Pesan Aa Gym Tentang Kematian, Kita Cuma Numpang Hidup

loading...
Pesan Aa Gym Tentang Kematian, Kita Cuma Numpang Hidup
Pengasuh Ponpes Daarut Tauhiid Bandung KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Foto/Ist
Kematian adalah sesuatu yang pasti dan semua makhluk akan mengalaminya. Bagi seorang mukmin, kematian adalah kenikmatan setelah menjalani kelelahan dan kesulitan di dunia. Sedangkan bagi orang kafir, kematian adalah sebuah penyesalan.

Berikut nasihat Pengasuh Ponpes Daarut Tauhiid Bandung KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) tentang kematian yang sangatmenggetarkan hati.

Baca Juga: Aa Gym: Dahsyatnya Keutamaan Mendoakan Orang Lain

Ketika nanti kita meninggal, secara umum akan ada tiga macam reaksi orang-orang. Pertama, orang orang yang bereaksi seperti orang yang sedang lewat. Misalnya dia berkata, "Si Eta meninggal, ya? Nggak disangka, padahal kemarin masih ada. "Sekadar begitu, dan dia langsung lupa karena kesibukannya.



Kedua, orang orang terdekat atau teman-teman kita biasanya mereka akan mendoakan dan mengucapkan belasungkawa baik secara langsung kepada keluarga kita, melalui telepon atau SMS, maupun status di media sosial. Bagi yang sempat, paling hanya mengantar jenazah kita ke kuburan. Setelah selesai, mereka kembali sibuk dengan pekerjaannya. Ada pun pekerjaan kita pun langsung ada yang menggantikan.

Ketiga, keluarga memang lebih merasakan sedih. Tetapi kesedihan itu paling juga beberapa minggu atau bulan, dan tahun depannya sudah tidak lagi. Harta warisan sudah dibagikan, dan pakaian-pakaian kita sudah disedekahkan. Kalau misalkan suami atau istri meninggal di usia muda, mungkin pasangan yang ditinggal sudah menikah lagi.

Jadi, orang-orang segera lupa dalam kesibukannya masing-masing. Tetapi kita yang meninggal, justru baru memulai kehidupan yang sebenarnya di alam-kubur. Kita mulai babak belur dengan perhitungan demi perhitungan. Sehingga keliru kalau kita suka berpikir takut mati. Karena saat di kubur itulah kehidupan kita yang asli dimulai.

Oleh sebab itu, saudaraku, jangan suka menyebut atau memamerkan amal-amal kita. Biarlah ia menjadi bekal kita pulang ke kehidupan yang sebenarnya. Bahkan, sebetulnya bukan kita yang berbuat baik. Kita hanya jalan kebaikan dari Allah. Baru menjadi amal kalau kita ikhlas.

Setiap kita cuma menumpang hidup dan diberi bagian akting saja. Seperti, mungkin di antara saudara yang sedang membaca tulisan ini ada yang nanti bakal menjadi presiden. Boleh jadi, karena Pak SBY dan Pak Jokowi dulunya juga tidak tahu kalau akan menjadi presiden. Yang mengetahui hanya Allah.
halaman ke-1
cover top ayah
وَ ذَا النُّوۡنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنۡ لَّنۡ نَّـقۡدِرَ عَلَيۡهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنۡ لَّاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنۡتَ سُبۡحٰنَكَ ‌ۖ اِنِّىۡ كُنۡتُ مِنَ الظّٰلِمِيۡنَ‌
Dan ingatlah kisah Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, "Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zhalim."

(QS. Al-Anbiya:87)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video