Aa Gym: Dahsyatnya Keutamaan Mendoakan Orang Lain

loading...
Aa Gym: Dahsyatnya Keutamaan Mendoakan Orang Lain
Pengasuh Ponpes Daarut Tauhiid Bandung KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Foto/Ist
Dai kondang yang juga pengasuh Ponpes Daarut Tauhiid Bandung KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) menyampaikan tausiyah tentang keutamaan mendoakan sesama. Nasihat ini sangat menyentuh hati terlebih saat ini Indonesia sedang dilanda banyak musibah.

Dalam pergaulan sehari-hari, kita pastinya pernah diminta oleh saudara, tetangga, teman, atau kenalan lainnya, untuk mendoakannya. "Tolong doakan saya yaa!" atau "Mohon doanya!" Entah saat itu dia sedang menghadapi ujian di sekolah, hendak mencari kerja, memulai sebuah usaha, atau pun bersyukur atas kelahiran anaknya.

Baca Juga: Anjuran Berdoa dan Keutamaan Mendoakan Orang Lain

"Sebetulnya, tanpa diminta pun sebaliknya kita mendoakan mereka. Ambil contoh, ketika ada seseorang yang selalu berbuat baik kepada kita, doakanlah dia. Atau, dalam sebuah urusan kita terpaksa meminta bantuan seseorang, dan saat itu kita tidak mampu membalasnya. Maka, selain mengucap terima kasih, doakanlah dia dengan ikhlas," kata Aa Gym dalam tausiyahnyadimedia sosial belum lama ini.

Kita sangat layak untuk membalas kebaikan orang-orang yang rajin menolong atau mereka yang sering terbebani oleh kita. Yang dituntut oleh Islam sekadar membalas, akan tetapi membalas dengan sesuatu yang lebih baik. Kalau tidak bisa, ucapkanlah terima kasih dengan tulus, lalu serius dan ikhlas mendoakannya. Mengapa demikian? Tujuannya adalah agar kemuliaan ('Izzah) kita tetap terjaga dan tidak lantas turun menjadi beban bagi orang lain.

Doakanlah mereka selepas sholat yang lima waktu. Atau kalau ingin lebih leluasa, doakan mereka selepas Tahajud. Berdoalah sesering dan sebanyak mungkin. Mohon kan agar Allah Ta'ala melimpahi aneka kebaikan, dimudahkan segala urusannya dan dijauhkan dari bala bencana, Sesungguhnya, Allah tidak akan pernah bosan mendengar dan mengabulkan doa kita.

Tidak perlu kita beritahukan apa doa kita kepadanya, semisal lewat SMS. Misalnya, selepas Tahajud kita kirim dia pesan visa SMS atau WA. "Ya Allah, di saat yang mustajab, hamba mendoakan sahabatku ini. Balas lah semua kebaikannya. Engkaulah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Kabulkanlah, yaa Tuhanku Yang Maha Pemurah."

Jika demikian, apakah benar kita mendoakan dia? Atau, sebenarnya kita hanya memberi informasi, bahwa kita sedang Tahajud dan kita teringat kepadanya. Lalu merasa kalau sering WA akan diartikan saleh sehingga dia mau menikah dengan kita?

Hal terpenting dalam mendoakan orang lain bukan agar dia tahu kalau kita sudah mendoakannya, akan tetapi bagaimana agar dia tersebut diijabah Allah. "Apabila salah seorang mendoakan saudaranya sesama muslim tanpa diketahui oleh yang didoakan, maka para Malaikat berkata 'Amin' dan semoga engkau memperoleh pula seperti apa yang engkau doakan itu." (HR Muslim dan Abu Daud)

Dari sahabat Abu Ad-Darda' radhiyallahu'anhu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
halaman ke-1
cover top ayah
وَقُلْ لِّـلۡمُؤۡمِنٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ اَبۡصَارِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوۡجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَا‌ وَلۡيَـضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوۡبِهِنَّ‌ۖ وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اٰبَآٮِٕهِنَّ اَوۡ اٰبَآءِ بُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اَبۡنَآٮِٕهِنَّ اَوۡ اَبۡنَآءِ بُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اِخۡوَانِهِنَّ اَوۡ بَنِىۡۤ اِخۡوَانِهِنَّ اَوۡ بَنِىۡۤ اَخَوٰتِهِنَّ اَوۡ نِسَآٮِٕهِنَّ اَوۡ مَا مَلَـكَتۡ اَيۡمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيۡنَ غَيۡرِ اُولِى الۡاِرۡبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفۡلِ الَّذِيۡنَ لَمۡ يَظۡهَرُوۡا عَلٰى عَوۡرٰتِ النِّسَآءِ‌ۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِاَرۡجُلِهِنَّ لِيُـعۡلَمَ مَا يُخۡفِيۡنَ مِنۡ زِيۡنَتِهِنَّ‌ ؕ وَتُوۡبُوۡۤا اِلَى اللّٰهِ جَمِيۡعًا اَيُّهَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ
Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.

(QS. An-Nur:31)
cover bottom ayah
preload video