Syekh Ali Jaber, Ahli Qur'an yang Pernah Jadi Guru Tahfizh di Masjid Nabawi
Kamis, 14 Januari 2021 - 12:07 WIB
loading...
Momen romantis Syekh Ali Jaber bersama sang istri yang diunggah sejak 4 tahun lalu. Di samping Dai dan guru tahfizh, beliau dikenal sebagai sosok suami penyayang keluarga. Foto/dok haibunda
A
A
A
Indonesia kehilangan ulama terbaiknya, teladan para penuntut ilmu dan guru kharismatik yang tak pernah lelah mengajarkan Al-Qur'an untuk kita semua. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiu'un. Syekh Ali Jaber (Ali Saleh Mohammed Ali Jaber) berpulang ke rahmat Allah dengan tenang setelah dirawat di rumah sakit.
Ulama kelahiran Madinah ini wafat di RS Yarsi pada Kamis 14 Januari 2021 (1 Jumadil Akhir 1442 H) Jam 08.30 WIB. "Beliau wafat dalam keadaan Negatif Covid," kata Habib Abdurrahman Alhabsyi (Ketua Yayasan Syekh Ali Jaber) Kamis (14/1/2021).
Simak Video: Syekh Ali Jaber Meninggal, Ustadz Yusuf Mansur: Kita Kehilangan Ahli Alquran
Menjadi Penghafal Al-Qur'an dan Guru Tahfizh
Syekh Ali Jaber, sapaan akrab dari Syekh Ali Saleh Mohammed Ali Jaber. Beliau adalah salah seorang ulama dari Kota Nabi, lahir di Madinah Al-Munawarah pada tanggal 3Shafar 1396 Hijriyah, bertepatan dengan tanggal 3 Februari 1976 M. Beliau menjalani pendidikan, baik formal maupun informal, di Madinah.
Sebagai anak pertama dari 12 bersaudara, Syekh Ali Jaber dituntut untuk meneruskan perjuangan ayahnya dalam syiar Islam. Meski awalnya adalah keinginan sang ayah, lama-kelamaan ia menyadari itu sebagai kebutuhannya sendiri.
Sejak kedatangannya ke Indonesia tahun 2008, dakwahnya mendapat respons yang cukup baik dari masyarakat luas. Beliau terus giat dakwah dari perkotaan hingga ke pelosok-pelosok daerah, sehingga mendapatkan penghargaan dari Presiden Republik Indonesia pada tahun 2011 dianugerahi kehormatan menjadi WNI. Sejak itulah beliau merasa mendapat amanah yang harus diemban untuk terus berdakwah atas nama Indonesia dan untuk Indonesia.
Sejak kecil, Syekh Ali Jaber telah menekuni Al-Qur'an. Ayahandanya awalnya memotivasi Ali Jaber untuk belajar Al-Quran, karena dalam kitab suci itu terdapat semua ilmu Allah. Dalam mendidik agama, khususnya Al-Qur'an dan shalat, ayahnya sangat keras, bahkan tidak segan-segan memukul bila Ali Jaber kecil tidak menjalankan shalat.
Ini implementasi dari hadis Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم yang membolehkan memukul anak apabila usia 7 tahun tidak melaksanakan shalat fardhu. Keluarganya dikenal sebagai keluarga yang religius. Di Madinah beliau memiliki masjid besar yang digunakan untuk syiar Islam. Sebagai anak pertama dari dua belas bersaudara, Syekh Ali Jaber dituntut untuk meneruskan perjuangan ayahnya dalam syiar Islam. Meski pada awalnya apa yang ia jalani adalah keinginan sang ayah, lama-kelamaan ia menyadari itu sebagai kebutuhannya sendiri.
Tidak mengherankan, di usianya yang masih terbilang belia, 11 tahun, Syekh Ali Jaber telah hafal 30 juz Al-Qur'an. Sejak itu pula Syekh Ali memulai berdakwah mengajarkan ayat-ayat Allah di masjid tersebut, kemudian belanjut ke masjid lainnya. Selama di Madinah, ia juga aktif sebagai guru tahfizh Al-Qur'an di Masjid Nabawi dan menjadi Imam besar shalat di salah satu masjid di Kota Madinah.
Baca Juga: Syekh Ali Jaber Hafiz Al-Qur'an Sejak Umur 11 Tahun
Di Indonessia, beliau menjadi Imam Tarawih di Masjid Sunda Kelapa Jakarta Tahun 2008, kemudian melebarkan sayap dakwahnya hingga ke Indonesia. Kebetulan beliau menikahi seorang gadis asli Lombok, bernama Umi Nadia, yang lama tinggal di Madinah.
Ulama kelahiran Madinah ini wafat di RS Yarsi pada Kamis 14 Januari 2021 (1 Jumadil Akhir 1442 H) Jam 08.30 WIB. "Beliau wafat dalam keadaan Negatif Covid," kata Habib Abdurrahman Alhabsyi (Ketua Yayasan Syekh Ali Jaber) Kamis (14/1/2021).
Simak Video: Syekh Ali Jaber Meninggal, Ustadz Yusuf Mansur: Kita Kehilangan Ahli Alquran
Menjadi Penghafal Al-Qur'an dan Guru Tahfizh
Syekh Ali Jaber, sapaan akrab dari Syekh Ali Saleh Mohammed Ali Jaber. Beliau adalah salah seorang ulama dari Kota Nabi, lahir di Madinah Al-Munawarah pada tanggal 3Shafar 1396 Hijriyah, bertepatan dengan tanggal 3 Februari 1976 M. Beliau menjalani pendidikan, baik formal maupun informal, di Madinah.
Sebagai anak pertama dari 12 bersaudara, Syekh Ali Jaber dituntut untuk meneruskan perjuangan ayahnya dalam syiar Islam. Meski awalnya adalah keinginan sang ayah, lama-kelamaan ia menyadari itu sebagai kebutuhannya sendiri.
Sejak kedatangannya ke Indonesia tahun 2008, dakwahnya mendapat respons yang cukup baik dari masyarakat luas. Beliau terus giat dakwah dari perkotaan hingga ke pelosok-pelosok daerah, sehingga mendapatkan penghargaan dari Presiden Republik Indonesia pada tahun 2011 dianugerahi kehormatan menjadi WNI. Sejak itulah beliau merasa mendapat amanah yang harus diemban untuk terus berdakwah atas nama Indonesia dan untuk Indonesia.
Sejak kecil, Syekh Ali Jaber telah menekuni Al-Qur'an. Ayahandanya awalnya memotivasi Ali Jaber untuk belajar Al-Quran, karena dalam kitab suci itu terdapat semua ilmu Allah. Dalam mendidik agama, khususnya Al-Qur'an dan shalat, ayahnya sangat keras, bahkan tidak segan-segan memukul bila Ali Jaber kecil tidak menjalankan shalat.
Ini implementasi dari hadis Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم yang membolehkan memukul anak apabila usia 7 tahun tidak melaksanakan shalat fardhu. Keluarganya dikenal sebagai keluarga yang religius. Di Madinah beliau memiliki masjid besar yang digunakan untuk syiar Islam. Sebagai anak pertama dari dua belas bersaudara, Syekh Ali Jaber dituntut untuk meneruskan perjuangan ayahnya dalam syiar Islam. Meski pada awalnya apa yang ia jalani adalah keinginan sang ayah, lama-kelamaan ia menyadari itu sebagai kebutuhannya sendiri.
Tidak mengherankan, di usianya yang masih terbilang belia, 11 tahun, Syekh Ali Jaber telah hafal 30 juz Al-Qur'an. Sejak itu pula Syekh Ali memulai berdakwah mengajarkan ayat-ayat Allah di masjid tersebut, kemudian belanjut ke masjid lainnya. Selama di Madinah, ia juga aktif sebagai guru tahfizh Al-Qur'an di Masjid Nabawi dan menjadi Imam besar shalat di salah satu masjid di Kota Madinah.
Baca Juga: Syekh Ali Jaber Hafiz Al-Qur'an Sejak Umur 11 Tahun
Di Indonessia, beliau menjadi Imam Tarawih di Masjid Sunda Kelapa Jakarta Tahun 2008, kemudian melebarkan sayap dakwahnya hingga ke Indonesia. Kebetulan beliau menikahi seorang gadis asli Lombok, bernama Umi Nadia, yang lama tinggal di Madinah.
Lihat Juga :