Orang Bilang Muawiyah Pemimpin, dia Menyebut Pelayan (Bagian 2-Habis)
Minggu, 13 Juni 2021 - 13:27 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
Abu Muslim al-Khaulani berangkat menuju Madinah dan sangat berharap dapat menjumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau sudah beriman sebelum bertemu Nabi SAW dan rindu untuk mendampingi beliau sebagai sahabat.
Baca juga: Abu Muslim Al-Khaulani (1): Berbekal Iman, Nabi Palsu Gagal Membakarnya
Tapi sayang, belum lagi memasuki Madinah, beliau mendengar kabar bahwa Rasulullah SAW telah wafat dan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu terpilih sebagai khalifah kaum muslimin. Tak terkira betapa kecewa beliau mendengarnya.
Setibanya di Madinah, beliau langsung menuju Masjid Nabawi. Beliau menambatkan ontanya di samping masjid, kemudian memasuki Masjid Nabawi setelah mengucapkan shalawat dan salam bagi Nabi SAW.
Beliau mendekati salah satu tiang masjid lalu salat di sana. Usai salat, Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu menghampirinya seraya bertanya: “Dari manakah asal Anda?”
Abu Muslim: “Saya dari Yaman.”
Umar: “Bagaimana kabar saudara kita yang hendak dibakar hidup-hidup oleh musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu Allah menyelamatkannya itu?”
Abu Muslim: “Alhamdulillah dia dalam keadaan baik.”
Umar: “Demi Allah, bukankah Anda orangnya?”
Abu Muslim: “Benar,”
Maka Umar bin Khathab mencium antara kedua mata Abu Muslim.
Umar: “Tidakkah Anda mendengar berita tentang apa yang dilakukan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada musuh-Nya dan musuh Anda itu?”
Abu Muslim: “Tidak. Sejak meninggalkan Yaman, saya tak lagi mendengar beritanya.”
Baca juga: Mengapa Para Sahabat Nabi dan Tabiin Tak Memiliki Karomah?
Baca juga: Abu Muslim Al-Khaulani (1): Berbekal Iman, Nabi Palsu Gagal Membakarnya
Tapi sayang, belum lagi memasuki Madinah, beliau mendengar kabar bahwa Rasulullah SAW telah wafat dan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu terpilih sebagai khalifah kaum muslimin. Tak terkira betapa kecewa beliau mendengarnya.
Setibanya di Madinah, beliau langsung menuju Masjid Nabawi. Beliau menambatkan ontanya di samping masjid, kemudian memasuki Masjid Nabawi setelah mengucapkan shalawat dan salam bagi Nabi SAW.
Beliau mendekati salah satu tiang masjid lalu salat di sana. Usai salat, Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu menghampirinya seraya bertanya: “Dari manakah asal Anda?”
Abu Muslim: “Saya dari Yaman.”
Umar: “Bagaimana kabar saudara kita yang hendak dibakar hidup-hidup oleh musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu Allah menyelamatkannya itu?”
Abu Muslim: “Alhamdulillah dia dalam keadaan baik.”
Umar: “Demi Allah, bukankah Anda orangnya?”
Abu Muslim: “Benar,”
Maka Umar bin Khathab mencium antara kedua mata Abu Muslim.
Umar: “Tidakkah Anda mendengar berita tentang apa yang dilakukan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada musuh-Nya dan musuh Anda itu?”
Abu Muslim: “Tidak. Sejak meninggalkan Yaman, saya tak lagi mendengar beritanya.”
Baca juga: Mengapa Para Sahabat Nabi dan Tabiin Tak Memiliki Karomah?
Lihat Juga :