Begini Sikap Badal Jika Terkena Musibah Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
Selasa, 29 Desember 2020 - 07:19 WIB
loading...
Poster Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani/Foto/Ilustrasi/Shopee
A
A
A
JIKA kau ditimpa musibah, berupayalah bersabar – ini merupakan hal yang rendah – dan bersabarlah, ini merupakan hal yang lebih tinggi dari yang lain.
Mintalah agar kau bisa ridha dengan takdir -Nya, bersesuaianlah dengan kehendak-Nya, dan akhirnya luruhlah di dalam kehendak-Nya. "Inilah keadaan para badal dan rohaniwan, orang yang tahu perihal Allah yang Mahakuasa lagi Mahaagung. Bila kau terahmati, bersyukurlah, baik melalui lidah, hati maupun anasir tubuh," ujar Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani dalam kitabnya berjudul Futuh Al-Ghaib . (Baca juga: Begini Seharusnya Menjadi Wali, Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani )
Beliau memberi nasehat bahwa bersyukurnya lidah berupa pengakuan bahwa rahmat berasal dari Allah dan penghindaran dari menisbahkannya kepada orang lain, yang melalui tangan-tangan mereka rahmat sampai. "Sebab kau sendiri dan mereka hanyalah sarana-sarana sampainya rahmat," tambahnya.
Pemberi dan pencipta sejati rahmat yaitu Allah, Yang Mahakuasa lagi mahaagung. Maka Dia lebih patut disyukuri daripada yang lain. Misal, orang tak memandang budak yang membawa sebuah hadiah, sebagai pengirim hadiah itu, tetapi orang memandang pengirimnya adalah tuannya.
Allah berfirman tentang orang yang tak bersikap selayaknya: “Mereka mengetahui lahiriah kehidupan duniawi, sedang mengenai akhirat, mereka sungguh lalai.” (QS 30:7)
Barangsiapa memandang lahiriah dan penyebab, sedang pengetahuannya tak melebihi ini, kata Syaikh Abdul Qadir, adalah jahil dan rusak pikiran. (Baca juga: Syaikh Abdul Qadir AL-Jilani: Tiada Maqam Setelah Wali dan Badal Selain Maqam Nabi )
Istilah 'pikiran’ digunakan untuk orang yang memahami akhir sesuatu. "Bersyukurnya hati terletak pada keyakinan kukuh bahwa segala rahmat, kesenangan dan milikan yang kau punyai, berasal dari Allah Yang Mahakuasa lagi Mahaagung, bukan dari selain-Nya," tuturnya.
Dan rasa syukurmu melalui lidah menyatakan isi hatimu, sebagaimana firman-Nya: “Dan apa pun nikmat yang ada padamu, berasal dari Allah.” (QS 16:53)
“Dan (Ia) telah menyempurnakan nikmat-Nya padamu lahir dan batin.” (QS 31:20)
“Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, kamu takkan mampu menghinggakannya.” (QS 14:34)
Nah, dengan semua pernyataan ini, maka tiada pemberi karunia selain Allah. Dan bersyukurnya anasir tubuh terletak pada penggunaan anasir tubuh untuk mematuhi perintah-perintah-Nya guna menjauh dari ciptaan-Nya.
"Maka janganlah menimpali makhluk, sebab di situ terdapat penentangan terhadap Allah; ciptaan termasuk dirimu sendiri, keinginanmu, maksudmu, kehendakmu dan segalanya," ujarnya. (Baca juga: Begini Ciri-ciri Wali Allah Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani )
Patuhlah kepada Allah sepatuh-patuhnya. Jika kau bertindak lain, lanjut Syaikh Abdul Qadir, berarti kau menyimpang dari jalan lurus, menjadi aniaya, berperilaku tanpa perintah Allah yang diturunkan bagi hamba-hamba beriman-Nya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan para saleh.
Allah Yang Mahakuasa lagi Mahaagung berfirman: “Barangsiapa tak menentukan dengan yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orangorang yang zalim.” (QS 5:45)
Mintalah agar kau bisa ridha dengan takdir -Nya, bersesuaianlah dengan kehendak-Nya, dan akhirnya luruhlah di dalam kehendak-Nya. "Inilah keadaan para badal dan rohaniwan, orang yang tahu perihal Allah yang Mahakuasa lagi Mahaagung. Bila kau terahmati, bersyukurlah, baik melalui lidah, hati maupun anasir tubuh," ujar Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani dalam kitabnya berjudul Futuh Al-Ghaib . (Baca juga: Begini Seharusnya Menjadi Wali, Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani )
Beliau memberi nasehat bahwa bersyukurnya lidah berupa pengakuan bahwa rahmat berasal dari Allah dan penghindaran dari menisbahkannya kepada orang lain, yang melalui tangan-tangan mereka rahmat sampai. "Sebab kau sendiri dan mereka hanyalah sarana-sarana sampainya rahmat," tambahnya.
Pemberi dan pencipta sejati rahmat yaitu Allah, Yang Mahakuasa lagi mahaagung. Maka Dia lebih patut disyukuri daripada yang lain. Misal, orang tak memandang budak yang membawa sebuah hadiah, sebagai pengirim hadiah itu, tetapi orang memandang pengirimnya adalah tuannya.
Allah berfirman tentang orang yang tak bersikap selayaknya: “Mereka mengetahui lahiriah kehidupan duniawi, sedang mengenai akhirat, mereka sungguh lalai.” (QS 30:7)
Barangsiapa memandang lahiriah dan penyebab, sedang pengetahuannya tak melebihi ini, kata Syaikh Abdul Qadir, adalah jahil dan rusak pikiran. (Baca juga: Syaikh Abdul Qadir AL-Jilani: Tiada Maqam Setelah Wali dan Badal Selain Maqam Nabi )
Istilah 'pikiran’ digunakan untuk orang yang memahami akhir sesuatu. "Bersyukurnya hati terletak pada keyakinan kukuh bahwa segala rahmat, kesenangan dan milikan yang kau punyai, berasal dari Allah Yang Mahakuasa lagi Mahaagung, bukan dari selain-Nya," tuturnya.
Dan rasa syukurmu melalui lidah menyatakan isi hatimu, sebagaimana firman-Nya: “Dan apa pun nikmat yang ada padamu, berasal dari Allah.” (QS 16:53)
“Dan (Ia) telah menyempurnakan nikmat-Nya padamu lahir dan batin.” (QS 31:20)
“Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, kamu takkan mampu menghinggakannya.” (QS 14:34)
Nah, dengan semua pernyataan ini, maka tiada pemberi karunia selain Allah. Dan bersyukurnya anasir tubuh terletak pada penggunaan anasir tubuh untuk mematuhi perintah-perintah-Nya guna menjauh dari ciptaan-Nya.
"Maka janganlah menimpali makhluk, sebab di situ terdapat penentangan terhadap Allah; ciptaan termasuk dirimu sendiri, keinginanmu, maksudmu, kehendakmu dan segalanya," ujarnya. (Baca juga: Begini Ciri-ciri Wali Allah Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani )
Patuhlah kepada Allah sepatuh-patuhnya. Jika kau bertindak lain, lanjut Syaikh Abdul Qadir, berarti kau menyimpang dari jalan lurus, menjadi aniaya, berperilaku tanpa perintah Allah yang diturunkan bagi hamba-hamba beriman-Nya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan para saleh.
Allah Yang Mahakuasa lagi Mahaagung berfirman: “Barangsiapa tak menentukan dengan yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orangorang yang zalim.” (QS 5:45)
Lihat Juga :