Kisah Hikmah: Menyembunyikan Kebaikan
Minggu, 21 Maret 2021 - 16:31 WIB
loading...
Sungguh besar keutamaan orang yang menyembunyikan kebaikannya, namun ketika amalan shalihnya, ternyata ‘kepergok orang, hendaknya ia tetap mengikhlaskan amalnya. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Menyembunyikan kebaikan dan kehebatan yang dimiliki akan bernilai baik manakala disertai dengan niat ikhlas lillahi ta'ala. Namun, menampakkan kebaikan sebagai sarana untuk mengajak orang lain agar juga mau berbuat baik, juga dianjurkan.
Baca juga: Yuk, Tahan Lisan untuk Mengomentari Makanan
Hikmah menyembunyikan kebaikan dan kehebatan diri ini, tercermin dari sebuah kisah yang terdapat dalam kitab 'Karamat al-Awliya’ karya Hibatullah bin al-Hasan al-Thabari Al-Lalakai, berikut ini:
Pada suatu masa, Kota Makkah sedang dilanda kemarau. Orang-orang pun berkumpul di Masjidil Haram untuk melaksanakan sholat istisqa’ (sholat untuk meminta hujan). Sayangnya, hujan tak kunjung turun.
Baca juga: Meneladani Adab dan Gaya Hidup Rasulullah Soal Makanan
Abdullah bin Mubarak adalah salah satu peserta sholat istisqa’ itu. Di sampingnya, ada seseorang berkulit hitam dan begitu kurus (sebut saja Fulan). Fulan berdoa, “Ya Allah, orang-orang berdoa kepadaMu namun tidak Engkau kabulkan. Sekarang, aku memohon kepadaMu agar Engkau berkenan menurunkan hujan kepada kami!”
Tak lama setelah itu, hujan pun turun dengan sangat lebat. Fulan kemudian pergi. Abdullah mengikutinya dari belakang. Hingga akhirnya, Abdullah mengetahui tempat singgah si Fulan tersebut, yakni di suatu tempat perdagangan budak. Setelah itu, Abdullah pulang ke rumahnya.
Baca juga: Malaikat Mu’aqibat, Inilah Malaikat Para Penjaga Manusia
Esok harinnya, Abdullah mendatangi tempat penjualan budak itu, berniat untuk membeli si Fulan. Kepada pemilik toko, Abdullah berkata, “Aku akan membeli seorang budak”. Pemilik toko mengeluarkan empat puluh budak miliknya, agar Abdullah bisa memilih mana yang ia suka. Sayangnya, Fulan sama sekali tak terlihat ada di antara budak-budak itu. Abudllah bertanya, “Masih ada lagi?”.
“Ada. Namun budak yang satu ini sakit-sakitan,” jawab pemilik toko kepada Abdullah.
Baca juga: Yuk, Tahan Lisan untuk Mengomentari Makanan
Hikmah menyembunyikan kebaikan dan kehebatan diri ini, tercermin dari sebuah kisah yang terdapat dalam kitab 'Karamat al-Awliya’ karya Hibatullah bin al-Hasan al-Thabari Al-Lalakai, berikut ini:
Pada suatu masa, Kota Makkah sedang dilanda kemarau. Orang-orang pun berkumpul di Masjidil Haram untuk melaksanakan sholat istisqa’ (sholat untuk meminta hujan). Sayangnya, hujan tak kunjung turun.
Baca juga: Meneladani Adab dan Gaya Hidup Rasulullah Soal Makanan
Abdullah bin Mubarak adalah salah satu peserta sholat istisqa’ itu. Di sampingnya, ada seseorang berkulit hitam dan begitu kurus (sebut saja Fulan). Fulan berdoa, “Ya Allah, orang-orang berdoa kepadaMu namun tidak Engkau kabulkan. Sekarang, aku memohon kepadaMu agar Engkau berkenan menurunkan hujan kepada kami!”
Tak lama setelah itu, hujan pun turun dengan sangat lebat. Fulan kemudian pergi. Abdullah mengikutinya dari belakang. Hingga akhirnya, Abdullah mengetahui tempat singgah si Fulan tersebut, yakni di suatu tempat perdagangan budak. Setelah itu, Abdullah pulang ke rumahnya.
Baca juga: Malaikat Mu’aqibat, Inilah Malaikat Para Penjaga Manusia
Esok harinnya, Abdullah mendatangi tempat penjualan budak itu, berniat untuk membeli si Fulan. Kepada pemilik toko, Abdullah berkata, “Aku akan membeli seorang budak”. Pemilik toko mengeluarkan empat puluh budak miliknya, agar Abdullah bisa memilih mana yang ia suka. Sayangnya, Fulan sama sekali tak terlihat ada di antara budak-budak itu. Abudllah bertanya, “Masih ada lagi?”.
“Ada. Namun budak yang satu ini sakit-sakitan,” jawab pemilik toko kepada Abdullah.
Lihat Juga :