Al-Qur'an Mulia (3): Ragam Makna Gaib, Sholat dan Sedekah

loading...
Al-Quran Mulia (3): Ragam Makna Gaib, Sholat dan Sedekah
Muhammad Maruf Assyahid, jurnalis yang juga alumnus Ponpes Baitul Mustaqim Lampung Tengah. Foto/Ist
Muhammad Ma'ruf Assyahid
Jurnalis-Sufi,
Alumnus Ponpes Baitul Mustaqim Lampung Tengah,
Jamaah Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah,
Sedang Studi MBA di University of the People.

"…(yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka."

Ayat ketiga dalam Surat Al-Baqarah ini masih satu rangkaian tema dengan ayat pertama dan kedua yang sudah dibahas di artikel seri Al-Qur'an Mulia di rubrik ini sebelumnya. Sebagaimana artikel sebelumnya, saya banyak mengacu kepada Tanwir Al-Miqbas min Tafsir Ibn Abbas, sebagai rujukan utama.

Tafsir yang digadang-gadang merupakan karya dari olah pikir Abdullah Ibn Abbas, sepupu Nnabi —atau bila bukan, sebagian adalah karya yang diatribusikan kepada Muhammad Al-Firuzabadi, disebut-sebut sebagai tafsir pertama dalam khazanah Islam. Bahkan, sebuah hadist menyebutkan, Ibn Abbas, sudah mendapatkan semacam ijazah langsung dari Nabi Muhammad SAW untuk menafsirkan Al-Qur'an. Wallahu A'lam.

Menyusul kemudian Tafsir standard pondok pesantren di Indonesia, Jalalayn dan Tafsir Ibnu Katsir. Saya ibarat kata, hanya juru tulis yang meringkas dengan penekanan pada isu-isu kontemporer dan pilihan diksi populer. Bilapun ini terpaksa disebut tafsir, maka ini adalah tafsir pribadi, bukan untuk dijadikan sebagai rujukan. Ini adalah sekadar berbagi pemikiran, semoga Allah meridhoi. Jadi, kalau cocok yuk ngopi (bahas bersama), kalau tidak cocok ya tinggal pergi saja (tak usah dibaca)

Bismillahirrahmanirrahiim. (QS 2:3; (yaitu) orang-orang yang beriman pada yang ghaib, menegakkan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka). Ada tiga hal pokok yang wajib diyakini oleh orang mukmin agar lolos kualifikasi status beriman --definisi iman sudah sangat banyak, saya pakai yang ringkas saja; percaya atau yakin dan tentu saja melaksanakannya. Jadi iman adalah kata sifat sekaligus kata kerja.

Pertama dan utama adalah percaya atas eksistensi gaib, meskipun panca indera manusia tidak bisa menyaksikannya. Iman kepada hal gaib adalah pondasi paling pokok, yang mana tanpanya tidak ada yang bisa disebut bangunan Islam, baik itu sebagai panduan hidup maupun sumber pengetahuan.

Ibn Abbas mendefinisikan hal gaib dalam tiga kategori. (1) Sesuatu yang tidak bisa tampak secara kasat mata, seperti Allah, surga, neraka, Kiamat, hari kebangkitan dan lainnya. (2) Bisa juga semua yang disebutkan gaib oleh Al-Qur'an dan yang tidak disebutkan (3). Yang gaib hanya Allah semata.

Dari perbandingan rujukan tafsir yang ada, penjelasan Ibn Abbas paling terang meskipun sepintas tampak ada kontradiksi. Pertama (1) dan (2), yaitu yang memercayai Allah sebagai Dzat gaib dan semua perangkat dunia setelah kematian, alam kubur, surga, neraka dan lainnya versus kelompok kedua yang hanya memercayai Allah sendirilah yang gaib, terus yang lain kemana?

Menurut saya hal tersebut tidak perlu dipersoalkan, sebab semuanya benar secara relatif, tergantung sudut pandang yang dipakai pembacanya. Pertama adalah pandangan ahli syariat, kedua adalah pandangan ahli thariqat —yang mempraktikkan pandangan syarat dan hakikat— dan pandangan terakhir adalah pandangan ahli hakikat atau makrifat.
halaman ke-1
cover top ayah
فَقَضٰٮهُنَّ سَبۡعَ سَمٰوَاتٍ فِىۡ يَوۡمَيۡنِ وَاَوۡحٰى فِىۡ كُلِّ سَمَآءٍ اَمۡرَهَا‌ ؕ وَزَ يَّـنَّـا السَّمَآءَ الدُّنۡيَا بِمَصَابِيۡحَ ‌ۖ وَحِفۡظًا ‌ؕ ذٰ لِكَ تَقۡدِيۡرُ الۡعَزِيۡزِ الۡعَلِيۡمِ
Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian langit yang dekat (dengan bumi), Kami hiasi dengan bintang-bintang, dan (Kami ciptakan itu) untuk memelihara. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.

(QS. Fussilat:12)
cover bottom ayah
preload video