Jadi Pusat Islah, Haedar: Perbedaan Pilihan Politik Jangan Dibawa ke Masjid

loading...
Jadi Pusat Islah, Haedar: Perbedaan Pilihan Politik Jangan Dibawa ke Masjid
Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir/Foto/Ilustrasi/muhammadiyah.or.id
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah , Prof Haedar Nashir , menyatakan masjid harus menjadi pusat pencerahan hati, alam pikiran, sikap dan tindakan setiap kaum muslim atau setiap muslim yang selalu beribadah di masjid ini.

“Setiap jamaah akan menjadi uswah khasanah, menjadi teladan yang baik, kebaikan dan kejujurannya dan segala hal serba makruf terpancar dalam kehidupan diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Masjid juga harus sebagai pusat tanwir, pusat pencerahaan yang diwujudkan dalam hablum minannas," ujar Haedar pada saat meresmikan pembangunan serambi Masjid Al Furqan Nitikan, Yogyakarta, Ahad (10/4/2021).

Baca juga: Dewan Imbau Warga Tarawih di Masjid Dekat Rumah Masing-masing

Ketika masjid menjadi pusat hablum minallah dan hablum minannas, kata Haedar, maka tidak ada masalah kita dalam kehidupan pribadi dengan masjid.

Masjid juga harus menjadi pusat islah, perdamaian. Perbedaan paham yang menyangkut pilihan kehidupan tidak menjadi dipertajam di masjid, namun ada islah dari masjid, perbedaan pilihan salah satunya pilihan politik dalam kehidupan jangan di bawa ke masjid.



“Masjid sebagai pusat islah harus memancarkan pencerahan bagi kehidupan masyarakat. Sebagai pusat amal sholeh, dari masjid ini harus lahir berbabagai amal sholeh dan amal kebaikan yang membawa nilai positif bagi siapa pun. Warga jamaah harus mengasah untuk Bersama-sama memancarkan amal sholeh, dari masjid juga harus ada gerakan keilmuan, yang diimplemnetasikan lewat pengajian, bacaan Al-Quran dan hadis serta menelaah dinamika kehidupan,” jelas Haedar seperti disiarkan laman resmi Muhammadiyah.

Baca juga: Masjid Luar Batang Tetap Gelar Ibadah Ramadhan dengan Prokes

Haedar mengatakan peresmian ini merupakan ikhtiar untuk meningkatkan fasilitas Masjid dan wujud usaha bersama agar masjid ini benar-benar berfungsi untuk memberikan pelayanan kegiatan ibadah dan muamalah duniawiyah dan juga menjadi pusat ketakwaan umat.

“Ketakwaan bukan hanya sebagai dimensi ibadah, tetapi juga harus melahirkan sikap kesalehan sosial bagi setiap jamaah yang memakmurkan masjid ini. Kaitan dengan hablum minallah maka masjid harus menjadi pusat iman dan tauhid yang memantulkan sikap dekat dengan Allah tetapi juga membawa nilai nilai illahi dalam kehidupan,” tutur Haedar.

Baca juga: Terbatas, Masjid Istiqlal Gelar Salat Tarawih Selama Ramadhan
(mhy)
cover top ayah
قُلْ لِّـلۡمُؤۡمِنِيۡنَ يَغُـضُّوۡا مِنۡ اَبۡصَارِهِمۡ وَيَحۡفَظُوۡا فُرُوۡجَهُمۡ‌ ؕ ذٰ لِكَ اَزۡكٰى لَهُمۡ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيۡرٌۢ بِمَا يَصۡنَـعُوۡنَ
Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.

(QS. An-Nur:30)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!