11 Karakteristik Hamba Allah yang Terbaik Menurut Al-Qur'an
Sabtu, 16 Januari 2021 - 17:01 WIB
loading...
Pribadi yang bertakwa inilah pribadi terbaik yang diinginkan Allah Taala. Dan, para Rasul hingga orang beriman terus mengejar predikat sebagai hamba terbaik. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Perintah Allah Ta'ala dalam Al Qur'an telah banyak menyerukan kepada hamba-Nya agar menjadi pribadi yang bertakwa . Allah Ta'ala telah memberikan banyak kunci dan jalan agar seorang muslim menjadi muttaqin (orang yang bertakwa). Antara lain dengan perintah menjalankan syariat Allah dengan kaffah (menyeluruh), misalnya berpuasa di bulan Ramadan.
Firman Allah Ta'ala :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Al Baqarah ; 183).
Baca juga: Ketika Menikah Tanpa Restu Orang Tua
Pribadi yang bertakwa inilah pribadi terbaik yang diinginkan Allah Ta'ala. Dan, para Rasul hingga orang beriman terus mengejar predikat sebagai hamba terbaik. Telah banyak hamba Allah yang terbaik yang telah mendahului kita. Mereka dari kalangan nabi, orang-orang shidiq, para syuhada’, dan orang-orang saleh .
Baca juga : Banyak Keutamaan Bersedekah, Namun Hati-hati Jika Melakukannya dengan Harta Haram
Lantas, apakah kita, manusia yang hidup di akhir zaman ini, masih memiliki peluang untuk menjadi hamba yang dikasihi dan dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala? Ketahuilah, Allah subhanahu wata’ala tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya dalam kebingungan dan kesulitan, selama ia bersungguh-sungguh ingin menggapai ridha-Nya. Dan sesunggguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Pada setiap masalah, Allah subhanahu wata’ala siapkan solusi.
Allah subhanahu wata’ala berjanji dalam firman-Nya,
فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ
“Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5)
Lalu, bagaimana cara menjadi hamba Allah yang terbaik? Menjadi hamba Allah yang terbaik, karakternya dijelaskan dalam Surat al-Furqan ayat 63 – 74. Karakter-karakter tersebut, disebutkan sebagai berikut :
1. Tawadhu’, tenang, dan bermartabat
Hamba yang dicintai Allah Subhanahu wa ta’ala adalah kaum beriman yang berkarakter tawadhu’, beradab, tenang dalam bersikap, dan tetap bermartabat di tengah kehidupan sosial.
Baca juga: Kisah Sahabat yang Disuruh Rasulullah Menikah
Allah Ta'ala berfirman,
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا
“Adapun hamba-hamba Dzat Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati.” (QS. Al-Furqan: 63)
2. Mengabaikan sikap orang jahil
Bagaimana cara menyikapi jika diajak bicara oleh orang jahil tentang hal-hal yang tidak bermanfaat, mengundang maksiat, atau bahkan menyesatkan? Caranya dengan tidak menggubris pembicaraan mereka. Menjauhkan diri dari kerumunan mereka.
Orang-orang jahil tetap harus didakwahi supaya kembali ke jalan yang benar. Pelaksananya adalah orang yang memiliki kemampuan untuk mendakwahi mereka. Namun jika bukan dalam rangka mendakwahi mereka, atau tidak memiliki kemampuan untuk mendakwahi mereka, sikap yang paling tepat adalah menjaga lisan dan mengabaikan obrolan mereka. Menolak kejahatan mereka dengan kebaikan atau cara yang baik.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا
“Dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan ‘salam.’” (QS. Al-Furqan: 63)
Baca juga: Jadikan Rumah sebagai 'Majelis Ilmu' Terbaik Bagi Anak
Dalam ayat lain Allah subhanahu wata’ala juga berfirman,
وَاِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ اَعْرَضُوْا عَنْهُ وَقَالُوْا لَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْ ۖسَلٰمٌ عَلَيْكُمْ ۖ لَا نَبْتَغِى الْجٰهِلِيْنَ
“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya dan berkata, ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, semoga selamatlah kamu, kami tidak ingin (bergaul) dengan orang-orang bodoh.’” (QS. Al-Qashash: 55)
Firman Allah Ta'ala :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Al Baqarah ; 183).
Baca juga: Ketika Menikah Tanpa Restu Orang Tua
Pribadi yang bertakwa inilah pribadi terbaik yang diinginkan Allah Ta'ala. Dan, para Rasul hingga orang beriman terus mengejar predikat sebagai hamba terbaik. Telah banyak hamba Allah yang terbaik yang telah mendahului kita. Mereka dari kalangan nabi, orang-orang shidiq, para syuhada’, dan orang-orang saleh .
Baca juga : Banyak Keutamaan Bersedekah, Namun Hati-hati Jika Melakukannya dengan Harta Haram
Lantas, apakah kita, manusia yang hidup di akhir zaman ini, masih memiliki peluang untuk menjadi hamba yang dikasihi dan dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala? Ketahuilah, Allah subhanahu wata’ala tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya dalam kebingungan dan kesulitan, selama ia bersungguh-sungguh ingin menggapai ridha-Nya. Dan sesunggguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Pada setiap masalah, Allah subhanahu wata’ala siapkan solusi.
Allah subhanahu wata’ala berjanji dalam firman-Nya,
فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ
“Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5)
Lalu, bagaimana cara menjadi hamba Allah yang terbaik? Menjadi hamba Allah yang terbaik, karakternya dijelaskan dalam Surat al-Furqan ayat 63 – 74. Karakter-karakter tersebut, disebutkan sebagai berikut :
1. Tawadhu’, tenang, dan bermartabat
Hamba yang dicintai Allah Subhanahu wa ta’ala adalah kaum beriman yang berkarakter tawadhu’, beradab, tenang dalam bersikap, dan tetap bermartabat di tengah kehidupan sosial.
Baca juga: Kisah Sahabat yang Disuruh Rasulullah Menikah
Allah Ta'ala berfirman,
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا
“Adapun hamba-hamba Dzat Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati.” (QS. Al-Furqan: 63)
2. Mengabaikan sikap orang jahil
Bagaimana cara menyikapi jika diajak bicara oleh orang jahil tentang hal-hal yang tidak bermanfaat, mengundang maksiat, atau bahkan menyesatkan? Caranya dengan tidak menggubris pembicaraan mereka. Menjauhkan diri dari kerumunan mereka.
Orang-orang jahil tetap harus didakwahi supaya kembali ke jalan yang benar. Pelaksananya adalah orang yang memiliki kemampuan untuk mendakwahi mereka. Namun jika bukan dalam rangka mendakwahi mereka, atau tidak memiliki kemampuan untuk mendakwahi mereka, sikap yang paling tepat adalah menjaga lisan dan mengabaikan obrolan mereka. Menolak kejahatan mereka dengan kebaikan atau cara yang baik.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا
“Dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan ‘salam.’” (QS. Al-Furqan: 63)
Baca juga: Jadikan Rumah sebagai 'Majelis Ilmu' Terbaik Bagi Anak
Dalam ayat lain Allah subhanahu wata’ala juga berfirman,
وَاِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ اَعْرَضُوْا عَنْهُ وَقَالُوْا لَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْ ۖسَلٰمٌ عَلَيْكُمْ ۖ لَا نَبْتَغِى الْجٰهِلِيْنَ
“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya dan berkata, ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, semoga selamatlah kamu, kami tidak ingin (bergaul) dengan orang-orang bodoh.’” (QS. Al-Qashash: 55)
Lihat Juga :