Ali bin Abi Thalib Khawatir Tak Dapat Berjumpa Rasulullah di Hari Kiamat
Selasa, 23 Februari 2021 - 12:13 WIB
loading...
A
A
A
Bagaimana lugu dan cara hidupnya yang berada di bawah tingkat sederhana itu diungkapkan oleh Uqbah bin Alqamah, yang mengisahkan pengalaman sendiri, sebagai berikut: "Pada satu hari aku berkunjung ke rumah Ali bin Abi Thalib r.a. Kulihat ia sedang memegang sebuah mangkuk berisi susu yang sudah berbau asam. Bau sengak susu itu sangat menusuk hidungku. Kutanyakan kepadanya: "Ya Amiral Mukminin, mengapa anda sampai makan seperti itu?"
"Hai Abal Janub," jawabnya, "Rasulullah SAW dulu minum susu yang jauh lebih basi dibanding dengan susu ini. Beliau juga mengenakan pakaian yang jauh lebih kasar daripada bajuku ini (sambil menunjuk kepada baju yang sedang dipakainya). Kalau aku sampai tidak dapat melakukan apa yang sudah dilakukan oleh beliau, aku khawatir tak akan dapat berjumpa dengan beliau di hari kiamat nanti."
Baca juga: Benarkah Nabi Melarang Ali Memadu Fatimah? Istri Ali Berjumlah 9 dan Dianugerahi 19 Anak
Ali bin Abu Thalib r.a. sebagai seorang saleh, zuhud, tahan menderita dan sanggup membebaskan diri dari kesenangan duniawi, belum pernah makan sampai merasa kenyang. Makanannya bermutu sangat rendah dan pakaiannya pun hampir tak ada harganya.
Abdullah bin Rafi' menceritakan penyaksiannya sendiri sebagai berikut: "Pada suatu hari raya aku datang ke rumah Ali bin Abu Thalib r.a. Ia sedang memegang sebuah kantong tertutup rapat berisi roti yang sudah kering dari remuk. Kulihat roti itu dimakannya. Aku bertanya keheran-heranan: "Ya Amiral Mukminin, bagaimana roti seperti itu sampai anda simpan rapat-rapat?"
"Aku khawatir," sahut Ali bin Abu Thalib r.a., "kalau sampai dua orang anakku itu mengolesinya dengan samin atau minyak makan."
Tidak jarang pula Ali bin Abu Thalib r.a. memakai baju robek yang ditambalnya sendiri. Kadang-kadang ia memakai baju katun berwarna putih, tebal dan kasar. Jika ada bagian baju yang ukuran panjangnya lebih dari semestinya, ia potong sendiri dengan pisau dan tidak perlu dijahit lagi. Bila makan bersama orang lain, ia tetap menahan tangan, sampai daging yang ada di hadapannya habis dimakan orang.
Bila makan seorang diri dengan lauk, maka lauknya tidak lain hanyalah cuka dan garam. Selebihnya dari itu ia hanya makan sejenis tumbuh-tumbuhan. Makan yang lebih baik dari itu ialah dengan sedikit susu unta. Ia tidak makan daging kecuali sedikit saja.
Kepada orang lain ia sering berkata: "Janganlah perut kalian dijadikan kuburan hewan!"
Sungguh pun tingkat penghidupannya serendah itu, Ali bin Abu Thalib r.a. mempunyai kekuatan jasmani yang luar biasa. Lapar seolah-olah tidak mengurangi kekuatan tenaganya. Ia benar-benar bercerai dengan kenikmatan duniawi. Padahal jika ia mau, kekayaan bisa mengalir kepadanya dari berbagai pelosok wilayah Islam, kecuali Syam. Semuanya itu dihindarinya dan sama sekali tidak menggiurkan seleranya. (Bersambung)
Baca juga: Selain Amirul Mukminin, Ini Penyebab Ali Bin Abu Thalib Bergelar Imam
"Hai Abal Janub," jawabnya, "Rasulullah SAW dulu minum susu yang jauh lebih basi dibanding dengan susu ini. Beliau juga mengenakan pakaian yang jauh lebih kasar daripada bajuku ini (sambil menunjuk kepada baju yang sedang dipakainya). Kalau aku sampai tidak dapat melakukan apa yang sudah dilakukan oleh beliau, aku khawatir tak akan dapat berjumpa dengan beliau di hari kiamat nanti."
Baca juga: Benarkah Nabi Melarang Ali Memadu Fatimah? Istri Ali Berjumlah 9 dan Dianugerahi 19 Anak
Ali bin Abu Thalib r.a. sebagai seorang saleh, zuhud, tahan menderita dan sanggup membebaskan diri dari kesenangan duniawi, belum pernah makan sampai merasa kenyang. Makanannya bermutu sangat rendah dan pakaiannya pun hampir tak ada harganya.
Abdullah bin Rafi' menceritakan penyaksiannya sendiri sebagai berikut: "Pada suatu hari raya aku datang ke rumah Ali bin Abu Thalib r.a. Ia sedang memegang sebuah kantong tertutup rapat berisi roti yang sudah kering dari remuk. Kulihat roti itu dimakannya. Aku bertanya keheran-heranan: "Ya Amiral Mukminin, bagaimana roti seperti itu sampai anda simpan rapat-rapat?"
"Aku khawatir," sahut Ali bin Abu Thalib r.a., "kalau sampai dua orang anakku itu mengolesinya dengan samin atau minyak makan."
Tidak jarang pula Ali bin Abu Thalib r.a. memakai baju robek yang ditambalnya sendiri. Kadang-kadang ia memakai baju katun berwarna putih, tebal dan kasar. Jika ada bagian baju yang ukuran panjangnya lebih dari semestinya, ia potong sendiri dengan pisau dan tidak perlu dijahit lagi. Bila makan bersama orang lain, ia tetap menahan tangan, sampai daging yang ada di hadapannya habis dimakan orang.
Bila makan seorang diri dengan lauk, maka lauknya tidak lain hanyalah cuka dan garam. Selebihnya dari itu ia hanya makan sejenis tumbuh-tumbuhan. Makan yang lebih baik dari itu ialah dengan sedikit susu unta. Ia tidak makan daging kecuali sedikit saja.
Kepada orang lain ia sering berkata: "Janganlah perut kalian dijadikan kuburan hewan!"
Sungguh pun tingkat penghidupannya serendah itu, Ali bin Abu Thalib r.a. mempunyai kekuatan jasmani yang luar biasa. Lapar seolah-olah tidak mengurangi kekuatan tenaganya. Ia benar-benar bercerai dengan kenikmatan duniawi. Padahal jika ia mau, kekayaan bisa mengalir kepadanya dari berbagai pelosok wilayah Islam, kecuali Syam. Semuanya itu dihindarinya dan sama sekali tidak menggiurkan seleranya. (Bersambung)
Baca juga: Selain Amirul Mukminin, Ini Penyebab Ali Bin Abu Thalib Bergelar Imam
(mhy)
Lihat Juga :