Mutiara Wasiat Abu Ubaidah Jelang Kematiannya karena Wabah Tha'un

Sabtu, 12 Juni 2021 - 20:23 WIB
loading...
A A A
Apabila sikap menipu sudah menjalar dan sangat lemah sikap saling menasehati di antara kedua belah pihak, niscaya tampaklah dampak buruknya terhadap semua umat.

Tiadalah berita pemberontakan Khawarij yang tidak taat terhadap Amirul Mukminin Utsman Radhiyallahu ‘anhu kecuali merupakan contoh nyata terhadap yang disebutkan oleh Abu Ubaidah Radhiyallahu ‘anhu.

Baca juga: Abu Ubaidah bin Jarrah (1): Memenggal Kepala Sang Ayah di Perang Badar

Kemudian ia menutup mutiara nasehatnya dengan ungkapan yang menggambarkan metode zuhud yang sebenarnya, bagi orang yang mengenal dunia ini, ia berkata: “Janganlah kehidupan dunia melalaikan kalian. Maka sesungguhnya seseorang jikalau dipanjangkan umur seribu tahun, namun pada akhirnya ia kembali seperti kondisiku saat ini yang kalian lihat.

"Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan kematian terhadap anak cucu Adam ‘Alaihissalam, maka mereka semua akan mati, yang paling cerdas dari mereka adalah yang paling taat terhadap Rabb-nya dan yang paling beramal untuk hari kembalinya.’

Ia merupakan sunnah kehidupan, orang yang hidup melewati kehidupan di dunia hingga akhirnya ia memasuki pintu kematian, dan hal ini tidaklah menjadi masalah, akan tetapi masalah sebenarnya adalah bagaimana ia datang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Umar bin Abdullah bin Muhammad al-Muqbil menjelaskan sesungguhnya manusia paling cerdas – seperti yang dikatakan Abu Ubaidah Radhiyallahu ‘anhu– yaitu yang paling taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan paling banyak beramal untuk hari kembalinya (hari akhirat). Karena alasan itulah, maka hendaknya orang yang berakal terus berusaha dan yang beramal terus bersungguh-sungguh.

Pada hari itu nampaklah taghabun (kesalahan-kesalahan), kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari termasuk yang tampak segala kesalahan di dunia dan akhirat.

Di antara mutiara nasehatnya: “Tahlukah (kebinasaan) adalah seorang hamba melakukan dosa, kemudian ia tidak melakukan amal kebaikan sesudahnya hingga ia binasa.’

Ucapannya di saat yang lain menjelaskan mutiara nasehatnya ini: “Perhatikanlah, begitu banyak orang yang memutihkan bajunya, namun mengotori agamanya. Perhatikanlah, betapa banyak orang yang ingin memuliakan dirinya, padahal ia justru menghinakannya.

Perhatikanlah, segeralah menggantikan keburukan di masa lalu dengan berbagai kebaikan yang baru. Jikalau salah seorang darimu melakukan kesalahan sepenuh di antara langit dan bumi, kemudian ia melakukan amal kebaikan, niscaya kebaikannya berada di atas kesalahannya, sehingga ia mengalahkannya”

Ini merupakan fiqh (pemahaman) dari Abu Ubaidah Radhiyallahu ‘anhu, karena sesungguhnya tatkala Allah Ta’ala memberikan kemurahan terhadap hamba hamba-Nya dengan melipatgandakan kebaikan, sementara keburukan tidak lebih dari satu saja, jadilah orang yang benar-benar binasa yaitu yang keburukannya mengalahkan kebaikannya.

Baca juga: Wasiat Sang Dermawan Sa’id bin al-‘Ash Menjelang Wafat

Sebagaimana Nabi Muhammad SAW meriwayatkan dari Allah SWT dalam hadis dilipat gandakannya kebaikan dan membalas keburukan dengan satu balasan saja.

Dan beliau bersabda:

[أخرجه مسلم] (( وَلاَيَهْلِكُ عَلَى اللهِ إِلاَّ هَالِكٌ ))

“Dan tidak binasa terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali orang yang binasa.” (HR. Muslim 131 dari Ibnu Abbas radh)

Tidak ada seorang pun dari kita kecuali dia bisa melakukan kesalahan dan dosa, tetapi yang penting adalah bersegera menghapus dosa dengan kebaikan, sebagaimana dalam hadis:

[أخرجه الترمذي] (( وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا ))

“Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya ia menghapusnya.’ (HR At-Tirmidzi 1987, ad-Daraquthni mentarjih mursalnya riwayat ini).

Dan dalam al-Qur`an:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ [هود: 114]

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. [Hud/11:114]
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Uwais Al Qarni...
Kisah Uwais Al Qarni : Menggendong Ibunya dari Yaman ke Makkah untuk Melaksanakan Haji
Kisah Sahabat Nabi dari...
Kisah Sahabat Nabi dari Iran : Salman Al Farisi Sempat Menjadi Penjaga Api Agama Majusi
Kisah Sahabat Nabi :...
Kisah Sahabat Nabi : Debat Sengit Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab Tentang Pembangkang Bayar Zakat
Kisah Sahabat Nabi :...
Kisah Sahabat Nabi : Iktikaf Abu Sa’id Al-Khudri Bersama Rasulullah SAW
Kisah Teladan di Bulan...
Kisah Teladan di Bulan Ramadan: Abu Bakar Ash Shiddiq Setia Mendampingi Rasulullah di Perang Badar
Kisah Teladan Puasa...
Kisah Teladan Puasa Ramadan : Jasad Abu Talhah Tetap Utuh dan Tak Bau karena Kebiasaan Berpuasa
Rekomendasi
Laku Hidup Vegetarian...
Laku Hidup Vegetarian Tokoh Dunia, dari RA Kartini hingga Gandhi
Ilmuwan Ungkap Peningkatkan...
Ilmuwan Ungkap Peningkatkan Titik Panas yang Akan Picu Kebakaran di Asia Tenggara
Fenomena Langit Misterius:...
Fenomena Langit Misterius: Garis-garis Api Menggemparkan India
Artikel Terkini
Sebaik-baikya Puasa...
Sebaik-baikya Puasa Setelah Ramadan, Ternyata Puasa Muharram!
Bacaan Niat 3 Jenis...
Bacaan Niat 3 Jenis Puasa Sunnah Muharram, Harian, Tasua dan Asyura
Puasa Asyura 2026: Jadwal,...
Puasa Asyura 2026: Jadwal, Dalil, dan Keutamaan Besarnya Menurut Hadis Nabi
Peristiwa di Bulan Muharram...
Peristiwa di Bulan Muharram : Bahtera Nabi Nuh AS Berlabuh setelah 150 Tahun Terombang-ambing Banjir
7 Kisah Para Nabi di...
7 Kisah Para Nabi di Bulan Muharram yang Diabadikan Al Quran
Bolehkah Menggabungkan...
Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Sunnah?
Infografis
10 Ilmuwan Muslim yang...
10 Ilmuwan Muslim yang Mengubah Wajah Ilmu Pengetahuan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved