Jejak Abu Nawas: Dipejara Zaman Harun Ar-Rasyid, Dilepas di Era Al-Amin
Rabu, 02 Juni 2021 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Baghdad juga menjadi pusat kebudayaan dan mahasiswa, bahkan pusat gubahan syair jenaka dan dagelan.
Sebelum Abu Nawas berada di Baghdad, syair-syairnya telah lebih dahulu dikenal dan populer sehingga dinikmati oleh penduduk Baghdad.
Baru pada 170 H, Abu Nawas memasuki kota Baghdad, yakni ketika tampuk kerajaan dipegang oleh Harun ar Rasyid. Dari detik itulah kehidupan Abu Nawas mulai dekat dengan istana Bani Abbasiyah, dan segera saja beberapa ahli syair kenamaan berada di sekelilingnya, di antaranya Muthi' bin Aiyasy, al Khali' bin Dhahak, Hammad Ajrad, Aban bin Abdul Hamid al Lahigy, serta seorang wanita bernama 'Anan.
Baca juga: Benarkah Kisah Harun A-Rasyid dan Abu Nawas Bohong Belaka?
Ketika Harun ar Rasyid mendengar kedatangan Abu Nawas, baginda segera memanggilnya untuk diangkat menjadi penyair istana. Kendatipun demikian, baginda masih terus bersikap hati-hati dan waspada, mengingat Abu Nawas adalah penyair yang piawai dan sangat berani dalam mengkritisi apa yang terjadi dalam istana, salah-salah baginda sendiri yang akan menuai kritikan pedasnya.
Benar juga. Pada suatu ketika, kritikan Abu Nawas terlontar juga sehingga ia harus dikurung dalam penjara. Dan, kejadian ini terus berulang, bukan hanya sekali, namun berkali-kali.
Mengetahui seorang pemimpinnya dijebloskan dalam penjara, seketika itu terjadi eksodus besar besaran para pujangga kenamaan untuk membela Abu Nawas. Mereka kebanyakan menuju Mesir.
Dengan demikian, Baghdad menjadi sunyi dan kehilangan pamor kebudayaan yang dahulu disebarkan oleh para pujangga.
Baru setelah al Amin memegang tampuk kekuasaan, para pujangga yang berkiblat kepada Abu Nawas direhabilitasi namanya dalam berbagai even kerajaan sehingga mereka merasa terpanggil untuk kembali ke Baghdad. Adapun Abu Nawas sendiri segera dibebaskan dari penjara.
Bukan itu saja, Abu Nawas diberi kebebasan berkreasi sehingga hubungan erat antara dia dan pihak kerajaan terjalin kembali.
Pada tahun 199 H atau 813 M Abu Nawas wafat setelah mangkatnya Baginda al Amin.
Baca juga: Cerita Bahlil Soal 'Abu Nawas' yang Bikin Pengusaha Keki
Begitulah kehidupan Abu Nawas dengan segala kejenakaan dan kritikannya yang pedas. Ia merupa kan figur yang tidak suka membela berbagai kepentingan busuk, tidak pula fanatik pada sebuah golongan—khususnya Arab ketika itu—dan memiliki perasaan (sense) yang amat peka.
Ia seorang yang beriman kepada Allah dengan iman yang begitu dalam. Hatinya menjadi simpanan kehalusan syairnya. Maka, tidak mengherankan jika nama Abu Nawas akan kekal sebagaimana kekalnya bahasa Arab dalam mengurai kemerdekaan berkreasi dan berpikir.
Sebelum Abu Nawas berada di Baghdad, syair-syairnya telah lebih dahulu dikenal dan populer sehingga dinikmati oleh penduduk Baghdad.
Baru pada 170 H, Abu Nawas memasuki kota Baghdad, yakni ketika tampuk kerajaan dipegang oleh Harun ar Rasyid. Dari detik itulah kehidupan Abu Nawas mulai dekat dengan istana Bani Abbasiyah, dan segera saja beberapa ahli syair kenamaan berada di sekelilingnya, di antaranya Muthi' bin Aiyasy, al Khali' bin Dhahak, Hammad Ajrad, Aban bin Abdul Hamid al Lahigy, serta seorang wanita bernama 'Anan.
Baca juga: Benarkah Kisah Harun A-Rasyid dan Abu Nawas Bohong Belaka?
Ketika Harun ar Rasyid mendengar kedatangan Abu Nawas, baginda segera memanggilnya untuk diangkat menjadi penyair istana. Kendatipun demikian, baginda masih terus bersikap hati-hati dan waspada, mengingat Abu Nawas adalah penyair yang piawai dan sangat berani dalam mengkritisi apa yang terjadi dalam istana, salah-salah baginda sendiri yang akan menuai kritikan pedasnya.
Benar juga. Pada suatu ketika, kritikan Abu Nawas terlontar juga sehingga ia harus dikurung dalam penjara. Dan, kejadian ini terus berulang, bukan hanya sekali, namun berkali-kali.
Mengetahui seorang pemimpinnya dijebloskan dalam penjara, seketika itu terjadi eksodus besar besaran para pujangga kenamaan untuk membela Abu Nawas. Mereka kebanyakan menuju Mesir.
Dengan demikian, Baghdad menjadi sunyi dan kehilangan pamor kebudayaan yang dahulu disebarkan oleh para pujangga.
Baru setelah al Amin memegang tampuk kekuasaan, para pujangga yang berkiblat kepada Abu Nawas direhabilitasi namanya dalam berbagai even kerajaan sehingga mereka merasa terpanggil untuk kembali ke Baghdad. Adapun Abu Nawas sendiri segera dibebaskan dari penjara.
Bukan itu saja, Abu Nawas diberi kebebasan berkreasi sehingga hubungan erat antara dia dan pihak kerajaan terjalin kembali.
Pada tahun 199 H atau 813 M Abu Nawas wafat setelah mangkatnya Baginda al Amin.
Baca juga: Cerita Bahlil Soal 'Abu Nawas' yang Bikin Pengusaha Keki
Begitulah kehidupan Abu Nawas dengan segala kejenakaan dan kritikannya yang pedas. Ia merupa kan figur yang tidak suka membela berbagai kepentingan busuk, tidak pula fanatik pada sebuah golongan—khususnya Arab ketika itu—dan memiliki perasaan (sense) yang amat peka.
Ia seorang yang beriman kepada Allah dengan iman yang begitu dalam. Hatinya menjadi simpanan kehalusan syairnya. Maka, tidak mengherankan jika nama Abu Nawas akan kekal sebagaimana kekalnya bahasa Arab dalam mengurai kemerdekaan berkreasi dan berpikir.
(mhy)
Lihat Juga :