Renungan: Membunuh dengan Lidah, Belajar dari Kodok Budeg

Jum'at, 16 April 2021 - 05:00 WIB
loading...
A A A
Seringkali orang menyesal di kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya, sementara diamnya tidak akan pernah membawa penyesalan. Dan menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan adalah lebih mudah dari pada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkan.

Hal itu karena biasanya apabila seseorang tengah berbicara maka perkataan-perkataannya akan menguasai dirinya.

Sebaliknya, bila tidak sedang berbicara maka dia akan mampu mengontrol perkataan-perkataannya.

“Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya, maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat, maka dia akan diam. Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya,” tutur Imam Abu Hatim.

Baca juga: Renungan: Mengupas Keburukan, Belajar dari Kisah Kaki Merak

Lelaki yang datang dengan membawa setumpuk keluhan itu adalah korban teman-temannya yang banyak bicara dan sembrono. Sang rekan mendengar dengan cermat tumpahan itu.

Lalu ia bercerita tentang sekelompok kodok. Rombongan katak atau kodok itu bepergian melewati hutan, tiba-tiba dua ekor kodok jatuh terjebak dalam lubang yang dalam. Kodok yang selamat berkumpul di sekitar lubang. Ketika mereka melihat ke dalam lubang, mereka mengatakan kepada kodok malang itu bahwa sulit untuk selamat.

Mustahil bagi mereka untuk dapat keluar dari lubang yang dalam itu. Kedua kodok mengabaikan komentar teman-temannya dan mencoba melompat dari lubang.

Katak-katak lainnya mengatakan kepada mereka untuk menghentikan usaha yang sia-sia itu. Seekor kodok mendengarkan apa dikatakan kodok lain itu. Ia menyerah, lalu jatuh dan mati.

Tapi ada satu kodok yang terus berjuang melompat sekuat tenaga. Sekali lagi, kerumunan kodok berteriak padanya untuk menghentikan rasa sakit dan penderitaan seperti itu. Tapi dia tetap melompat bahkan lebih keras dan keras lagi hingga akhirnya ia berhasil keluar.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Gus Miftah Kepleset...
Gus Miftah Kepleset Lidah? Begini Resepnya Islam
Bicara yang Baik Atau...
Bicara yang Baik Atau Diam!
Renungan: Menagih Janji...
Renungan: Menagih Janji Tuhan, Apa Itu Harta Segalanya?
Renungan: Menghabiskan...
Renungan: Menghabiskan Umur untuk Perut, Sesekali Lapar Itu Baik
Renungan: Memeluk Dunia,...
Renungan: Memeluk Dunia, Belajar dari Burung Pelatuk
Renungan: Meraih Suksesi,...
Renungan: Meraih Suksesi, Belajar dari Pohon Jati
Rekomendasi
Arkeolog Temukan Tiga...
Arkeolog Temukan Tiga Kerangka Mammoth di Gudang Anggur
Gelombang Panas Ekstrem...
Gelombang Panas Ekstrem Membakar 210 Kawasan Hutan di Kanada
Jepang Luncurkan Video...
Jepang Luncurkan Video Dahsyatnya Letusan Gunung Fuji Meletus dengan AI
Artikel Terkini
Siap-siap Memasuki Muharram,...
Siap-siap Memasuki Muharram, Ini 4 Keutamaan Bulan Haram Tersebut!
Lambaian Tangan PPIH...
Lambaian Tangan PPIH Iringi 5.499 Jemaah Haji Gelombang Kedua Tinggalkan Makkah
Pulang Ibadah dari Tanah...
Pulang Ibadah dari Tanah Suci, Bolehkah Memakai Gelar Haji?
Deretan Dalil Kuat Anjuran...
Deretan Dalil Kuat Anjuran 3 Puasa Sunnah di Bulan Muharram
Fakta Sejarah: Hijrah...
Fakta Sejarah: Hijrah Nabi SAW Terjadi di Bulan Rabiul Awal, Bukan Muharram
Jelang Kedatangan Jemaah...
Jelang Kedatangan Jemaah Gelombang Kedua di Madinah, Wamenhaj Minta Petugas Haji Siaga
Infografis
Fenomena Otak Popcorn,...
Fenomena Otak Popcorn, Akibat Berbahaya dari Media Sosial
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved