Habib Anis Sholeh Ba'asyin Mengistilahkan Puasa Seperti Fermentasi Anggur
Kamis, 22 April 2021 - 04:18 WIB
loading...
A
A
A
“Di media sosial, meski tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi, orang begitu mudah ngomong apa saja. Mudah menghakimi. Kalau orang bisa menghakimi orang lain, tentu tidak perlu ada pengadilan akhirat. Padahal tidak seperti itu,” tegasnya.
Dia pun mengingatkan, hanya dari melihat jejak digital, banyak yang menganggap orang itu sesuai apa yang telah dilakukan pada masa lampau. Padahal hal itu tak sesuai dengan konsep Islam.
Baca juga: Ayat-Ayat Khamr: Di Zaman Pra-Islam Sudah Ada yang Haramkan Miras
Meski sepuluh tahun lalu pernah berbuat kesalahan, asalkan mau bertobat, maka seseorang akan kembali menjadi nol. Hal itulah yang tidak berlaku di konsep jejak digital.
“Imam Syafii mengingatkan untuk jangan menghukumi orangnya tapi perbuatannya. Perbuatan itu sendiri kontekstual ada ruang, waktu dan kejadiannya. Perbuatannya bisa saja salah, tapi bukan berarti orangnya akan salah terus. Bukankah itu kebijaksanaan dari orang yang sudah menep?” ucap Habib Anis.
Puasa, kata Habib Anis, juga mengajari untuk kembali menjadi manusia. Puasa mengajak untuk menahan diri. Terutama untuk hal-hal yang berdampak buruk.
Puasa melatih membuat orang menep dengan output kedewasaan dan kebijaksanaan. “Kenapa harus menahan diri? Terkadang manusia itu merasa tahu semuanya dan ingin ikut berkomentar, ikut campur. Akhirnya ini membuat permasalahan menjadi mubal. Menjadi keruh atau tidak jernih. Dalam kaitan ini, menep akan membuat orang memahami bahwa pada dasarnya dia punya keterbatasan pemahaman. Karena tidak mungkin kita paham pada semua hal,” katanya.
Baca juga: Begini Cara Menghitung Kapan Lailatul Qadar Turun Tahun Ini
Dia pun mengingatkan, hanya dari melihat jejak digital, banyak yang menganggap orang itu sesuai apa yang telah dilakukan pada masa lampau. Padahal hal itu tak sesuai dengan konsep Islam.
Baca juga: Ayat-Ayat Khamr: Di Zaman Pra-Islam Sudah Ada yang Haramkan Miras
Meski sepuluh tahun lalu pernah berbuat kesalahan, asalkan mau bertobat, maka seseorang akan kembali menjadi nol. Hal itulah yang tidak berlaku di konsep jejak digital.
“Imam Syafii mengingatkan untuk jangan menghukumi orangnya tapi perbuatannya. Perbuatan itu sendiri kontekstual ada ruang, waktu dan kejadiannya. Perbuatannya bisa saja salah, tapi bukan berarti orangnya akan salah terus. Bukankah itu kebijaksanaan dari orang yang sudah menep?” ucap Habib Anis.
Puasa, kata Habib Anis, juga mengajari untuk kembali menjadi manusia. Puasa mengajak untuk menahan diri. Terutama untuk hal-hal yang berdampak buruk.
Puasa melatih membuat orang menep dengan output kedewasaan dan kebijaksanaan. “Kenapa harus menahan diri? Terkadang manusia itu merasa tahu semuanya dan ingin ikut berkomentar, ikut campur. Akhirnya ini membuat permasalahan menjadi mubal. Menjadi keruh atau tidak jernih. Dalam kaitan ini, menep akan membuat orang memahami bahwa pada dasarnya dia punya keterbatasan pemahaman. Karena tidak mungkin kita paham pada semua hal,” katanya.
Baca juga: Begini Cara Menghitung Kapan Lailatul Qadar Turun Tahun Ini
(mhy)
Lihat Juga :