Ada Kaitan Komet dengan Malapetaka? Ini Penjelasan Ahli Falak NU

Minggu, 17 Mei 2020 - 16:00 WIB
loading...
Ada Kaitan Komet dengan...
Komet SWAN: PBNU tidak secara resmi menginstruksikan menggelar pengamatan. Foto/Ist
A A A
JAKARTA - Umat manusia telah lama mengenali komet dalam sejarah peradabannya. Dan selama lebih dari 2.000 tahun terakhir kerap mengaitkan ketampakan komet dengan peristiwa atau malapetaka buruk yang sedang atau akan menimpa. Biang keladi terbentuknya pemahaman ini adalah filsuf Aristoteles, yang kemudian terus diwariskan dari generasi ke generasi.

"Catatan-catatan pengamatan komet dalam literatur falak klasik yang merentang 8,5 abad lamanya, tepatnya dari tahun 57 H hingga 915 H, tidak menunjukkan kecenderungan tersebut," ungkap fungsionaris Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) Ma'rufin Sudibyo seperti dikutip laman resmi Nahdlatul Ulama, NU Online, terkait fenomena ini, Sabtu (16/5). (Baca juga: 3 Kelompok Manusia Ini Tidak Merasakan Ketakutan di Hari Kiamat )

Dalam literatur falakiyah klasik, jelas Ma'rufin, komet disebut sebagai najm dhu dhu’aba atau kawkab dhu dhu’aba. Dalam bentuk pendek disebut dhu’aib atau dhanab. Semua memiliki arti sebagai bintang yang berambut atau bintang yang berekor.

Ada pendapat bahwa benda langit ini secara simbolik disebut najm tsaqib dan tersurat dalam Al-Qur'an khususnya Surat ath–Thaariq ayat 3. Najm tsaqib bermakna bintang yang menembus dan diinterpretasikan sebagai bintang yang bentuknya mirip mata tombak atau jarum, salah satu ciri khas ketampakan komet.

Pengamatan pada Komet SWAN Terkait dengan komet, pada pertengahan bulan Ramadhan 1441 H, LF PBNU telah melakukan pengamatan dan mencatat data dari sebuah komet yang yang tidak setiap saat ada di langit malam.

"Komet adalah benda langit berbentuk gumpalan seukuran bukit hingga gunung yang melayang di langit menyusuri orbit khasnya. Komet tersusun atas pasir dan batu yang diikat oleh es dan bekuan senyawa-senyawa ringan (volatil) lainnya. Saat mendekati Matahari dalam perjalanan menyusuri orbitnya, panas Matahari menyebabkan es dan bekuan tersebut mulai menguap," jelas Ma'rufin.

Selanjutnya uap mendorong butir-butir debu dan pasir hingga tersembur ke angkasa, menyerupai situasi letusan gunung berapi jangka panjang. Dan akhirnya tekanan angin Matahari membuat serakan butir-butir debu dan pasir terdorong ke sepanjang lintasan yang telah dilewati komet. Itulah yang terlihat sebagai bentuk ekor komet yang khas, yang kedudukannya selalu menjauhi posisi Matahari.

"Komet yang diamati LFNU dikenal sebagai komet SWAN, yang dikodekan sebagai C/2020 F8 berdasarkan aturan IAU (International Astronomical Union). Komet ini mendapatkan namanya karena pertama kali terlihat melalui kamera SWAN (Solar Wind Anisotropy) yang terpasang di wahana antariksa SOHO (Solar and Heliospheric Observatory)," jelas Ma'rufin.
(Baca juga: Inilah Tanda-tanda Kiamat Besar dan Kiamat Kecil )

Begitu ditemukan, lanjutnya, perhitungan-perhitungan menunjukkan komet SWAN diperkirakan akan mulai memasuki ambang batas kemampuan mata manusia pada bulan Mei. Dengan kata lain bisa dilihat oleh mata manusia tanpa alat bantu apapun, asalkan langit sempurna dan lingkungan dalam kondisi gelap.

"Lembaga Falakiyah PBNU tidak secara resmi menginstruksikan menggelar pengamatan komet SWAN. Namun sebagai lembaga yang beranggotakan para ahli falak yang sebagian di antaranya memiliki kualifikasi setara astronom umumnya, terbit inisiatif untuk menggelar pengamatan akan komet SWAN di sejumlah lokasi," tambahnya.

(Baca juga: Kiamat Sudah Dekat, Dajjal Sudah Muncul di Masa Nabi? )

Beberapa daerah yang menggelar pengamatan komet ini adalah Lembaga Falakiyah PCNU Ponorogo di Kota Ponorogo, Jawa Timur. Pengamatan yang dilakukan oleh Sekretaris LFNU Ponorogo Ahmad Junaidi, ini dilaksanakan menjelang Subuh dengan menggunakan teleskop kreasinya sendiri pada Kamis (7/5).

Pengamatan yang sama juga dilakukan pada waktu berbeda oleh Hendro Setyanto, wakil ketua Lembaga Falakiyah PBNU di kota Lembang (Jawa Barat). Ia melakukan pengamatan pada Senin (4/5) menjelang Shubuh melalui observatorium pribadinya yang bernama Imah Noong, tak jauh dari lokasi Observatorium Bosscha.

"Meski menyelenggarakan dua pengamatan berbeda pada waktu dan lokasi yang berbeda pula, hasil yang diperoleh relatif serupa. Komet SWAN masih sangat sulit dilihat oleh mata tanpa alat bantu optik. Jika menggunakan teleskop dan kamera yang memadai, komet SWAN nampak sebagai bintik cahaya samar berselimutkan pendar warna kehijauan. Jadi berbeda dengan ketampakan bintang ataupun planet. Warna hijau tersebut dihasilkan oleh molekul-molekul sianogen dan karbon diatomik yang tereksitasi akibat paparan cahaya Matahari," jelas Ma'rufin.

Jadi berdasar observasi LFNU ini menegaskan bahwa komet SWAN memang ada di lintasannya sesuai dengan yang diperhitungkan. Komet ini merupakan komet parabolik, karena bergerak menyusuri lintasan yang berbentuk parabola atau hampir mendekati parabola. Karenanya komet ini mungkin hanya sekali mengunjungi bagian dalam tata surya. Untuk kemudian akan kembali menjauh menuju ke tepian tata surya, melata menyusuri tempat-tempat yang dingin membekukan. (Baca juga: Tanda-Tanda Sudah Ada, Benarkah Kiamat Akan Datang Pada Hari Jumat? )
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Menag Nasaruddin Umar:...
Menag Nasaruddin Umar: NU Mampu Menjembatani Peradaban Timur dan Barat
Ngeri! Inilah Tanda-tanda...
Ngeri! Inilah Tanda-tanda Wanita Akhir Zaman yang Sudah Menjadi Kenyataan.
Inilah Benteng Terakhir...
Inilah Benteng Terakhir Pertahanan Umat Islam Jika Perang Akhir Zaman Terjadi
Huru-hara di Ambang...
Huru-hara di Ambang Kiamat : Nubuat Nabi SAW Mulai Terbukti?
Konflik Global & Nubuwat:...
Konflik Global & Nubuwat: Benarkah Perang AS-Israel vs Iran Adalah Al-Malhamah Al-Kubra?
Palestina Menang, Akankah...
Palestina Menang, Akankah Kiamat Segera Terjadi?
Rekomendasi
Berdenyut Cepat dan...
Berdenyut Cepat dan 5 Fakta Mengerikan Keadaan Bumi sedang Kritis
Robot Ini Ungkap Kisah...
Robot Ini Ungkap Kisah Bangkai Kapal Berusia 600 Tahun di Norwegia
Gara-gara Cheetos Jatuh...
Gara-gara Cheetos Jatuh Picu Kekacauan Ekosistem di Gua Terbesar di AS
Artikel Terkini
Bolehkah Menggabungkan...
Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Sunnah?
Tahun Baru Islam 1448...
Tahun Baru Islam 1448 H Jadi Momentum Kebangkitan Umat Islam Hadapi Tantangan Global
Puasa Tasua, Keutamaan...
Puasa Tasua, Keutamaan dan Jadwal Pelaksanaannya
Tak Banyak yang Tahu,...
Tak Banyak yang Tahu, Ini 7 Larangan di Bulan Muharram
Ucapkan Selamat Tahun...
Ucapkan Selamat Tahun Baru 1448 Hijriah, Menag Ajak Umat Jaga Persatuan
Jadwal Puasa Muharam...
Jadwal Puasa Muharam 1448 H Tahun 2026, Kapan Puasa Tasu'a dan Asyura Dilaksanakan?
Infografis
Mayoritas Muslim, Ini...
Mayoritas Muslim, Ini 3 Negara dengan Masjid Terbanyak di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved