Gus Baha Menyikapi Pedagang Warung dengan Aurat Terbuka

loading...
Gus Baha Menyikapi Pedagang Warung dengan Aurat Terbuka
Ulama kharismatik asal Narukan Kabupaten Rembang KH Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha. Foto/dok Kajian Islam
Cara Gus Baha menyikapi pedagang warung yang auratnya terbuka layak kita jadikan pelajaran agar tidak mudah menghukumi orang yang tampilan luarnya kelihatan buruk. Ulama ahli tafsir bernama asli KH Ahmad Bahauddin Nursalim menceritakan pengalaman ayahnya yang suka marung (jajan di warung)

Berikut cerita Gus Baha dalam suatu pengajian bersama para santri seperti dikutip dari iqra.id. "Saya masih ingat kata-kata Bapak saya (KH Nursalim). Bapak itu suka marung (jajan di warung). Kadang penjual warungnya perempuan memakai rok begitu begitu. Lantas kebiasaan Bapak demikian ini kadang dikritik sama kiyai-kiyai lain, 'Kiyai kok marung peremuan yang pake rok-an."

Baca Juga: Zikir yang Sering Dibaca Gus Baha Saat Pengajian

Kata Bapak: "Wes piro-piro gelem adol gedang goreng, nek adol barenge malah repot (syukur-syukur mau jualan pisang goreng, kalau jualan barangnya malah repot)."

Saya pernah dibilangin sama Bapak, "Menurutku, kalau sudah yakin orang tersebut tidak berzina menjual badannya, berarti baik. Bagaimana pun dia berjualan pisang goreng, teh, pecel, nasi goreng, itu menunjukkan tidak suka maling, ikut Nabi ingin berdagang dan mendapatkan rezeki halal. Soal dia memakai rok yang tidak begitu menutup aurat adalah masalah lain (شيء أخر). Jangan hanya karena auratnya tidak benar lalu mengharamkan dagangannya."

Nanti bisa rusak semua bila berpikir, "Kiyai tidak ikhlas, tidak usah ngajar, berarti orang jadi bodoh semua. Kamu mau ngaji tapi nggak ikhlas, berarti nggak usah ngaji." Kalau begitu ya agama bisa tutup!

Maksiat itu suatu perkara, cinta Allah dan Rasul itu juga perkara lain. Kita tidak bisa menjadi sempurna. "Kalau cinta Allah itu harus perfect atau sempurna. Tidak pernah maksiat, tidak pernah zina, tidak pernah maling, tidak pernah membicarakan orang, tidak pernah barang yang tidak halal."

Satu-satu yang halal itu, membuka mulut terus menadah air hujan dari langit. Mau lewat wadah? Wadah dari mana? Wadah buatan China, berarti kamu membeli untuk menambah kekayaan orang nonmuslim.

"Ini pedagangnya nonmuslim, berarti labanya kan dibuat membangun gereja, haram. Berarti kan kamu memberi kontribusi."

Hayo contoh apa lagi? Sajadah? Buatan China juga. Baju? Kainnya buatan China. Kalau pengen halal ya minum air langsung yang jatuh dari langit tanpa wadah. Konsumsi itu saja, jangan yang lainnya.
halaman ke-1
cover top ayah
هُوَ الَّذِىۡۤ اَنۡزَلَ عَلَيۡكَ الۡكِتٰبَ مِنۡهُ اٰيٰتٌ مُّحۡكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الۡكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ‌ؕ فَاَمَّا الَّذِيۡنَ فِىۡ قُلُوۡبِهِمۡ زَيۡغٌ فَيَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَهَ مِنۡهُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَةِ وَابۡتِغَآءَ تَاۡوِيۡلِهٖۚ وَمَا يَعۡلَمُ تَاۡوِيۡلَهٗۤ اِلَّا اللّٰهُ ؔ‌ۘ وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِى الۡعِلۡمِ يَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا ‌ۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ
Allah-lah yang menurunkan Al-Qur'an kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat (ayat yang mudah dipahami), itulah pokok-pokok Al-Qur'an dan yang lain mutasyabihat (ayat yang hanya Allah yang mengetahui maksudnya). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepada Al-Qur'an, semuanya dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.

(QS. Ali 'Imran:7)
cover bottom ayah
preload video