Asal Usul Sholawat Ibrahimiyah yang Jarang Diketahui Orang
Kamis, 18 Maret 2021 - 17:54 WIB
loading...
A
A
A
Keempat, Nabi Ibrahim mengajak umat melaksanakan ibadah haji, sedangkan Nabi Muhammad mengajak kepada iman. Maka Allah mengumpulkan keduanya dalam sebutan yang baik. (Syekh Nawawi, Murah Labid-Tafsir an-Nawawi, Surabaya: Darul Ilmi, hal. 35)
"Empat alasan sebagaimana dijelaskan Syekh Nawawi menunjukkan adanya kedekatan secara batin antara Nabi Ibrahim dengan Nabi Muhammad. Logis sekali karena Nabi Muhammad merupakan keturunan Nabi Ibrahim dari garis Sayyid Abdullah hingga Nabi Ismail ‘alaihissalam," jelas Ustaz Jaenuri.
Contoh lain persambungan antara Nabi Muhammad dengan Nabi Ibrahim adalah berlakunya sebagian syariat Nabi Ibrahim bagi umat Nabi Muhammad. Penjelasan ini dapat dilihat dalam tafsir an-Nawawi ayat 124 Al-Baqarah: "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya” (QS Al-Baqarah[2]: 142).
Ibn Abbas mendefinisikan kata بِكَلِمَاتٍ (beberapa kalimat):
وهي عشر خصال كانت فرضا في شرعه وهي سنة في شرعنا
"Yaitu 10 hal yang merupakan kewajiban bagi syariat Nabi Ibrahim, dan sunnah bagi syariat kita (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam). Sepuluh hal tersebut dibagi atas dua yaitu lima terdapat di kepala dan lima lainnya di badan."
Lima di kepala meliputi; berkumur, menghirup air ke hidung, memakai siwak, mencukur jenggot, dan mencukur rambut kepala. Lima di badan meliputi; khitan (sunat), mencukur rambut kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan cebok menggunakan air. (Syekh Nawawi, Murah Labid-Tafsir an-Nawawi, Surabaya: Darul Ilmi, hal. 33)
Kekaguman Nabi Ibrahim
Disebutkan dalam kisah lain gambaran kekaguman Nabi Ibrahim kepada umat Nabi Muhammad. Syekh Nawawi dalam karyanya Qami’ at-Tughyan, menyebutkan
وكان يكنى أبا الضيفان وأراد أن يجعل لأمة محمد صلى الله عليه وسلم ضيافة إلى يوم القيامة
Nabi Ibrahim memiliki satu keinginan yaitu menjamu umat Nabi Muhammad (menjadikannya tamu) hingga hari kiamat. (lihat: syekh Muhammad Nawawi Bin Umar, Qami’ at-Tughyan, Indonesia: Haramain, hal. 22).
"Empat alasan sebagaimana dijelaskan Syekh Nawawi menunjukkan adanya kedekatan secara batin antara Nabi Ibrahim dengan Nabi Muhammad. Logis sekali karena Nabi Muhammad merupakan keturunan Nabi Ibrahim dari garis Sayyid Abdullah hingga Nabi Ismail ‘alaihissalam," jelas Ustaz Jaenuri.
Contoh lain persambungan antara Nabi Muhammad dengan Nabi Ibrahim adalah berlakunya sebagian syariat Nabi Ibrahim bagi umat Nabi Muhammad. Penjelasan ini dapat dilihat dalam tafsir an-Nawawi ayat 124 Al-Baqarah: "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya” (QS Al-Baqarah[2]: 142).
Ibn Abbas mendefinisikan kata بِكَلِمَاتٍ (beberapa kalimat):
وهي عشر خصال كانت فرضا في شرعه وهي سنة في شرعنا
"Yaitu 10 hal yang merupakan kewajiban bagi syariat Nabi Ibrahim, dan sunnah bagi syariat kita (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam). Sepuluh hal tersebut dibagi atas dua yaitu lima terdapat di kepala dan lima lainnya di badan."
Lima di kepala meliputi; berkumur, menghirup air ke hidung, memakai siwak, mencukur jenggot, dan mencukur rambut kepala. Lima di badan meliputi; khitan (sunat), mencukur rambut kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan cebok menggunakan air. (Syekh Nawawi, Murah Labid-Tafsir an-Nawawi, Surabaya: Darul Ilmi, hal. 33)
Kekaguman Nabi Ibrahim
Disebutkan dalam kisah lain gambaran kekaguman Nabi Ibrahim kepada umat Nabi Muhammad. Syekh Nawawi dalam karyanya Qami’ at-Tughyan, menyebutkan
وكان يكنى أبا الضيفان وأراد أن يجعل لأمة محمد صلى الله عليه وسلم ضيافة إلى يوم القيامة
Nabi Ibrahim memiliki satu keinginan yaitu menjamu umat Nabi Muhammad (menjadikannya tamu) hingga hari kiamat. (lihat: syekh Muhammad Nawawi Bin Umar, Qami’ at-Tughyan, Indonesia: Haramain, hal. 22).
Lihat Juga :