Nabi Muhammad Tidak Anti kepada Non-Muslim (Bagian 1)
Senin, 26 Juli 2021 - 07:30 WIB
loading...
Ustaz Ahmad Zarkasih Lc MA, Dai yang juga pengajar Rumah Fiqih Indonesia. Foto/dok RFI
A
A
A
Ustaz Ahmad Zarkasih Lc MA
Pengajar Rumah Fiqih Indonesia
Kaidah bertetangga itu sama di semua Negara dan bangsa, bahwa orang yang baik terhadap tetangga, murah senyum, suka menyapa, rajin berbagi pasti mendapat kebaikan pula dari orang di sekelilingnya.
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah teladan terbaik dalam bergaul baik dengan tetangga maupun dengan non-muslim. Nabi memperlakukannya dengan baik. Bukti nyata banyak kita dapati dalam kitab-kitab hadits bahwa Nabi mendapat kebaikan dari tetangganya, bahkan yang non-muslim.
Baca Juga: Masya Allah, Anak ini Gambarkan Fisik Nabi Muhammad Secara Detail
Nabi Diundang Makan oleh Yahudi
Dalam riwayat Imam Ahmad bin Hanbal dalam musnad-nya, dari sahabat Anas bin Malik, beliau menceritakan bahwa Nabi pernah diundang oleh orang Yahudi untuk makan, dan Nabi memenuhi undangan tersebut.
عن أَنَسٍ أَنَّ يَهُودِيًّا دَعَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى خُبْزِ شَعِيرٍ وَإِهَالَةٍ سَنِخَةٍ فَأَجَابَهُ
"Dari Anas bin Malik, seorang Yahudi mengundang Nabi untuk bersantap roti gandum dengan acara hangat, dan Nabi pun memenuhi undangan tersebut." (HR Imam Ahmad)
Ini salah satu bukti bahwa memang Nabi adalah tetangga yang baik bagi tetangga lainnya. Sampai-sampai, orang non-muslim yang tidak seakidah dengan Nabi mau mengundang Nabi untuk makan di rumahnya. Dan ini tidak mungkin terjadi jika Nabi memperlakukan tetangganya dengan buruk, kurang bergaul, ogah menyapa.
Undangan ini jelas memberitahukan kita bahwa Nabi itu orang yang baik kepada semuanya, termasuk non-muslim. Beliau sama sekali tidak anti kepada non-muslim apalagi memusuhinya. Bukankah Nabi itu diutus untuk kebaikan semua makhluk?
Berwudhu dengan Air dan Bejana Orang Musyrik
Bukan hanya itu, dalam riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim pun disebutkan:
Pengajar Rumah Fiqih Indonesia
Kaidah bertetangga itu sama di semua Negara dan bangsa, bahwa orang yang baik terhadap tetangga, murah senyum, suka menyapa, rajin berbagi pasti mendapat kebaikan pula dari orang di sekelilingnya.
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah teladan terbaik dalam bergaul baik dengan tetangga maupun dengan non-muslim. Nabi memperlakukannya dengan baik. Bukti nyata banyak kita dapati dalam kitab-kitab hadits bahwa Nabi mendapat kebaikan dari tetangganya, bahkan yang non-muslim.
Baca Juga: Masya Allah, Anak ini Gambarkan Fisik Nabi Muhammad Secara Detail
Nabi Diundang Makan oleh Yahudi
Dalam riwayat Imam Ahmad bin Hanbal dalam musnad-nya, dari sahabat Anas bin Malik, beliau menceritakan bahwa Nabi pernah diundang oleh orang Yahudi untuk makan, dan Nabi memenuhi undangan tersebut.
عن أَنَسٍ أَنَّ يَهُودِيًّا دَعَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى خُبْزِ شَعِيرٍ وَإِهَالَةٍ سَنِخَةٍ فَأَجَابَهُ
"Dari Anas bin Malik, seorang Yahudi mengundang Nabi untuk bersantap roti gandum dengan acara hangat, dan Nabi pun memenuhi undangan tersebut." (HR Imam Ahmad)
Ini salah satu bukti bahwa memang Nabi adalah tetangga yang baik bagi tetangga lainnya. Sampai-sampai, orang non-muslim yang tidak seakidah dengan Nabi mau mengundang Nabi untuk makan di rumahnya. Dan ini tidak mungkin terjadi jika Nabi memperlakukan tetangganya dengan buruk, kurang bergaul, ogah menyapa.
Undangan ini jelas memberitahukan kita bahwa Nabi itu orang yang baik kepada semuanya, termasuk non-muslim. Beliau sama sekali tidak anti kepada non-muslim apalagi memusuhinya. Bukankah Nabi itu diutus untuk kebaikan semua makhluk?
Berwudhu dengan Air dan Bejana Orang Musyrik
Bukan hanya itu, dalam riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim pun disebutkan:
Lihat Juga :