Begini Sikap Badal Jika Terkena Musibah Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
Selasa, 29 Desember 2020 - 07:19 WIB
loading...
A
A
A
Dengan begitu, kau menuju neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu. Bila kau tak tahan demam, untuk satu jam, di dunia ini, maka bagaimana kau bisa tahan, untuk selamanya, neraka bersama penghuni-penghuninya?
"Menjauhlah, menjauhlah; segeralah, segeralah, berlindunglah kepada Allah," serunya.
"Jagalah keadaan-keadaan di atas dengan segala kondisinya, sebab kau tak bisa lepas dari keduannya sepanjang hayat –baik keadaan ditimpa musibah maupun keadaan bahagia. Bersabarlah dan bersyukurlah dalam kedua keadaan itu, sesuai dengan yang telah kuterangkan kepadamu," lanjutnya. (Baca juga: Syaikh Abdul Qadir AL-Jilani: Tiada Maqam Setelah Wali dan Badal Selain Maqam Nabi )
Nah, jangan mengeluh, bila ditimpa musibah, kepada sesamamu, jangan manunjukkan kegundahanmu kepada siapa pun, jangan salahkan Tuhanmu di dalam benakmu, dan jangan ragukan kebijaksanaan dan pilihan-Nya akan yang terbaik bagimu di dalam kehidupanmu di dunia dan di akhirat.
Dan jangan lari kepada orang guna mendapatkan jalan keluar, sebab, dengan begitu, kau berarti menyekutukan-Nya. Tak satu pun berhak atas milikan-Nya, tak satu pun mempu memberikan mudharat, manfaat, atau menjauhkan kesulitan, menyebabkan sakit dan bencana, menyembuhkan dan memberi sesuatu kebaikan, kecuali Dia. Jangan menjerat oleh ciptaan, bauik secara lahiriah maupun batiniah, sebab mereka takkan menguntungkanmu.
Bersabar dan ridhalah selalu kepada Allah, dan luruhlah ke dalam kehendak-Nya. Jika rahmat tercabut darimu, maka wajib bagimu minta tolong kepada-Nya. Menunjukkan kerendahdirian, mengakui dosa-dosamu, mengeluh kepada-Nya akan kejahatan dirimu dan akan penjauhanmu dari kebenaran. Mengesakan-Nya, mengakui rahmat-rahmat-Nya dan menyatakan keselarasanmu, sampai berakhirnya musibah dan berganti dengan karunia-Nya, kemudahan dan kebahagiaan, sebagaimana hal itu terjadi pada diri Nabi Ayub. Bak berlalunya gelapnya malam dan datangnya cerahnya siang, dan berlalunya dingin musim dingin, diganti sepoi musim semi dengan aroma harumnya. Sebab bagi segalanya ada pertentangan dan akhir. Maka kesabaran adalah kuncinya, awalnya, akhirnya dan jaminan kebahagiaannya. (Baca juga: Soal Kesenangan Hidup Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani )
Inilah yang terungkap dalam Sunnah Nabi saw. “Kesabaran adalah keseluruhan iman.”
"Ambillah pelajaran dari yang telah kusebutkan kepadamu, jika Allah Yang Mahamulia menghendaki, maka kau akan terbimbing," demikian Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani.
"Menjauhlah, menjauhlah; segeralah, segeralah, berlindunglah kepada Allah," serunya.
"Jagalah keadaan-keadaan di atas dengan segala kondisinya, sebab kau tak bisa lepas dari keduannya sepanjang hayat –baik keadaan ditimpa musibah maupun keadaan bahagia. Bersabarlah dan bersyukurlah dalam kedua keadaan itu, sesuai dengan yang telah kuterangkan kepadamu," lanjutnya. (Baca juga: Syaikh Abdul Qadir AL-Jilani: Tiada Maqam Setelah Wali dan Badal Selain Maqam Nabi )
Nah, jangan mengeluh, bila ditimpa musibah, kepada sesamamu, jangan manunjukkan kegundahanmu kepada siapa pun, jangan salahkan Tuhanmu di dalam benakmu, dan jangan ragukan kebijaksanaan dan pilihan-Nya akan yang terbaik bagimu di dalam kehidupanmu di dunia dan di akhirat.
Dan jangan lari kepada orang guna mendapatkan jalan keluar, sebab, dengan begitu, kau berarti menyekutukan-Nya. Tak satu pun berhak atas milikan-Nya, tak satu pun mempu memberikan mudharat, manfaat, atau menjauhkan kesulitan, menyebabkan sakit dan bencana, menyembuhkan dan memberi sesuatu kebaikan, kecuali Dia. Jangan menjerat oleh ciptaan, bauik secara lahiriah maupun batiniah, sebab mereka takkan menguntungkanmu.
Bersabar dan ridhalah selalu kepada Allah, dan luruhlah ke dalam kehendak-Nya. Jika rahmat tercabut darimu, maka wajib bagimu minta tolong kepada-Nya. Menunjukkan kerendahdirian, mengakui dosa-dosamu, mengeluh kepada-Nya akan kejahatan dirimu dan akan penjauhanmu dari kebenaran. Mengesakan-Nya, mengakui rahmat-rahmat-Nya dan menyatakan keselarasanmu, sampai berakhirnya musibah dan berganti dengan karunia-Nya, kemudahan dan kebahagiaan, sebagaimana hal itu terjadi pada diri Nabi Ayub. Bak berlalunya gelapnya malam dan datangnya cerahnya siang, dan berlalunya dingin musim dingin, diganti sepoi musim semi dengan aroma harumnya. Sebab bagi segalanya ada pertentangan dan akhir. Maka kesabaran adalah kuncinya, awalnya, akhirnya dan jaminan kebahagiaannya. (Baca juga: Soal Kesenangan Hidup Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani )
Inilah yang terungkap dalam Sunnah Nabi saw. “Kesabaran adalah keseluruhan iman.”
"Ambillah pelajaran dari yang telah kusebutkan kepadamu, jika Allah Yang Mahamulia menghendaki, maka kau akan terbimbing," demikian Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani.
(mhy)
Lihat Juga :