Tausiyah Aa Gym tentang Kisah Pemuda dan Bungkusan Misterius
Senin, 22 Februari 2021 - 19:46 WIB
loading...
Pengasuh Ponpes Daarut Tauhiid Bandung KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Foto/Ist
A
A
A
Dai yang juga Pengasuh Ponpes Daarut Tauhiid Bandung KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) menyampaikan satu kisah hikmah dalam satu tausiyahnya yang dilansir dari media sosial beliau. Kisah ini mengajarkan banyak pentingnya keikhlasan dalam berbuat baik.
Berikut kisahnya, seorang hamba Allah bertutur, "Ketika itu aku tinggal di samping Kota Makkah, sebuah kota yang semoga selalu dalam penjagaan Allah Ta'ala. Suatu hari aku sangat lapar, sementara aku tidak mendapatkan makanan yang dapat mengganjal rasa laparku.
Baca Juga: Sepenggal Mutiara Kisah dari Aa Gym
Tanpa aku duga aku menemukan sebuah bungkusan berbalut kain sutra diikat kaos kaki dari kain sutra pula. Maka tanpa pikir panjang bungkusan itu aku pungut lalu aku bawa ke rumah dan kubuka. Ternyata berisi seuntai kalung mutiara yang seumur hidup aku belum pernah melihatnya.
Setelah itu, aku keluar rumah. Aku mendengar seorang kakek sedang mencari sebuah bungkusan yang hilang. Dia menjanjikan hadiah sebesar 500 dinar. Kakek itu berkata, 'Barangsiapa menemukan bungkusan berisi kalung mutiara, uang 500 dinar ini akan aku berikan sebagai imbalan kepada penemunya
Aku berkata pada diriku sendiri. Aku sangat butuh, aku sangat lapar, aku bisa mengambil kalung ini dan memanfaatkannya. Tapi aku akan mengembalikannya
Aku berkata pada kakek itu, 'Marilah kita ke rumah. Aku pun membawanya ke rumahku. Setibanya di rumah, sang kakek menyebutkan ciri-ciri bungkusan yang hilang, diikat kaos kaki, jenis mutiara, jumlah dan benang yang digunakan untuk mengikat mutiara tersebut.
Kemudian aku serahkan bungkusan tadi kepada kakek tersebut. Dia pun memberikan kepadaku 500 dinar sebagai imbalan. Namun, aku menolak. Aku hanya berkata, 'Sudah menjadi kewajibanku untuk mengembalikan temuan ini kepada pemiliknya dengan tanpa mengambil upah.'
Sang kakek berkata, "Kamu harus menerima uang ini". Dia terus memaksaku untuk mengambil upah tersebut. Aku tidak mau menerimanya sehingga dia pun pergi meninggalkanku.
Adapun cerita mengenai diriku selanjutnya bahwasanya aku meninggalkan Makkah dengan menumpang sebuah perahu. Tanpa aku duga perahu itu oleng. Orang-orang pun bercerai-berai berikut seluruh hartanya. Namun, aku selamat dari musibah ini berpegangan salah satu papan perahu tersebut.
Beberapa hari aku berada di tengah lautan tanpa arah. Tiba-tiba aku terdampar di sebuah pulau yang berpenduduk. Aku menuju masjid untuk membaca Al-Qur'an. Di kampung itu tidak ada seorang pun yang bisa membaca Al-Qur'an. Kemudian mereka mendatangiku untuk meminta mengajari mereka membaca Al-Qur'an. Dari taklimku ini aku bisa mengumpulkan sejumlah uang.
Suatu hari, aku menemukan beberapa lembar Al-Qur'an di dalam masjid. Lembaran itu aku pungut. Orang orang pun bertanya, Apakah kamu bisa menulis?" Aku jawab, 'Ya Kemudian mereka memintaku untuk mengajari tulis menulis termasuk pada anak-anak dan remaja mereka.'
Sejak itu aku mengajari mereka, aku pun bisa mengumpulkan sejumlah uang. Suatu hari masyarakat kampung ini berkata kepadaku, "Kami mempunyai seorang gadis yatim sangat kaya, bagaimana jika kamu menyuntingnya?' Aku menolak tawaran mereka. Mereka tetap memaksaku untuk menikahi gadis tersebut. Akhirnya aku terima tawaran mereka.
Berikut kisahnya, seorang hamba Allah bertutur, "Ketika itu aku tinggal di samping Kota Makkah, sebuah kota yang semoga selalu dalam penjagaan Allah Ta'ala. Suatu hari aku sangat lapar, sementara aku tidak mendapatkan makanan yang dapat mengganjal rasa laparku.
Baca Juga: Sepenggal Mutiara Kisah dari Aa Gym
Tanpa aku duga aku menemukan sebuah bungkusan berbalut kain sutra diikat kaos kaki dari kain sutra pula. Maka tanpa pikir panjang bungkusan itu aku pungut lalu aku bawa ke rumah dan kubuka. Ternyata berisi seuntai kalung mutiara yang seumur hidup aku belum pernah melihatnya.
Setelah itu, aku keluar rumah. Aku mendengar seorang kakek sedang mencari sebuah bungkusan yang hilang. Dia menjanjikan hadiah sebesar 500 dinar. Kakek itu berkata, 'Barangsiapa menemukan bungkusan berisi kalung mutiara, uang 500 dinar ini akan aku berikan sebagai imbalan kepada penemunya
Aku berkata pada diriku sendiri. Aku sangat butuh, aku sangat lapar, aku bisa mengambil kalung ini dan memanfaatkannya. Tapi aku akan mengembalikannya
Aku berkata pada kakek itu, 'Marilah kita ke rumah. Aku pun membawanya ke rumahku. Setibanya di rumah, sang kakek menyebutkan ciri-ciri bungkusan yang hilang, diikat kaos kaki, jenis mutiara, jumlah dan benang yang digunakan untuk mengikat mutiara tersebut.
Kemudian aku serahkan bungkusan tadi kepada kakek tersebut. Dia pun memberikan kepadaku 500 dinar sebagai imbalan. Namun, aku menolak. Aku hanya berkata, 'Sudah menjadi kewajibanku untuk mengembalikan temuan ini kepada pemiliknya dengan tanpa mengambil upah.'
Sang kakek berkata, "Kamu harus menerima uang ini". Dia terus memaksaku untuk mengambil upah tersebut. Aku tidak mau menerimanya sehingga dia pun pergi meninggalkanku.
Adapun cerita mengenai diriku selanjutnya bahwasanya aku meninggalkan Makkah dengan menumpang sebuah perahu. Tanpa aku duga perahu itu oleng. Orang-orang pun bercerai-berai berikut seluruh hartanya. Namun, aku selamat dari musibah ini berpegangan salah satu papan perahu tersebut.
Beberapa hari aku berada di tengah lautan tanpa arah. Tiba-tiba aku terdampar di sebuah pulau yang berpenduduk. Aku menuju masjid untuk membaca Al-Qur'an. Di kampung itu tidak ada seorang pun yang bisa membaca Al-Qur'an. Kemudian mereka mendatangiku untuk meminta mengajari mereka membaca Al-Qur'an. Dari taklimku ini aku bisa mengumpulkan sejumlah uang.
Suatu hari, aku menemukan beberapa lembar Al-Qur'an di dalam masjid. Lembaran itu aku pungut. Orang orang pun bertanya, Apakah kamu bisa menulis?" Aku jawab, 'Ya Kemudian mereka memintaku untuk mengajari tulis menulis termasuk pada anak-anak dan remaja mereka.'
Sejak itu aku mengajari mereka, aku pun bisa mengumpulkan sejumlah uang. Suatu hari masyarakat kampung ini berkata kepadaku, "Kami mempunyai seorang gadis yatim sangat kaya, bagaimana jika kamu menyuntingnya?' Aku menolak tawaran mereka. Mereka tetap memaksaku untuk menikahi gadis tersebut. Akhirnya aku terima tawaran mereka.
Lihat Juga :