Hati-hati Belajar Tanpa Guru, Imamnya Bisa Setan
Senin, 13 September 2021 - 17:20 WIB
loading...
Bahaya belajar ilmu agama tanpa guru dapat menyebabkan pemahaman yg keliru. Foto/dok tanyajawabfikih
A
A
A
Menuntut ilmu wajib hukumnya bagi setiap muslim dan muslimah sejak dari ayunan hingga liang lahat. Demikian pesan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik.
Dalam hadis lain diterangkan: "Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan menuju surga." Keutamaan penuntut ilmu (tholabul 'ilm) ini juga mendapat ganjaran mulia dari Allah. "Sesungguhnya para Malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi pencari ilmu karena senang dengan apa yang dilakukannya."
Pertanyaannya, bagaimana jika menuntut ilmu tanpa guru? Di zaman daring (dalam jaringan) saat ini banyak kita temui orang-orang berlajar sendiri tanpa guru. Bahkan, baru sedikit membaca buku dan belajar lewat Youtube, sudah berani berbicara di depan publik menjelaskan tentang hukum yang sesuai pemahamannya. Bukan dari pemahaman ilmu yang dipelajarinya dari guru-gurunya (sanad).
Habib Quraisy Baharun dalam satu tausiyahnya mengingatkan agar ilmu agama dipelajari dengan berguru, agar tidak salah paham atau pemahamannya salah.
"Sering kita dengar ungkapan, barangsiapa yang belajar tanpa guru, maka setan adalah gurunya. Kalimat ini banyak ditemukan dalam kitab-kitab tasawuf dan tarekat. Ini disebabkan karena Ilmu Syari’at seperti ilmu Fiqih, Tauhid, ilmu tasawuf dan tarekat adalah ilmu yang mengajarkan cara-cara dan kaidah-kaidah seorang hamba berhubungan dengan Allah," terang Dai lulusan Hadhramaut Yaman ini.
Kalimat ini diungkapkan oleh ulama tasawuf Imam Abu Yazid Al-Busthami (wafat 874 M):
مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ أُسْتَاذٌ فَإِمَامُهُ الشَّيْطَانُ
"Barang siapa yang tidak mempunyai guru, maka imamnya adalah setan."
Sementara redaksi lain ditemukan dalam Tafsir Ruh Al-Bayan, karya Isma’il Haqqi Al-Hanafi (wafat 1715 M):
مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَيْخٌ فَشَيْخُهُ الشَّيْطَانُ
Dalam hadis lain diterangkan: "Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan menuju surga." Keutamaan penuntut ilmu (tholabul 'ilm) ini juga mendapat ganjaran mulia dari Allah. "Sesungguhnya para Malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi pencari ilmu karena senang dengan apa yang dilakukannya."
Pertanyaannya, bagaimana jika menuntut ilmu tanpa guru? Di zaman daring (dalam jaringan) saat ini banyak kita temui orang-orang berlajar sendiri tanpa guru. Bahkan, baru sedikit membaca buku dan belajar lewat Youtube, sudah berani berbicara di depan publik menjelaskan tentang hukum yang sesuai pemahamannya. Bukan dari pemahaman ilmu yang dipelajarinya dari guru-gurunya (sanad).
Habib Quraisy Baharun dalam satu tausiyahnya mengingatkan agar ilmu agama dipelajari dengan berguru, agar tidak salah paham atau pemahamannya salah.
"Sering kita dengar ungkapan, barangsiapa yang belajar tanpa guru, maka setan adalah gurunya. Kalimat ini banyak ditemukan dalam kitab-kitab tasawuf dan tarekat. Ini disebabkan karena Ilmu Syari’at seperti ilmu Fiqih, Tauhid, ilmu tasawuf dan tarekat adalah ilmu yang mengajarkan cara-cara dan kaidah-kaidah seorang hamba berhubungan dengan Allah," terang Dai lulusan Hadhramaut Yaman ini.
Kalimat ini diungkapkan oleh ulama tasawuf Imam Abu Yazid Al-Busthami (wafat 874 M):
مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ أُسْتَاذٌ فَإِمَامُهُ الشَّيْطَانُ
"Barang siapa yang tidak mempunyai guru, maka imamnya adalah setan."
Sementara redaksi lain ditemukan dalam Tafsir Ruh Al-Bayan, karya Isma’il Haqqi Al-Hanafi (wafat 1715 M):
مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَيْخٌ فَشَيْخُهُ الشَّيْطَانُ
Lihat Juga :