Renungan: Ingin Mendekati Tuhan? Berkhidmatlah kepada Sesama Manusia Dulu

loading...
Renungan: Ingin Mendekati Tuhan? Berkhidmatlah kepada Sesama Manusia Dulu
Ilustrasi/Ist
Cobalah merenung. Apakah hubungan kita dengan sesama sudah terjalin dengan baik? Adakah kita mencintai saudara kita itu?

Seorang murid bercerita kepada gurunya yang sufi . Ia mengaku bertemu orang suci. Orang itu dapat berjalan di atas air. Sang guru menjawab: “Sejak dulu katak juga dapat melakukannya.”

Lalu murid itu juga bercerita bahwa orang suci itu dapat terbang. “Lalat justru dapat melakukannya lebih baik,” begitu jawab guru sufi.

Baca juga: Renungan: Keserakahan dan Penyakit Iri

Lalu apakah ciri kesucian itu? "Cara terbaik untuk mendekati Tuhan adalah melakukan perkhidmatan sebaik-baiknya kepada sesama manusia, memasukkan kebahagiaan ke dalam hatinya," begitu pesan Abu Said Abul Khayr guru sufi itu.



Mencoba memahami hal itu sungguh tidak mudah. Jika ingin mendekati Tuhan, maka harus terlebih dulu berkhidmat kepada sesama manusia.

Mari kita kembali mengingat kisah Nabi Musa .

Satu kali, kaum Bani Israil mendatangi Musa, "Wahai Musa, kami ingin mengundang Tuhan untuk menghadiri jamuan makan kami. Bicaralah kepada Tuhan supaya Dia berkenan menerima undangan kami."

Dengan marah Musa menjawab, "Tidakkah kamu tahu bahwa Tuhan tidak memerlukan makanan?" Tetapi, ketika Musa menaiki bukit Sinai, Tuhan berkata kepadanya, "Kenapa tidak engkau sampaikan kepada-Ku undangan itu? Hamba-hamba-Ku telah mengundang Aku. Katakan kepada mereka, Aku akan datang pada pesta mereka Jumat petang."

Nabi Musa menyampaikan sabda Tuhan itu kepada umatnya. Berhari-hari mereka sibuk mempersiapkan pesta itu.

Pada Jumat sore, seorang tua tiba dalam keadaan lelah dari perjalanan jauh. "Saya lapar sekali," katanya kepada Musa. "Berilah aku makanan."

Musa berkata, "Sabarlah, Tuhan Rabbul Alamin akan datang. Ambillah ember ini dan bawalah air ke sini. Kamu juga harus memberikan bantuan."

Orang tua itu membawa air dan sekali lagi meminta makanan. Tapi tak seorang pun memberikan makanan sebelum Tuhan datang. Hari makin larut, dan akhirnya orang-orang mulai mengecam Musa yang dianggap telah memperdayakan mereka.

Musa menaiki bukit Sinai dan berkata, "Tuhanku, saya sudah dipermalukan di hadapan setiap orang karena Engkau tidak datang seperti yang Engkau janjikan."

Baca juga: Isra Miraj (6): Nabi Musa Menangis dan Nabi Ibrahim Duduk di Pintu Surga

Tuhan menjawab, "Aku sudah datang. Aku telah menemui kamu langsung, bahkan ketika Aku bicara kepadamu bahwa Aku lapar, kau menyuruh Aku mengambil air. Sekali lagi Aku minta, dan sekali lagi engkau menyuruh-Ku pergi. Baik kamu maupun umatmu tidak ada yang menyambut-Ku dengan penghormatan."

"Tuhanku, seorang tua memang pernah datang dan meminta makanan, tapi ia hanyalah manusia biasa," kata Musa.

"Aku bersama hamba-Ku itu. Sekiranya kamu memuliakan dia, kamu memuliakan Aku juga. Berkhidmat kepadanya berarti berkhidmat kepada-Ku. Seluruh langit terlalu kecil untuk meliputi-Ku, tetapi hanya hati hamba-Ku yang dapat meliputi-Ku. Aku tidak makan dan minum, tetapi menghormati hamba-Ku berarti menghormati Aku. Melayani mereka berarti melayani Aku."

Dari kisah itu kita takkan bisa mencintai Tuhan tanpa mencintai sesama manusia.
halaman ke-1
cover top ayah
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنۡ يُّتۡرَكُوۡۤا اَنۡ يَّقُوۡلُوۡۤا اٰمَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَـنُوۡنَ
Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman," dan mereka tidak diuji?

(QS. Al-'Ankabut:2)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!