Adab dan Waktu yang Tepat Kala Memberi Nasehat
Rabu, 23 Juni 2021 - 14:28 WIB
loading...
A
A
A
“Terkadang sebagian orang tidak bisa menerima nasehat pada suatu waktu, namun pada waktu yang lain, dia siap menerimanya. Maka hendaknya seorang mukmin dan mukminah memperhatikan waktu yang tepat ketika melaksanakan Amar Makruf Nahi Mungkar. Dan tidak cepat berputus asa jika tidak diterima nasehatnya hari ini, karena bisa jadi hari esok diterima”. (Majmu Fatawa Ibnu Baz 51/4)
Baca juga: Ketum Parpol Mesti Bersuara Lantang Soal Presiden Tiga Periode, Jangan Diam Saja
Selain waktu yang tepat, adab juga harus diperhatikan. Untuk itu, ketika seorang muslim hendak memberikan nasehat hendaklah memperhatikan adab-adabnya karena adab tersebut sangat menentukan diterima atau tidaknya nasehat yang disampaikan tersebut. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut beberapa adab dalam memberi nasehat yang perlu kita pahami dan lakukan:
1. Niat untuk memperbaiki, bukan untuk pamer diri
“Sesungguhnya setiap amal itu bergantung kepada niatnya dan sesungguhnya setiap orang itu hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari Muslim)
Jangan pernah memberi nasehat dengan niat memperbaiki saudara seiman, atau dengan niat ‘memperlihatkan diri’ sebagai yang lebih benar, lebih shaleh, dan lebih berilmu. Apalagi merasa diri lebih baik dari teman atau saudara kita. Karena akan berpengaruh pada pilihan kata yang akan kita gunakan dalam memberi nasihat, tentu saja tidak ada manusia yang nyaman jika diberi nasehat dalam posisi salah-benar.
Berilah nasehat dengan memposisikan diri sama-sama masih perlu belajar, in syaa Allah nasehat yang kita berikan akan lebih efektif.
Baca juga: Pemerintah Bolehkan Salat Idul Adha Berjamaah, Syaratnya Begini
2. Memberi nasehat cukup empat mata saja
Banyak orang keliru dalam memberi nasehat, yakni melakukannya di hadapan orang lain, padahal sebaik-baik nasehat adalah yang dilakukan cukup empat mata tanpa sepengetahuan siapa pun, bahkan kalau perlu diberitahukan secara rahasia, baik waktu maupun tempatnya:
3. Sampaikan dengan kata-kata lembut dan cara terbaik
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaklah berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Berteriak, memaki, merendahkan, atau memaksa bukanlah termasuk nasehat meskipun dimaksudkan untuk kebaikan. Bahkan ketika Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk menasehati Fir’aun yang sombong dan berbuat kerusakan besar sekalipun, Ia meminta keduanya berkata lembut pada pemimpin congkak tersebut.
Baca juga: Ketum Parpol Mesti Bersuara Lantang Soal Presiden Tiga Periode, Jangan Diam Saja
Selain waktu yang tepat, adab juga harus diperhatikan. Untuk itu, ketika seorang muslim hendak memberikan nasehat hendaklah memperhatikan adab-adabnya karena adab tersebut sangat menentukan diterima atau tidaknya nasehat yang disampaikan tersebut. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut beberapa adab dalam memberi nasehat yang perlu kita pahami dan lakukan:
1. Niat untuk memperbaiki, bukan untuk pamer diri
“Sesungguhnya setiap amal itu bergantung kepada niatnya dan sesungguhnya setiap orang itu hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari Muslim)
Jangan pernah memberi nasehat dengan niat memperbaiki saudara seiman, atau dengan niat ‘memperlihatkan diri’ sebagai yang lebih benar, lebih shaleh, dan lebih berilmu. Apalagi merasa diri lebih baik dari teman atau saudara kita. Karena akan berpengaruh pada pilihan kata yang akan kita gunakan dalam memberi nasihat, tentu saja tidak ada manusia yang nyaman jika diberi nasehat dalam posisi salah-benar.
Berilah nasehat dengan memposisikan diri sama-sama masih perlu belajar, in syaa Allah nasehat yang kita berikan akan lebih efektif.
Baca juga: Pemerintah Bolehkan Salat Idul Adha Berjamaah, Syaratnya Begini
2. Memberi nasehat cukup empat mata saja
Banyak orang keliru dalam memberi nasehat, yakni melakukannya di hadapan orang lain, padahal sebaik-baik nasehat adalah yang dilakukan cukup empat mata tanpa sepengetahuan siapa pun, bahkan kalau perlu diberitahukan secara rahasia, baik waktu maupun tempatnya:
3. Sampaikan dengan kata-kata lembut dan cara terbaik
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaklah berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Berteriak, memaki, merendahkan, atau memaksa bukanlah termasuk nasehat meskipun dimaksudkan untuk kebaikan. Bahkan ketika Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk menasehati Fir’aun yang sombong dan berbuat kerusakan besar sekalipun, Ia meminta keduanya berkata lembut pada pemimpin congkak tersebut.
Lihat Juga :