Ini Alasan Mengapa Rasulullah Menjadikan Syaban Sebagai Bulan Berpuasa

loading...
Ini Alasan Mengapa Rasulullah Menjadikan Syaban Sebagai Bulan Berpuasa
Berpuasa di bulan Syaban merupakan amalan yang sangat mulia sebagaimana Rasululah menjadikannnya sebagai bulan berpuasa. Foto/Ist
Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjadikan Syaban sebagai bulan berpuasa sebelum masuknya bulan suci Ramadhan. Bahkan beliau biasa menyambungnya dengan puasa Ramadhan. Mengapa Rasulullah memilih bulan Syaban, bukan bulan yang lain?

Dalam Mukhtashar Latho'iful Ma'arif Imam Ibnu Rajab yang dirangkum oleh Ahmad Bin Utsman Al-Mazyad dijelaskan bahwa amalan utama di bulan Sya'ban adalah berpuasa. Imam Ahmad dan An-Nasa'i meriwayatkan dari Hadis Usamah bin Zaid.

Baca Juga: Selamat Datang Bulan Sya'ban, Berikut 5 Keutamaannya

Beliau berkata: " Rasulullah biasa berpuasa beberapa hari berturut-turut hingga kami mengatakan bahwa beliau tidak pernah tidak berpuasa, dan beliau tidak berpuasa beberapa hari hingga beliau hampir-hampir tidak pernah berpuasa, kecuali dua hari dari satu Jum'at (yakni dua hari dalam sepekan) jika memang keduanya masuk ke dalam puasa beliau, dan jika tidak, maka beliau pun berpuasa pada kedua hari tersebut. Dan beliau tidak pernah berpuasa di bulan-bulan lainnya sebanyak beliau berpuasa di Bulan Sya'ban.

Maka aku berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya Anda berpuasa di mana hampir-hampir Anda tidak pernah tidak berpuasa, dan Anda tidak berpuasa hingga hampir-hampir Anda tidak berpuasa kecuali dua hari jika keduanya masuk ke dalam puasa Anda, dan jika tidak, maka Anda pun berpuasa pada kedua hari tersebut.'



Beliau bertanya: 'Dua hari yang mana?' Aku menjawab, 'Hari Senin dan Hari Kamis.' Beliau bersabda: 'Itu adalah dua hari di mana amal-amal dihadapkan kepada Tuhan semesta alam, maka aku suka agar amalku dihadapkan pada saat aku sedang berpuasa.' Aku berkata, 'Aku tidak pernah melihat Anda berpuasa pada bulan-bulan lainnya sebanyak Anda
berpuasa pada Bulan Sya'ban. '

Beliau bersabda: 'Itu adalah bulan yang sering dilalaikan oleh manusia antara Rajab dan Ramadhan, yang merupakan bulan di mana amal-amal diangkat kepada Tuhan semesta alam. Maka aku suka agar amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa'."

Hadits di atas menyebutkan tentang puasa Rasulullah dari seluruh tahun, puasanya beliau dari hari-hari dalam seminggu, dan puasanya beliau dari bulan-bulan dalam setahun. Adapun puasanya beliau dari setahun, maka beliau terkadang terus-menerus berpuasa dan terkadang terus-menerus tidak berpuasa. Di mana beliau berpuasa hingga dikatakan beliau tak pernah tidak berpuasa, dan sebaliknya. Hal ini juga diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah, Ibnu Abbas, Anas dan lainnya.

Adapun puasa Nabi صلى الله عليه وسلم dari bulan-bulan dalam setahun, maka beliau biasa berpuasa pada bulan Sya'ban dengan puasa yang banyak yang tidak pernah beliau lakukan di bulan-bulan lainnya. Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Aisyah, bahwa beliau berkata: "Aku tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali pada Bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa dalam satu bulan yang lebih banyak daripada puasa pada Bulan Sya'ban."

Dalam salah satu riwayat, Imam Al-Bukhari memberikan tambahan: "Beliau pernah berpuasa pada Bulan Sya'ban sebulan penuh."

Dalam riwayat An-Nasa'i dari Aisyah, beliau berkata: "Bulan yang paling disukai oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk berpuasa (padanya) adalah Bulan Sya'ban. Beliau biasa menyambungnya dengan puasa Ramadhan."

Alasan Mengapa Rasulullah Memilih Sya'ban
Pertama, bahwa Sya'ban merupakan bulan yang dilalaikan oleh manusia antara Rajab dan Ramadhan. Nabi صلى الله عليه وسلم mengisyaratkan bahwa ketika bulan ini diapit oleh dua bulan yang agung, yakni bulan haram dan bulan puasa, maka orang-orang menyibukkan diri dengan kedua bulan itu, sehingga bulan ini menjadi terlalaikan. Dan banyak orang mengira bahwa puasa di bulan Rajab itu lebih utama daripada puasa di Bulan Sya'ban, karena Rajab merupakan bulan haram, padahal tidak demikian.

Kedua, di dalam hadits di atas juga terkandung dalil disunnahkannya memakmurkan waktu-waktu yang dilalaikan manusia dengan melakukan ketaatan. Dan hal itu disukai oleh Allah Ta'ala sebagaimana sekelompok orang dari kalangan Salaf menyukai menghidupkan waktu antara Sholat Maghrib dan Sholat Isya dengan melakukan sholat, dan mereka mengatakan bahwa itu adalah waktu yang sering dilalaikan manusia.

Untuk diketahui, Sya'ban berasal dari kata Syi'b yang berarti kelompok. Dinamakan begitu karena ketika masuk bulan Sya'ban, orang-orang Arab kembali ke kelompok (suku) mereka masing-masing. Mereka berkelompok lagi untuk berperang setelah sebelumnya pada bulan Rajab mereka duduk di rumah masing-masing.

Ulama Salaf Abu Bakar Al-Warroq Al-Balkhi rahimahullah pernah berkata: "Bulan Rajab adalah bulan untuk menanam, bulan Sya'ban adalah bulan menyirami tanaman, dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen tanaman tersebut". Di bulan ini juga terjadi peristiwa penting yaitu, turunnya ayat perintah bersholawat (QS Al-Ahzab Ayat 56). Kemudian terjadinya tahwil Kiblat (peralihan Kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram). Di bulan ini juga terdapat malam yang sangat diberkahi yaitu Nisfhu Sya'ban (malam 15 Sya'ban).

Demikian keutamaan bulan Sya'ban. Semoga Allah memberkahi kita di bulan Sya'ban dan menyampaikan kita ke bulan suci Ramadhan.

Baca Juga: Amalan Malam Nisfu Sya'ban, Insya Allah Malam Senin 28 Maret 2021
(rhs)
cover top ayah
وَلَقَدۡ فَتَـنَّا الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِهِمۡ‌ فَلَيَـعۡلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيۡنَ صَدَقُوۡا وَلَيَعۡلَمَنَّ الۡكٰذِبِيۡنَ
Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.

(QS. Al-'Ankabut:3)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!