Kisah Hikmah: Menyembunyikan Kebaikan

loading...
Kisah Hikmah: Menyembunyikan Kebaikan
Sungguh besar keutamaan orang yang menyembunyikan kebaikannya, namun ketika amalan shalihnya, ternyata kepergok orang, hendaknya ia tetap mengikhlaskan amalnya. Foto ilustrasi/ist
Menyembunyikan kebaikan dan kehebatan yang dimiliki akan bernilai baik manakala disertai dengan niat ikhlas lillahi ta'ala. Namun, menampakkan kebaikan sebagai sarana untuk mengajak orang lain agar juga mau berbuat baik, juga dianjurkan.

Baca juga: Yuk, Tahan Lisan untuk Mengomentari Makanan

Hikmah menyembunyikan kebaikan dan kehebatan diri ini, tercermin dari sebuah kisah yang terdapat dalam kitab 'Karamat al-Awliya’ karya Hibatullah bin al-Hasan al-Thabari Al-Lalakai, berikut ini:

Pada suatu masa, Kota Makkah sedang dilanda kemarau. Orang-orang pun berkumpul di Masjidil Haram untuk melaksanakan sholat istisqa’ (sholat untuk meminta hujan). Sayangnya, hujan tak kunjung turun.

Baca juga: Meneladani Adab dan Gaya Hidup Rasulullah Soal Makanan

Abdullah bin Mubarak adalah salah satu peserta sholat istisqa’ itu. Di sampingnya, ada seseorang berkulit hitam dan begitu kurus (sebut saja Fulan). Fulan berdoa, “Ya Allah, orang-orang berdoa kepadaMu namun tidak Engkau kabulkan. Sekarang, aku memohon kepadaMu agar Engkau berkenan menurunkan hujan kepada kami!”

Tak lama setelah itu, hujan pun turun dengan sangat lebat. Fulan kemudian pergi. Abdullah mengikutinya dari belakang. Hingga akhirnya, Abdullah mengetahui tempat singgah si Fulan tersebut, yakni di suatu tempat perdagangan budak. Setelah itu, Abdullah pulang ke rumahnya.

Baca juga: Malaikat Mu’aqibat, Inilah Malaikat Para Penjaga Manusia

Esok harinnya, Abdullah mendatangi tempat penjualan budak itu, berniat untuk membeli si Fulan. Kepada pemilik toko, Abdullah berkata, “Aku akan membeli seorang budak”. Pemilik toko mengeluarkan empat puluh budak miliknya, agar Abdullah bisa memilih mana yang ia suka. Sayangnya, Fulan sama sekali tak terlihat ada di antara budak-budak itu. Abudllah bertanya, “Masih ada lagi?”.

“Ada. Namun budak yang satu ini sakit-sakitan,” jawab pemilik toko kepada Abdullah.
halaman ke-1
cover top ayah
لَـتَجِدَنَّ اَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّـلَّذِيۡنَ اٰمَنُوا الۡيَهُوۡدَ وَالَّذِيۡنَ اَشۡرَكُوۡا‌ ۚ وَلَـتَجِدَنَّ اَ قۡرَبَهُمۡ مَّوَدَّةً لِّـلَّذِيۡنَ اٰمَنُوا الَّذِيۡنَ قَالُوۡۤا اِنَّا نَصٰرٰى‌ ؕ ذٰ لِكَ بِاَنَّ مِنۡهُمۡ قِسِّيۡسِيۡنَ وَرُهۡبَانًا وَّاَنَّهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُوۡنَ‏
Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan pasti akan kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.” Yang demikian itu karena di antara mereka terdapat para pendeta dan para rahib, (juga) karena mereka tidak menyombongkan diri.

(QS. Al-Maidah:82)
cover bottom ayah
preload video