Pentingnya Berbaik Sangka Kepada Sesama Muslim
Minggu, 03 Januari 2021 - 06:01 WIB
loading...
A
A
A
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka (y aitu prasangka-prasangka buruk), sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa (salah). Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu akan merasa jijik dengannya. Dan bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kita mengikuti prasangka, karena prasangka itu banyak melahirkan dosa. Mungkin dalam kenyataan hidup sehari-hari kita sering berprasangka buruk terhadap saudara kita atau satu berita yang sampai kepada kita tentangnya. Lalu kita berprasangka buruk terhadap saudara kita itu.
(Baca juga: Ketika Bepergian, Jangan Lupa Perhatikan 7 Adab Ini )
Karena itu, Ustadz Abu Ihsan mengingatkan, kita harus bijak terhadap berita-berita yang sampai kepada kita. Jangan kita langsung menjatuhkan suatu ketentuan hukum atas berita yang kita dengar tentang saudara kita yang boleh jadi nantinya tidak seperti yang kita katakan itu, sehingga kita menyesalinya.
Maka bijaklah kita di dalam menerima berita dan bijak jugalah kita di dalam menyampaikan berita. Batasilah aktivitas kita di media sosial karena itu banyak mendatangkan keburukan-keburukan.
Yang sangat menyedihkan, hari ini sedikit orang yang selamat dari hal tersebut. Maka kita harus berhati-hati di dalam bab ini. Jangan sampai kita merusak dan merobek kehormatan orang lain. Seperti yang Allah katakan bahwa ghibah itu seperti kamu memakan daging bangkai saudaramu.
(Baca juga: Vaksin Sinovac Disebut Hanya untuk Uji Coba Klinis, Kemenkes Pastikan Hoaks )
Seseorang menulis komentar di halaman facebook saudaranya yang akhirnya saling jatuh-menjatuhkan dan saling vonis satu sama lain, ini adalah satu hal yang tidak perlu sebenarnya. Tapi begitulah kenyataannya hari ini, seolah-oleh kalau tidak bermedsos ketinggalan zaman.
Kita tidak mengharamkan benda-benda itu dan benar ada manfaatnya juga. Akan tetapi kita harus tahu batas-batasnya. Banyak orang tidak tahu batas-batasnya.
Ingat bahwa apa yang kita tulis di media sosial itu adalah seperti apa yang kita omongkan. Kalaulah yang kita ucapkan itu ditulis dan masuk dalam buku catatan amal kita, bagaimana pula yang memang kita tulis? Tentunya ini akan kita bawa nantinya ke hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk dipertanggungjawabkan. Setiap kata-kata, setiap tulisan yang kita tuliskan di media sosial itu akan kita pertanggungjawabkan. Maka bijaklah dalam menggunakannya.
(Baca juga: Gelombang ke-12 Kartu Prakerja Siap Dibuka, Pantau Terus )
Tidak semua berita harus kita dengar
Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kita mengikuti prasangka, karena prasangka itu banyak melahirkan dosa. Mungkin dalam kenyataan hidup sehari-hari kita sering berprasangka buruk terhadap saudara kita atau satu berita yang sampai kepada kita tentangnya. Lalu kita berprasangka buruk terhadap saudara kita itu.
(Baca juga: Ketika Bepergian, Jangan Lupa Perhatikan 7 Adab Ini )
Karena itu, Ustadz Abu Ihsan mengingatkan, kita harus bijak terhadap berita-berita yang sampai kepada kita. Jangan kita langsung menjatuhkan suatu ketentuan hukum atas berita yang kita dengar tentang saudara kita yang boleh jadi nantinya tidak seperti yang kita katakan itu, sehingga kita menyesalinya.
Maka bijaklah kita di dalam menerima berita dan bijak jugalah kita di dalam menyampaikan berita. Batasilah aktivitas kita di media sosial karena itu banyak mendatangkan keburukan-keburukan.
Yang sangat menyedihkan, hari ini sedikit orang yang selamat dari hal tersebut. Maka kita harus berhati-hati di dalam bab ini. Jangan sampai kita merusak dan merobek kehormatan orang lain. Seperti yang Allah katakan bahwa ghibah itu seperti kamu memakan daging bangkai saudaramu.
(Baca juga: Vaksin Sinovac Disebut Hanya untuk Uji Coba Klinis, Kemenkes Pastikan Hoaks )
Seseorang menulis komentar di halaman facebook saudaranya yang akhirnya saling jatuh-menjatuhkan dan saling vonis satu sama lain, ini adalah satu hal yang tidak perlu sebenarnya. Tapi begitulah kenyataannya hari ini, seolah-oleh kalau tidak bermedsos ketinggalan zaman.
Kita tidak mengharamkan benda-benda itu dan benar ada manfaatnya juga. Akan tetapi kita harus tahu batas-batasnya. Banyak orang tidak tahu batas-batasnya.
Ingat bahwa apa yang kita tulis di media sosial itu adalah seperti apa yang kita omongkan. Kalaulah yang kita ucapkan itu ditulis dan masuk dalam buku catatan amal kita, bagaimana pula yang memang kita tulis? Tentunya ini akan kita bawa nantinya ke hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk dipertanggungjawabkan. Setiap kata-kata, setiap tulisan yang kita tuliskan di media sosial itu akan kita pertanggungjawabkan. Maka bijaklah dalam menggunakannya.
(Baca juga: Gelombang ke-12 Kartu Prakerja Siap Dibuka, Pantau Terus )
Tidak semua berita harus kita dengar
Lihat Juga :