Habib Anis Sholeh Ba'asyin Mengistilahkan Puasa Seperti Fermentasi Anggur
Kamis, 22 April 2021 - 04:18 WIB
loading...
Habib Anis Sholeh Baasyin. Foto/YouTube Suluk Maleman
A
A
A
JAKARTA - Budayawan asal Pati, Habib Anis Sholeh Ba’asyin , mengumpamakan puasa bak anggur yang difermentasi. Semakin lama difermentasi maka semakin bernilai. Harganya semakin mahal.
Anggur, katanya, baru punya makna setelah kita fermentasi menjadi arak. Minuman anggur itu lebih mahal harganya dibandingkan buah anggur. Semakin tua itu anggur, semakin mahal. Semakin lama diendapkan mahal dan mulia nilainya.
Baca juga: Razia Jelang Sahur, Ratusan Botol Miras Diamankan Petugas Gabungan
"Istilah ini saya kutip dari pendapat (alm) Kiai Ahmad," tuturnya dalam acara Suluk Maleman seri ke-112, beberapa hari lalu. Acara ini diramaikan dengan koleksi musik Sampak GusUran.
Anis mencontohkan, ketika kita disakiti seseorang, tentu kita marah. Itu wajar. Namun setelah sekian lama maka akan menep atau mengendap. "Pada saat itu kita introspeksi diri. Kita mampu menep, ekspresi kita akan lebih bijaksana," jelasnya.
Reaksi seseorang terhadap peristiwa itulah yang menunjukkan seberapa menepnya dia. Puasa itu sendiri menjadi jalan untuk memudahkan dalam memfermentasi nilai-nilai kehidupan.
Habib Anis mengatakan kini bagaimana membuat puasa kita memfermentasi menjadi sari-sari nilai. Pengalaman hidup kita, kita fermentasi, kita enepkan, diendapkan, nanti pada titik tertentu akan muncul kita sebagai nilai-nilai yang terejawantahkan dalam menyikapi hidup ini.
Puasa berarti juga menepi. Menarik diri dari keramaian. “Dengan menarik diri dari keramaian maka kita bisa menep, artinya diam atau tenang. Mengendapkan semua kekeruhan untuk menjadi jernih," tuturnya.
Baca juga: Bukan Kisah Nyata? Dua Malaikat Minum Khamr, Berzina, Lalu Membunuh Bayi
Kata menep yang diserap bahasa Indonesia dari bahasa Jawa ini, kata Habib Anis, punya arti yang sangat dekat dengan kata shaum atau shiyam dalam bahasa Arab.
Bila telah mampu menep, maka seseorang itu akan mampu lebih bijaksana atau dewasa. Karena orang dapat melihat dan menangkap nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah peristiwa sebelum bereaksi.
“Pengalaman hidup, jika semakin lama diendapkan tentu akan semakin kuat dalam melahirkan pemaknaan dan memahami nilai-nilai,” ujarnya.
Dengan menep juga diharapkan membuat orang tidak kagetan dengan apa yang dilihatnya sehingga keliru dalam bereaksi. Hal itu lantaran seringkali apa yang dilihat tidak sesuai dengan kenyataan. Apalagi di era media sosial seperti sekarang ini.
Anggur, katanya, baru punya makna setelah kita fermentasi menjadi arak. Minuman anggur itu lebih mahal harganya dibandingkan buah anggur. Semakin tua itu anggur, semakin mahal. Semakin lama diendapkan mahal dan mulia nilainya.
Baca juga: Razia Jelang Sahur, Ratusan Botol Miras Diamankan Petugas Gabungan
"Istilah ini saya kutip dari pendapat (alm) Kiai Ahmad," tuturnya dalam acara Suluk Maleman seri ke-112, beberapa hari lalu. Acara ini diramaikan dengan koleksi musik Sampak GusUran.
Anis mencontohkan, ketika kita disakiti seseorang, tentu kita marah. Itu wajar. Namun setelah sekian lama maka akan menep atau mengendap. "Pada saat itu kita introspeksi diri. Kita mampu menep, ekspresi kita akan lebih bijaksana," jelasnya.
Reaksi seseorang terhadap peristiwa itulah yang menunjukkan seberapa menepnya dia. Puasa itu sendiri menjadi jalan untuk memudahkan dalam memfermentasi nilai-nilai kehidupan.
Habib Anis mengatakan kini bagaimana membuat puasa kita memfermentasi menjadi sari-sari nilai. Pengalaman hidup kita, kita fermentasi, kita enepkan, diendapkan, nanti pada titik tertentu akan muncul kita sebagai nilai-nilai yang terejawantahkan dalam menyikapi hidup ini.
Puasa berarti juga menepi. Menarik diri dari keramaian. “Dengan menarik diri dari keramaian maka kita bisa menep, artinya diam atau tenang. Mengendapkan semua kekeruhan untuk menjadi jernih," tuturnya.
Baca juga: Bukan Kisah Nyata? Dua Malaikat Minum Khamr, Berzina, Lalu Membunuh Bayi
Kata menep yang diserap bahasa Indonesia dari bahasa Jawa ini, kata Habib Anis, punya arti yang sangat dekat dengan kata shaum atau shiyam dalam bahasa Arab.
Bila telah mampu menep, maka seseorang itu akan mampu lebih bijaksana atau dewasa. Karena orang dapat melihat dan menangkap nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah peristiwa sebelum bereaksi.
“Pengalaman hidup, jika semakin lama diendapkan tentu akan semakin kuat dalam melahirkan pemaknaan dan memahami nilai-nilai,” ujarnya.
Dengan menep juga diharapkan membuat orang tidak kagetan dengan apa yang dilihatnya sehingga keliru dalam bereaksi. Hal itu lantaran seringkali apa yang dilihat tidak sesuai dengan kenyataan. Apalagi di era media sosial seperti sekarang ini.
Lihat Juga :