Inilah Sikap Terbaik Ketika Dighibahi atau Dizalimi
Sabtu, 03 Juli 2021 - 10:19 WIB
loading...
ilustrasi. Foto istimewa
A
A
A
Ketika kita mendapat perlakukan tidak baik, dighibahi atau dizalimi orang lain, pasti kita merasa sakit hati dan marah . Ada perasaan dendam dan ingin membalasnya bukan? Tapi, ternyata sikap yang baik ketika kita dizalimi adalah istighfar dan melakukan muhasabah.
Baca juga: Memilih Cantik Dunia dan Akhirat
Bahkan, Imam An-Nawawi rahimahullah ketika mendapatkan perlakuan yang tidak baik atau dizalimi oleh orang lain, maka dilakukan beliau justru menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa demikian? Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri hafizhahullah dalam laman instagram mengatakan, mental yang ditunjukkan Imam An-Nawai bukan mental menyalahkan orang lain, melainkan mental mulia, yaitu "istighfar" dan "muhasabah."
Seperti, "Dosaku apa nih? Khilafku apa nih? Maksiatku apa nih? (sehingga orang lain menzalimiku)."
Baca juga: Shalawat Munjiyat, Keutamaan Shalawat Penyelemat
Karena itu, lanjut Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, hendaknya pula kita berterima kasih kepada orang yang telah menzalimi kita. "Karena kalau mindset kita akhirat, mau kita dicurangi, dicaci-maki, dighibahi, difitnahi atau dizalimi orang-orang, maka kita akan senang riang gembira,"paparnya.
Kok malah senang? Kenapa gak marah? Kenapa harus marah? Bukankah orang yang menzalimi kita itu akan men-transfer pahalanya pada hari kiamat? Kok dikasih pahala, marah?
Baca juga: Inilah Nestapa Manusia di Padang Mahsyar
Mengucapkan Kata Buruk Ketika Dizalimi?
Selain itu, orang yang dizalimi dianjurkan untuk bersabar dalam agama meski sesungguhnya diperbolehkan baginya mengucapkan ucapan buruk.
Allah Ta'ala berfirman :
لَا يُحِبُّ اللّٰهُ الۡجَــهۡرَ بِالسُّوۡٓءِ مِنَ الۡقَوۡلِ اِلَّا مَنۡ ظُلِمَؕ وَكَانَ اللّٰهُ سَمِيۡعًا عَلِيۡمًا
“La yuhibbullahul-jahra bissu-i minal-qauli illa man zhulima. Wa kanallahu sami’an aliman,”.
Baca juga: Memilih Cantik Dunia dan Akhirat
Bahkan, Imam An-Nawawi rahimahullah ketika mendapatkan perlakuan yang tidak baik atau dizalimi oleh orang lain, maka dilakukan beliau justru menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa demikian? Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri hafizhahullah dalam laman instagram mengatakan, mental yang ditunjukkan Imam An-Nawai bukan mental menyalahkan orang lain, melainkan mental mulia, yaitu "istighfar" dan "muhasabah."
Seperti, "Dosaku apa nih? Khilafku apa nih? Maksiatku apa nih? (sehingga orang lain menzalimiku)."
Baca juga: Shalawat Munjiyat, Keutamaan Shalawat Penyelemat
Karena itu, lanjut Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, hendaknya pula kita berterima kasih kepada orang yang telah menzalimi kita. "Karena kalau mindset kita akhirat, mau kita dicurangi, dicaci-maki, dighibahi, difitnahi atau dizalimi orang-orang, maka kita akan senang riang gembira,"paparnya.
Kok malah senang? Kenapa gak marah? Kenapa harus marah? Bukankah orang yang menzalimi kita itu akan men-transfer pahalanya pada hari kiamat? Kok dikasih pahala, marah?
Baca juga: Inilah Nestapa Manusia di Padang Mahsyar
Mengucapkan Kata Buruk Ketika Dizalimi?
Selain itu, orang yang dizalimi dianjurkan untuk bersabar dalam agama meski sesungguhnya diperbolehkan baginya mengucapkan ucapan buruk.
Allah Ta'ala berfirman :
لَا يُحِبُّ اللّٰهُ الۡجَــهۡرَ بِالسُّوۡٓءِ مِنَ الۡقَوۡلِ اِلَّا مَنۡ ظُلِمَؕ وَكَانَ اللّٰهُ سَمِيۡعًا عَلِيۡمًا
“La yuhibbullahul-jahra bissu-i minal-qauli illa man zhulima. Wa kanallahu sami’an aliman,”.
Lihat Juga :