki kekuatan ghaib. (Baca juga: Takluknya Brandal Lokajaya kepada Sunan Bonang )
Penyusunan doa-doa inilah yang menyebabkan Sunan Kalijaga diterima dengan baik oleh para masyarakat Jawa. Kala itu, kondisi masyarakat Jawa kurang baik. Banyak penyakit dan hama merajalela sehingga masyarakat membutuhkan pertolongan. Dengan perantara doa yang dibuat oleh Sunan Kalijaga ini menyebabkan masyarakat semakin akrab, dan kemudian doa (mantra) yang diberikan dari Sunan Kalijaga diamalkan dengan baik oleh masyarakat.
Banyak kalangan yang menyebut, Sunan Kalijaga merupakan sosok yang sangat pantas jika dikaitkan dengan Kejawen, karena beliau adalah seorang yang mudah berakulturasi. Islam yang terasa asing bagi orang Jawa digubah nuansanya menjadi agama yang bisa diterima di Jawa.
Keselamatan yang pertama kali ditawarkan oleh Sunan Kalijaga kepada orang Jawa adalah keselamatan lahiriah. Ini merupakan keselamatan yang riil atau keselamatan yang langsung bisa dirasakan manfaatnya oleh orang-orang yang memeluk dan menganutnya. Berdoanya seseorang diharapkan dapat melindungi dirinya dari berbagai gangguan. (Baca juga: Putra Adipati Itu Perampok yang Rajin Membaca Al-Qur'an )
Sri Rejeki dalam papernya berjudul "Dimensi Psikoterapi Dalam Suluk Linglung Sunan Kalijaga" menulis Sunan Kalijaga melakukan dakwah dengan cara pendekatan kultural, sehingga mendapat simpati dan empati dari kalangan yang sangat luas.
Pelan-pelan kelompok syariat kultural yang diwariskan Sunan Kalijaga ini membangun basis gerakan di relung–relung pedesaan dan pegunungan. Komunitas Islam Kejawen merupakan sebuah kelompok sosial yang berusaha melaksanakan ajaran agama lebih independen, terbuka dan toleran.
Sunan Kalijaga memiliki ciri khas yang sangat unik, itu tidak terlepas dari usaha beliau yang sangat kuat di dalam pencarian ilmu. Sunan Bonang yang mengajarkan ilmu tentang kasampurnaan yang telah lama dicari oleh Sunan Kalijaga.
Sunan Kalijaga dengan kegigihannya mampu mewarisi ilmu yang telah diajarkan dari Sunan Bonang, kemudian Sunan Kalijaga melanjutkan pengembaraanya dengan berguru kepada Sunan Ampel dan Sunan Giri. (Baca juga: Kisah Sunan Ampel (2): Sesepuh Wali Songo yang Sangat Toleran )
Dia juga berguru ke Pasai dan berdakwah di wilayah Semenanjung Malaya hingga wilayah Patani di Thailand Selatan. Menurut Ahmad Chodjim setelah beberapa tahun berguru di Pasai dan berdakwah di wilayah Patani, Sunan Kalijaga kembali ke Jawa.
Suluk Linglung
Sri Rejeki mengatakan Sunan Kalijaga banyak meninggalkan karya sastra yang mengandung ajaran akidah -akhlak, tasawuf , pendidikan, psikoterapi dan sebagainya dalam beberapa serat maupun suluk.
Kandungan dari serat-serat dan suluk-suluk tersebut memiliki tingkat prioritas yang unik dan membedakan antara satu sama lain.
Ahmad Chodjim, dalam bukunya berjudul "Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat" menyebut Sunan dikenal dengan orang yang menciptakan pakaian takwa, tembang-tembang Jawa, seni Maulud Nabi yang lebih dikenal dengan sebutan “Grebeg Maulud”, upacara sekaten (syahadātain, pengucapan dua kalimat syahadat) yang dilakukan setiap tahun untuk mengajak orang-orang Jawa masuk Islam.
Sunan Kalijaga juga menyusun beberapa doa dalam bahasa Jawa. Doa-doa yang telah dibuat oleh Sunan Kalijaga berupa “kidung atau mantra” dan yang paling terkenal adalah “kidung rumeksa wengi”.
Menurut Ahmad Chodjim, kidung Sunan Kalijaga dikenal sebagai “Mantra Wedha”, doa penyembuhan. Berguna untuk penyembuhan dan perlindungan diri. Kidung di sini diucapkan dengan keyakinan yang tinggi dan nantinya akan memiliki kekuatan ghaib. (Baca juga: Takluknya Brandal Lokajaya kepada Sunan Bonang )
Penyusunan doa-doa inilah yang menyebabkan Sunan Kalijaga diterima dengan baik oleh para masyarakat Jawa. Kala itu, kondisi masyarakat Jawa kurang baik. Banyak penyakit dan hama merajalela sehingga masyarakat membutuhkan pertolongan. Dengan perantara doa yang dibuat oleh Sunan Kalijaga ini menyebabkan masyarakat semakin akrab, dan kemudian doa (mantra) yang diberikan dari Sunan Kalijaga diamalkan dengan baik oleh masyarakat.
Banyak kalangan yang menyebut, Sunan Kalijaga merupakan sosok yang sangat pantas jika dikaitkan dengan Kejawen, karena beliau adalah seorang yang mudah berakulturasi. Islam yang terasa asing bagi orang Jawa digubah nuansanya menjadi agama yang bisa diterima di Jawa.
Keselamatan yang pertama kali ditawarkan oleh Sunan Kalijaga kepada orang Jawa adalah keselamatan lahiriah. Ini merupakan keselamatan yang riil atau keselamatan yang langsung bisa dirasakan manfaatnya oleh orang-orang yang memeluk dan menganutnya. Berdoanya seseorang diharapkan dapat melindungi dirinya dari berbagai gangguan. (Baca juga: Putra Adipati Itu Perampok yang Rajin Membaca Al-Qur'an )
Sri Rejeki dalam papernya berjudul "Dimensi Psikoterapi Dalam Suluk Linglung Sunan Kalijaga" menulis Sunan Kalijaga melakukan dakwah dengan cara pendekatan kultural, sehingga mendapat simpati dan empati dari kalangan yang sangat luas.
Pelan-pelan kelompok syariat kultural yang diwariskan Sunan Kalijaga ini membangun basis gerakan di relung–relung pedesaan dan pegunungan. Komunitas Islam Kejawen merupakan sebuah kelompok sosial yang berusaha melaksanakan ajaran agama lebih independen, terbuka dan toleran.
Sunan Kalijaga memiliki ciri khas yang sangat unik, itu tidak terlepas dari usaha beliau yang sangat kuat di dalam pencarian ilmu. Sunan Bonang yang mengajarkan ilmu tentang kasampurnaan yang telah lama dicari oleh Sunan Kalijaga.
Sunan Kalijaga dengan kegigihannya mampu mewarisi ilmu yang telah diajarkan dari Sunan Bonang, kemudian Sunan Kalijaga melanjutkan pengembaraanya dengan berguru kepada Sunan Ampel dan Sunan Giri. (Baca juga: Kisah Sunan Ampel (2): Sesepuh Wali Songo yang Sangat Toleran )
Dia juga berguru ke Pasai dan berdakwah di wilayah Semenanjung Malaya hingga wilayah Patani di Thailand Selatan. Menurut Ahmad Chodjim setelah beberapa tahun berguru di Pasai dan berdakwah di wilayah Patani, Sunan Kalijaga kembali ke Jawa.
Suluk Linglung
Sri Rejeki mengatakan Sunan Kalijaga banyak meninggalkan karya sastra yang mengandung ajaran akidah -akhlak, tasawuf , pendidikan, psikoterapi dan sebagainya dalam beberapa serat maupun suluk.
Kandungan dari serat-serat dan suluk-suluk tersebut memiliki tingkat prioritas yang unik dan membedakan antara satu sama lain.
Lihat Juga :