Ada Kaitan Komet dengan Malapetaka? Ini Penjelasan Ahli Falak NU
Minggu, 17 Mei 2020 - 16:00 WIB
loading...
A
A
A
(Baca juga: Kiamat Sudah Dekat, Dajjal Sudah Muncul di Masa Nabi? )
Beberapa daerah yang menggelar pengamatan komet ini adalah Lembaga Falakiyah PCNU Ponorogo di Kota Ponorogo, Jawa Timur. Pengamatan yang dilakukan oleh Sekretaris LFNU Ponorogo Ahmad Junaidi, ini dilaksanakan menjelang Subuh dengan menggunakan teleskop kreasinya sendiri pada Kamis (7/5).
Pengamatan yang sama juga dilakukan pada waktu berbeda oleh Hendro Setyanto, wakil ketua Lembaga Falakiyah PBNU di kota Lembang (Jawa Barat). Ia melakukan pengamatan pada Senin (4/5) menjelang Shubuh melalui observatorium pribadinya yang bernama Imah Noong, tak jauh dari lokasi Observatorium Bosscha.
"Meski menyelenggarakan dua pengamatan berbeda pada waktu dan lokasi yang berbeda pula, hasil yang diperoleh relatif serupa. Komet SWAN masih sangat sulit dilihat oleh mata tanpa alat bantu optik. Jika menggunakan teleskop dan kamera yang memadai, komet SWAN nampak sebagai bintik cahaya samar berselimutkan pendar warna kehijauan. Jadi berbeda dengan ketampakan bintang ataupun planet. Warna hijau tersebut dihasilkan oleh molekul-molekul sianogen dan karbon diatomik yang tereksitasi akibat paparan cahaya Matahari," jelas Ma'rufin.
Jadi berdasar observasi LFNU ini menegaskan bahwa komet SWAN memang ada di lintasannya sesuai dengan yang diperhitungkan. Komet ini merupakan komet parabolik, karena bergerak menyusuri lintasan yang berbentuk parabola atau hampir mendekati parabola. Karenanya komet ini mungkin hanya sekali mengunjungi bagian dalam tata surya. Untuk kemudian akan kembali menjauh menuju ke tepian tata surya, melata menyusuri tempat-tempat yang dingin membekukan. (Baca juga: Tanda-Tanda Sudah Ada, Benarkah Kiamat Akan Datang Pada Hari Jumat? )
Beberapa daerah yang menggelar pengamatan komet ini adalah Lembaga Falakiyah PCNU Ponorogo di Kota Ponorogo, Jawa Timur. Pengamatan yang dilakukan oleh Sekretaris LFNU Ponorogo Ahmad Junaidi, ini dilaksanakan menjelang Subuh dengan menggunakan teleskop kreasinya sendiri pada Kamis (7/5).
Pengamatan yang sama juga dilakukan pada waktu berbeda oleh Hendro Setyanto, wakil ketua Lembaga Falakiyah PBNU di kota Lembang (Jawa Barat). Ia melakukan pengamatan pada Senin (4/5) menjelang Shubuh melalui observatorium pribadinya yang bernama Imah Noong, tak jauh dari lokasi Observatorium Bosscha.
"Meski menyelenggarakan dua pengamatan berbeda pada waktu dan lokasi yang berbeda pula, hasil yang diperoleh relatif serupa. Komet SWAN masih sangat sulit dilihat oleh mata tanpa alat bantu optik. Jika menggunakan teleskop dan kamera yang memadai, komet SWAN nampak sebagai bintik cahaya samar berselimutkan pendar warna kehijauan. Jadi berbeda dengan ketampakan bintang ataupun planet. Warna hijau tersebut dihasilkan oleh molekul-molekul sianogen dan karbon diatomik yang tereksitasi akibat paparan cahaya Matahari," jelas Ma'rufin.
Jadi berdasar observasi LFNU ini menegaskan bahwa komet SWAN memang ada di lintasannya sesuai dengan yang diperhitungkan. Komet ini merupakan komet parabolik, karena bergerak menyusuri lintasan yang berbentuk parabola atau hampir mendekati parabola. Karenanya komet ini mungkin hanya sekali mengunjungi bagian dalam tata surya. Untuk kemudian akan kembali menjauh menuju ke tepian tata surya, melata menyusuri tempat-tempat yang dingin membekukan. (Baca juga: Tanda-Tanda Sudah Ada, Benarkah Kiamat Akan Datang Pada Hari Jumat? )
(mhy)
Lihat Juga :