Melihat Al-Qur'an Tulisan Tangan yang Masih Terjaga Rapi di Museum Subkoss

loading...
Melihat Al-Quran Tulisan Tangan yang Masih Terjaga Rapi di Museum Subkoss
Mushaf Al-Quran tulisan tangan peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam masih tersimpan rapi di Museum Subkoss Sriwijaya di Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Foto/Era Neizma Wedya
LUBUK LINGGAU - Rasa kagum sekaligus takjub menyelimuti pengunjung yang melihat langsung Mushaf Al-Qur'an peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam di Museum Subkoss Sriwijaya di Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan.

Al-Qur'an tulisan tangan ini merupakan hadiah Kesultanan Palembang yang dibuat pada tahun 1925. Keberadaan Al-Qur'an kuno ini menjadi bukti bukti sejarah kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam yang hingga kini masih dilestarikan.

Sejarawan Kota Lubuklinggau, Suwandi, mengungkapkan Al-Quran tulisan tangan ini merupakan hadiah dari Kesultanan Palembang bersamaan dengan didirikannya Kota Lubuklinggau. Awalnya dihibahkan dari Kesultanan Palembang kepada Masjid Agung Al Bari sebagai sarana untuk belajar.

Namun seiring banyaknya mushaf Al-Qur'an keluaran pabrik, Al-Qur'an tulisan tangan itu tidak digunakan lagi. Tepat tanggal 15 Januari 1988 saat didirikan Museum Subkoss Garuda Sriwijaya pihak masjid menyerahkan Al-Qur'an itu ke Museum karena tidak digunakan lagi.

"Karena sudah banyak Al-Qur'an baru, akhirnya Al-Qur'an kuno tulisan tangan itu diberikan kepada Museum Subkoss untuk disimpan sebagai bukti peninggalan sejarah," jelas Suwandi.
Melihat Al-Qur'an Tulisan Tangan yang Masih Terjaga Rapi di Museum Subkoss

Al-Quran ini ditulis tangan dengan tinta hitam dengan panjang 32 cm dengan lebar 22 cm dan tebal 8 cm. Sedangkan kertas yang digunakan merupakan kertas Eropa buatan abad ke-17. Meskipun pun usianya sudah puluhan tahun namun kondisinya tetap utuh," ujarnya.



Untuk mengetahui perbedaan Al-Qur'an cetakan mesin dengan Al-Qur'an tulisan tangan dapat dilihat dari tulisan Surat Al-Fatihah. Umumnya Surat Al-Fatihah buatan pabrik tidak ada tambahan Aamiin. Sedangkan, Al-Qur'an tulisan tangan ini terdapat tulisan "Aamiin" di ujung surat. Itulah pembedanya, sedangkan untuk isinya sama.

Selain dapat melihat Al-Qur'an tulisan tangan di Museum Subkoss, kita juga bisa melihat Bendera Pusaka yang dibuat dan dijahit oleh M Yakub Lakin Veteran (alm) pada tahun 1949. Dan Bendera Merah Putih berukuran 300 x 200 Cm itu dikibarkan pertama kali pada waktu penyerahan (case fire) antara Belanda dan Tentara Republik di halaman kantor RAD (marga) di Desa Muara Kati Baru I atas perintah tentara Republik Indonesia di Lubuklinggau Tahun 1949.

Al-Qur'an Tinta Emas
Melihat Al-Qur'an Tulisan Tangan yang Masih Terjaga Rapi di Museum Subkoss

Kesultanan Palembang Darussalam juga meninggalkan Mushaf Al-Qur'an bertinta emas. Kitab suci Al-Quran berukir tinta emas berusia dua abad lebih. Sejumlah manuskrip bersejarah peninggalan kerajaan Islam di Palembang hingga kini masih terawat dengan baik.

Sebanyak 10 Mushaf Al-Qur'an dan 90 kitab tua berumur lebih dari dua abad peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam masih tersimpan di Jalan Fatih Jalalludin 19 Ilir, Bukit Kecil Palembang. Benda-benda bersejarah itu disimpan Kemas Andi Syarifudin yang merupakan keturunan dari khotib penghulu dan pengurus Masjid Agung Palembang di masa Kesultanan Palembang Darussalam.
Melihat Al-Qur'an Tulisan Tangan yang Masih Terjaga Rapi di Museum Subkoss

Meski berumur sekitar 200 tahun, namun masih bisa digunakan untuk tadarus. Al-Qur'an tulisan emas ini terdapat pada tiga Surah yaitu Al-Fatihah dan Al Baqarah lalu di bagian tengah Surat Al Kahfi serta di bagian akhir Surat An-Nas dan Al-Falaq. Karya para ulama dan para penghulu di masa Kesultanan Palembang Darussalam ini kini jadi bukti sejarah kejayaan kerajaan Islam Palembang masa lalu.

Al-Qur'an Tulisan Tangan di Lereng Gunung Lawu
Al-Qur'an tulisan tangan berusia dua abad juga ditemukan di Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. Al-Qur'an kuno ini merupakan bukti penyebaran agama Islam di Kabupatan Karanganyar.
Melihat Al-Qur'an Tulisan Tangan yang Masih Terjaga Rapi di Museum Subkoss

Syekh Hasan Tafsir, ulama yang konon berasal dari Jawa Timur, memiliki peran dalam proses penyebaran agama Islam di lereng Gunung Lawu. Jejak sejarah Syekh Hasan Tafsir dapat dilihat di Dusun Sintru, Desa Doplang, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar. Daerah ini terletak di kawasan lereng Gunung Lawu. Dari desa ini, terdapat rekam jejak masuknya Islam di Karanganyar awal tahun 1.800.

Bukti-bukti yang menunjukkan penyebaran Islam masuk di Karanganyar masih ada hingga kini. Masjid yang konon didirikan Syekh Hasan Tafsir juga masih berdiri di tengah permukiman warga.

Selain itu juga terdapat bebarapa situs bangunan yang menjadi saksi sejarah perkembangan Islam di daerah Karanganyar. Keturunan generasi keempat dari Syekh Hasan Tafsir, Sulaiman Abdul Aziz mengatakan, dahulu masyarakat menyebut ajaran Islam yang berkembang, sebagai agama pengganti ajaran Kejawen yang semula dianut warga sekitar pada saat itu.

Lihat Juga Video: Alquran Tulisan Tangan, Bukti Syiar Islam pada Abad 18 di Gunungkidul
(rhs)
cover top ayah
وَكَذٰلِكَ جَعَلۡنَا فِىۡ كُلِّ قَرۡيَةٍ اَكٰبِرَ مُجۡرِمِيۡهَا لِيَمۡكُرُوۡا فِيۡهَا‌ ؕ وَمَا يَمۡكُرُوۡنَ اِلَّا بِاَنۡفُسِهِمۡ وَمَا يَشۡعُرُوۡنَ
Pada setiap negeri, Kami jadikan pembesar-pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri itu. Tapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya.

(QS. Al-An’am:123)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!