Hati-hati, Jenis-Jenis Perbuatan Dzalim yang Tak Sadar Sering Dilakukan
Rabu, 24 Februari 2021 - 09:00 WIB
loading...
Dalam Al-Quran sendiri, kata dzalim dan yang seakar diulang sebanyak 289 kali. Hal ini menandakan bahwa dzalim merupakan sesuatu yang seringkali dilakukan oleh banyak manusia. Foto istimewa
A
A
A
Makna dzalim adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, baik mengurangi, menambahi, ataupun menyimpang. Sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dan menurunkannya di bumi dengan satu tujuan yang jelas , yakni untuk beribadah kepada Allah, menjalani segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Baca juga: Hukum Mengolok-Olok Hijab
Namun, karena manusia adalah makhluk yang lemah dan tak luput dari dosa, terkadang mereka lupa hingga akhirnya berbuat sesuatu yang tidak seharusnya. Dalam Al-Quran sendiri, kata dzalim dan yang seakar diulang sebanyak 289 kali. Hal ini menandakan bahwa dzalim merupakan sesuatu yang seringkali dilakukan oleh banyak manusia.
Tentang dzalim, al-Ashfihani dalam 'Mufradât Alfâdzh Al-Quran' menukil dari para bijak bahwa dzalim itu ada tiga macam yakni kedzaliman antara manusia dengan Allah SWT, seperti berbuat musyrik. Kedzaliman antar sesama manusia yakni berbuat dosa sosial dan kedzaliman terhadap diri sendiri yaitu berbuat dosa yang nantinya merugikan diri sendirinya.
Baca juga: Amalan Sebelum Tidur yang Diwasiatkan Rasulullah
Sedangkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan, bahwa terdapat dua jenis kedzaliman, pertama adalah zalim terkait dengan hak Allah dan yang kedua terkait dengan hak hamba. Berikut penjelasannya:
1. Kedzaliman terhadap hak Allah
Salah satu bentuk kedzaliman terbesar terkait dengan hak Allah adalah sebuah kesyirikan.
Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya, “dosa apa yang paling besar?” kemudian beliau menjawab, “Engkau menjadikan sesuatu sebagai sekutu bagi Allah, padahal Allah yang menciptakanmu,” (HR. Bukhari dan Muslim).
Allah Ta’ala berfirman, “....Sesungguhnya kesyirikan adalah kedzaliman yang terbesar” (QS. Luqman: 13).
Baca juga: Pernikahan Sang Pengantin Langit, Hanzhalah dan Jamilah
Dzalim adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Adapun syirik adalah menyamakan Dzat Tuhan Pencipta yang Maha Memberi kenikmatan dengan makhluk yang tidak mampu memberi kenikmatan, bahkan tidak bisa berbuat apa-apa. (Zubatut Tafsir Min Fathil Qadir/Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, Tafsirweb).
Tingkatan selanjutnya adalah kedzaliman berupa dosa-dosa besar dan setelahnya dosa-dosa kecil.
2. Kedzaliman terhadap hak hamba
Mengenai kedzaliman terhadap hak seorang hamba, maka hal ini akan dijelaskan berdasarkan tigal hal. sesuai dengan hadis yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam khutbahnya ketika haji Wada, beliau bersabda, “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, semuanya haram atas sesama kalian. Sebagaimana haramnya hari ini, bulan ini, di tanah kalian ini.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Baca juga: Bayam Makanan Canggih, Bisa Lindungi Astronot dari Radiasi Luar Angkasa
Pertama, kedzaliman terhadap jiwa. Kedzaliman ini adalah saat seseorang berbuat melebihi batas kepada sesama Muslim dengan menyakiti secara fisik, baik dengan memukul, memerangi, membunuhnya atau menumpahkan darahnya.
Kedua, kedzaliman terhadap harta. Kedzaliman dari bentuk ini adalah saat seseorang berbuat dengan melebih batas sesama Muslim dalam masalah harta. Seperti enggan membayarkan yang wajib di keluarkan, atau dnegan melakukan hal yang haram dalam masalah harta, meninggalkan hal wajib atau melakukan sesuatu yang diharamkan terhadap harta orang lain.
Baca juga: PP 7/2021 Terbit, Teten Optimis Koperasi dan UMKM Dipermudah
Ketiga, kedzaliman terhadap kehormatan. Kehormatan ini tekait dengan berbuat sesuatu yang melebihi batas kepada sesama Muslim. Seperti melakukan zina, liwath (sodomi), qodzaf dan lainnya. Semua jenis ini haram hukumnya, tertulis dalam Syarah Riyadus Shallihin.
Selain itu, kedzaliman terhadap kehormatan ini juga termasuk saat seorang muslim mencari-cari kesalahan, mencaci, menggunjing, menyebarkan aib atau menuduh saudar muslim lainnya dengan tuduhan yang tidak jelas. Sehingga hal itu bisa menjadi fotnah dan menghancurkan kehormatannya serta menyakiti hatinya.
Baca juga: Mediasi Pembangunan Musala Grand Wisata Deadlock, Warga Kembali Datangi PN Cikarang
Allah Ta'ala berfirman,
“Dan janganlah kamu mencari-cari keburukan orang lain , dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.....”(Q.S.Al-Hujurat: 12).
Ketika seseorang melakukan dua jenis kedzaliman di atas, maka sesungguhnya ia telah berbuat dzalim pada dirinya sendiri. Karena ia adalah makhluk hidup yang Allah ciptakan untuk beribadah kepada-Nya, yaitu dengan cara menaati segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Maka saat ia melanggar hal tersebut, sesungguhnya ia telah menempatkan dirinya pada tempat yang tidak sesuai dengan penciptaan, inilah yang disebut dengan kedzaliman.
Baca juga: Diguyur Hujan Deras, Semarang Jadi Kota Banjir
Sebagaimana tertulis dalam Al-Qur'an, Allah Ta'ala berfirman,
ثُمَّ اَوۡرَثۡنَا الۡكِتٰبَ الَّذِيۡنَ اصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۚ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِهٖۚ وَمِنۡهُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ۚ وَمِنۡهُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَيۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰهِؕ ذٰلِكَ هُوَ الۡفَضۡلُ الۡكَبِيۡرُؕ
“..........di antara hamba Kami ada yang menzalimi dirinya sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang berlomba berbuat kebaikan” (QS. Fathir: 32).
As Sa’di mengatakan: “ada yang mendzalimi dirinya, yaitu dengan maksiat” (Tafsir Karimirrahman).
Semoga kita terhindar dari kedua jenis kedzaliman ini dan hati kita selalu berada di jalan yang lurus.
Wallahu A’lam.
Baca juga: Hukum Mengolok-Olok Hijab
Namun, karena manusia adalah makhluk yang lemah dan tak luput dari dosa, terkadang mereka lupa hingga akhirnya berbuat sesuatu yang tidak seharusnya. Dalam Al-Quran sendiri, kata dzalim dan yang seakar diulang sebanyak 289 kali. Hal ini menandakan bahwa dzalim merupakan sesuatu yang seringkali dilakukan oleh banyak manusia.
Tentang dzalim, al-Ashfihani dalam 'Mufradât Alfâdzh Al-Quran' menukil dari para bijak bahwa dzalim itu ada tiga macam yakni kedzaliman antara manusia dengan Allah SWT, seperti berbuat musyrik. Kedzaliman antar sesama manusia yakni berbuat dosa sosial dan kedzaliman terhadap diri sendiri yaitu berbuat dosa yang nantinya merugikan diri sendirinya.
Baca juga: Amalan Sebelum Tidur yang Diwasiatkan Rasulullah
Sedangkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan, bahwa terdapat dua jenis kedzaliman, pertama adalah zalim terkait dengan hak Allah dan yang kedua terkait dengan hak hamba. Berikut penjelasannya:
1. Kedzaliman terhadap hak Allah
Salah satu bentuk kedzaliman terbesar terkait dengan hak Allah adalah sebuah kesyirikan.
Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya, “dosa apa yang paling besar?” kemudian beliau menjawab, “Engkau menjadikan sesuatu sebagai sekutu bagi Allah, padahal Allah yang menciptakanmu,” (HR. Bukhari dan Muslim).
Allah Ta’ala berfirman, “....Sesungguhnya kesyirikan adalah kedzaliman yang terbesar” (QS. Luqman: 13).
Baca juga: Pernikahan Sang Pengantin Langit, Hanzhalah dan Jamilah
Dzalim adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Adapun syirik adalah menyamakan Dzat Tuhan Pencipta yang Maha Memberi kenikmatan dengan makhluk yang tidak mampu memberi kenikmatan, bahkan tidak bisa berbuat apa-apa. (Zubatut Tafsir Min Fathil Qadir/Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, Tafsirweb).
Tingkatan selanjutnya adalah kedzaliman berupa dosa-dosa besar dan setelahnya dosa-dosa kecil.
2. Kedzaliman terhadap hak hamba
Mengenai kedzaliman terhadap hak seorang hamba, maka hal ini akan dijelaskan berdasarkan tigal hal. sesuai dengan hadis yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam khutbahnya ketika haji Wada, beliau bersabda, “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, semuanya haram atas sesama kalian. Sebagaimana haramnya hari ini, bulan ini, di tanah kalian ini.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Baca juga: Bayam Makanan Canggih, Bisa Lindungi Astronot dari Radiasi Luar Angkasa
Pertama, kedzaliman terhadap jiwa. Kedzaliman ini adalah saat seseorang berbuat melebihi batas kepada sesama Muslim dengan menyakiti secara fisik, baik dengan memukul, memerangi, membunuhnya atau menumpahkan darahnya.
Kedua, kedzaliman terhadap harta. Kedzaliman dari bentuk ini adalah saat seseorang berbuat dengan melebih batas sesama Muslim dalam masalah harta. Seperti enggan membayarkan yang wajib di keluarkan, atau dnegan melakukan hal yang haram dalam masalah harta, meninggalkan hal wajib atau melakukan sesuatu yang diharamkan terhadap harta orang lain.
Baca juga: PP 7/2021 Terbit, Teten Optimis Koperasi dan UMKM Dipermudah
Ketiga, kedzaliman terhadap kehormatan. Kehormatan ini tekait dengan berbuat sesuatu yang melebihi batas kepada sesama Muslim. Seperti melakukan zina, liwath (sodomi), qodzaf dan lainnya. Semua jenis ini haram hukumnya, tertulis dalam Syarah Riyadus Shallihin.
Selain itu, kedzaliman terhadap kehormatan ini juga termasuk saat seorang muslim mencari-cari kesalahan, mencaci, menggunjing, menyebarkan aib atau menuduh saudar muslim lainnya dengan tuduhan yang tidak jelas. Sehingga hal itu bisa menjadi fotnah dan menghancurkan kehormatannya serta menyakiti hatinya.
Baca juga: Mediasi Pembangunan Musala Grand Wisata Deadlock, Warga Kembali Datangi PN Cikarang
Allah Ta'ala berfirman,
“Dan janganlah kamu mencari-cari keburukan orang lain , dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.....”(Q.S.Al-Hujurat: 12).
Ketika seseorang melakukan dua jenis kedzaliman di atas, maka sesungguhnya ia telah berbuat dzalim pada dirinya sendiri. Karena ia adalah makhluk hidup yang Allah ciptakan untuk beribadah kepada-Nya, yaitu dengan cara menaati segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Maka saat ia melanggar hal tersebut, sesungguhnya ia telah menempatkan dirinya pada tempat yang tidak sesuai dengan penciptaan, inilah yang disebut dengan kedzaliman.
Baca juga: Diguyur Hujan Deras, Semarang Jadi Kota Banjir
Sebagaimana tertulis dalam Al-Qur'an, Allah Ta'ala berfirman,
ثُمَّ اَوۡرَثۡنَا الۡكِتٰبَ الَّذِيۡنَ اصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۚ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِهٖۚ وَمِنۡهُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ۚ وَمِنۡهُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَيۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰهِؕ ذٰلِكَ هُوَ الۡفَضۡلُ الۡكَبِيۡرُؕ
“..........di antara hamba Kami ada yang menzalimi dirinya sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang berlomba berbuat kebaikan” (QS. Fathir: 32).
As Sa’di mengatakan: “ada yang mendzalimi dirinya, yaitu dengan maksiat” (Tafsir Karimirrahman).
Semoga kita terhindar dari kedua jenis kedzaliman ini dan hati kita selalu berada di jalan yang lurus.
Wallahu A’lam.
(wid)
Lihat Juga :