Ramadhan di Saat Wabah Corona, Puasa atau Tidak?
Selasa, 21 April 2020 - 06:21 WIB
loading...
A
A
A
Dalam banyak kesaksian dinyatakan, seseorang sembuh setelah menjalani terapi puasa. Pantas jika Nabi berpesan bahwa puasa akan menyehatkan tubuh. Selaras dengan itu, kaidah medical Quran, yaitu berdasarkan ayat-ayat yang berkitan secara medis, puasa adalah satu-satunya cara untuk melakukan perbaikan nafs sebagai sel genetik. Padahal nafs dalam konsepsi Alquran adalah penentu timbulnya sakit dan kematian.
Faedah puasa bagi kesehatan tubuh tersebut dapat dicapai apabila dilaksanakan dengan cara yang benar, sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Dalam hal puasa, hukum Islam tidak hanya mengatur waktu dan tata cara berpuasa, tetapi juga berhubungan langsung dengan perihal kaidah makanan dan minuman, meliputi kaidah kehalalan, kethoyiban dan tidak berlebih-lebihan.
Tiga kaidah itu bersifat equal, artinya kaidah tidak thoyib itu sama dengan tidak halal, dan sama dengan berlebih-lebihan. Atau sebaliknya berlebih-lebihan itu sama dengan haram, sama dengan tidak thoyib, demikian seterusnya.
Dalam hal halal dan thoyyib, rata-rata telah dipahami dan dijalankan dengan baik. Namun aspek berlebih-lebihan sering kali telah merusak amalan puasa dan justeru menimbulkan gangguan penyakit dan mudah sakit. Karena itu perlu diperhatikan untuk tetap menjalankan berbagai sunah sebagaimana dicontohkan Rasulullah.
Jangan lupa tetap makan sahur, dan buka di awal waktu. Sebaiknya tidak minum es dan minuman terlalu dingin, karena akan menganggu sistem pencernakan yang seharian kondisinya panas dan kosong. Minum es sama buruknya dengan makanan dan minuman yang terlalu pedas dan panas.
Hindarilah makan mengandung pengawet, perasa dan pewarna buatan, mengurangi gula dan minuman manis, menghindari gula sintetik, jika terpaksa ingin rasa manis gantilah dengan madu. Konsumsi manis hanya cocok dengan memperbanyak makan buah-buahan. Serta wajarlah selagi makan dan minum, jangan sampai kekenyangan.
Lebih dari itu, perintah puasa yang serangkai dengan kalimat, kama kutiba 'alaladzina min qoblikum tidak hanya sebagai perintah penting tertulis, yang juga diwajibkan atas orang-orang beriman sebelumnya, tetapi terdapat iktibar yang sangat penting. Bahwa dengan puasa itu, orang-orang beriman terdahulu, para Nabi dan pengikut-pengikutnya, diselamatkan dari segala wabah dan mara bahaya, serta diturunkan mukjizat sebagai pertolongan langsung dari Allah SWT. Dan boleh jadi puasa adalah cara, agar kaum beriman terlindung dari wabah penyakit, dan terhindar dari musnahnya manusia dari muka bumi.
Dengan alasan-alasan dan manfaat yang sangat dahsyat tersebut, serta dalam menghadapi wabah COVID-19, maka disarankan kaum muslimin untuk tidak meninggalkan puasa Ramadhan. Dan semoga kita diberikan kekuatan untuk menjalankan puasa Ramadhan sebulan penuh, dengan limpahan kesehatan, terhindar dari segala wabah penyakit, serta penuh keberkahan.
Aamiin ya Robbal alamin.
*Penulis adalah Holistic Healing Consulting, Expert and Inventor Medical Quran, tinggal di Bogor, Indonesia.
Faedah puasa bagi kesehatan tubuh tersebut dapat dicapai apabila dilaksanakan dengan cara yang benar, sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Dalam hal puasa, hukum Islam tidak hanya mengatur waktu dan tata cara berpuasa, tetapi juga berhubungan langsung dengan perihal kaidah makanan dan minuman, meliputi kaidah kehalalan, kethoyiban dan tidak berlebih-lebihan.
Tiga kaidah itu bersifat equal, artinya kaidah tidak thoyib itu sama dengan tidak halal, dan sama dengan berlebih-lebihan. Atau sebaliknya berlebih-lebihan itu sama dengan haram, sama dengan tidak thoyib, demikian seterusnya.
Dalam hal halal dan thoyyib, rata-rata telah dipahami dan dijalankan dengan baik. Namun aspek berlebih-lebihan sering kali telah merusak amalan puasa dan justeru menimbulkan gangguan penyakit dan mudah sakit. Karena itu perlu diperhatikan untuk tetap menjalankan berbagai sunah sebagaimana dicontohkan Rasulullah.
Jangan lupa tetap makan sahur, dan buka di awal waktu. Sebaiknya tidak minum es dan minuman terlalu dingin, karena akan menganggu sistem pencernakan yang seharian kondisinya panas dan kosong. Minum es sama buruknya dengan makanan dan minuman yang terlalu pedas dan panas.
Hindarilah makan mengandung pengawet, perasa dan pewarna buatan, mengurangi gula dan minuman manis, menghindari gula sintetik, jika terpaksa ingin rasa manis gantilah dengan madu. Konsumsi manis hanya cocok dengan memperbanyak makan buah-buahan. Serta wajarlah selagi makan dan minum, jangan sampai kekenyangan.
Lebih dari itu, perintah puasa yang serangkai dengan kalimat, kama kutiba 'alaladzina min qoblikum tidak hanya sebagai perintah penting tertulis, yang juga diwajibkan atas orang-orang beriman sebelumnya, tetapi terdapat iktibar yang sangat penting. Bahwa dengan puasa itu, orang-orang beriman terdahulu, para Nabi dan pengikut-pengikutnya, diselamatkan dari segala wabah dan mara bahaya, serta diturunkan mukjizat sebagai pertolongan langsung dari Allah SWT. Dan boleh jadi puasa adalah cara, agar kaum beriman terlindung dari wabah penyakit, dan terhindar dari musnahnya manusia dari muka bumi.
Dengan alasan-alasan dan manfaat yang sangat dahsyat tersebut, serta dalam menghadapi wabah COVID-19, maka disarankan kaum muslimin untuk tidak meninggalkan puasa Ramadhan. Dan semoga kita diberikan kekuatan untuk menjalankan puasa Ramadhan sebulan penuh, dengan limpahan kesehatan, terhindar dari segala wabah penyakit, serta penuh keberkahan.
Aamiin ya Robbal alamin.
*Penulis adalah Holistic Healing Consulting, Expert and Inventor Medical Quran, tinggal di Bogor, Indonesia.
(mhy)
Lihat Juga :